Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POETRY AS SOCIAL CRITISM DURING THE GUIDED DEMOCRACY ERA IN INDONESIA 1959-1966: Puisi sebagai Kritik Sosial pada Masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia 1959-1966 Sayfullah, Muhammad Zaki; Muzakki Bashori
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 9 No 5 (2025): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v9i5.5872

Abstract

This study examines the role of poetry as a medium of social criticism during the Guided Democracy Period in Indonesia from 1959 to 1966. Amidst political instability, authoritarian governance under President Soekarno, and widespread sosial inequality, poetry emerged as a tool for resistance and public conscience. The research aims to explore how Indonesian poets employed literary expression to critique oppressive power structures and advocate for the marginalized. Using the historical research method, this study analyzes primary sources, including poems written by Agam Wispi, S. Anantaguna, Goenawan Mohamad, and Taufiq Ismail, along with historical documents and secondary literature. The findings reveal the poets affiliated with different ideological groups, such as Lekra and Manikebu, produced diverse yet convergent forms of social criticism through their works. These poems address themes of land injustice, political cencorship, and social disparity. The study highlights poetry not only as an artistic expression but also as a historical document that captures the zeitgeist of a politically turbulent era. The novelty of this research lies in its interdisciplinary approach, combining literary analysis with historiography to offer a broader understanding of poetry as both cultural artifact and historical resistance. This underscores the relevance of literature as a powerful tool for political expression and social advocacy in Indonesia’s democratic history.
Perkembangan Wayang Orang Ngesti Pandowo sebagai Warisan Budaya Takbenda Herlina Putri Khawismaya; Mohammad Ridwan Pardiyanto; Alfira Apriyanti; Arya Permana Wisanggeni; Muhammad Syahril Agil; Sellyna Putri Sabila; Muzakki Bashori
Bahasa Indonesia Vol 2 No 2 (2024): JUNI
Publisher : AWATARA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61434/manifesto.v2i2.184

Abstract

Artikel ini mengkaji upaya pelestarian Wayang Orang Ngesti Pandowo di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi yang menyebabkan berkurangnya minat masyarakat terhadap budaya tradisional. Meskipun telah berdiri sejak 1937 dan mengalami masa kejayaan, Ngesti Pandowo menghadapi penurunan penonton dan kesulitan keuangan, terutama setelah berpindah dari gedung GRIS ke TBRS. Penelitian ini menggunakan metode campuran, melibatkan wawancara, observasi, dan kuesioner terhadap mahasiswa, menunjukkan bahwa meskipun terdapat persaingan dengan hiburan modern, kesadaran dan kepedulian untuk melestarikan wayang orang tetap tinggi di kalangan generasi muda. Pentingnya pelestarian ini ditegaskan oleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2022. Upaya inovatif, termasuk penggunaan media sosial dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan, diharapkan dapat membantu mempertahankan dan mempromosikan Ngesti Pandowo sebagai bagian integral dari kebudayaan Indonesia.