Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan masih lemahnya perilaku dan budaya keselamatan berkendara di wilayah ini. Sepeda motor sebagai moda transportasi utama masyarakat DIY, meskipun memberikan kemudahan mobilitas, juga menjadi kontributor terbesar kecelakaan, dengan persentase keterlibatan mencapai lebih dari 60%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor perilaku, keterampilan teknis, infrastruktur, dan budaya berkendara masyarakat DIY yang memengaruhi tingkat keselamatan lalu lintas, serta menawarkan rekomendasi berbasis pendekatan keselamatan dan manajemen sumber daya manusia. Kajian ini menggunakan metode kajian literatur deskriptif kualitatif dengan menganalisis data sekunder dari Badan Pusat Statistik DIY, studi akademik nasional dan internasional (2020–2024), serta laporan instansi terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa perilaku tidak tertib, seperti tidak menggunakan helm, melanggar rambu lalu lintas, serta penggunaan ponsel saat berkendara, masih dominan di DIY. Selain itu, rendahnya penguasaan teknik berkendara aman dan keterbatasan infrastruktur, terutama di wilayah pinggiran dan jalur wisata, meningkatkan risiko kecelakaan. Budaya keselamatan berkendara yang sebelumnya mengedepankan kesantunan dan toleransi mulai tergerus akibat modernisasi. Oleh karena itu, peningkatan keselamatan lalu lintas di DIY memerlukan strategi terpadu, mencakup edukasi keselamatan, pelatihan keterampilan teknis, perbaikan infrastruktur, penguatan penegakan hukum, serta revitalisasi budaya berkendara berbasis nilai lokal. Temuan ini diharapkan menjadi dasar dalam perumusan kebijakan keselamatan lalu lintas yang lebih efektif dan kontekstual di wilayah DIY.