Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendekatan Konseling Dalam Mengurangi Stres Akademik Mahasiswa Aziz, Muhammad Irfan; Amarta, Dini Belia; Anggraini, Syifa Diah Ayu; Mar`atus, Anggun Muti`ah
Jurnal Al-Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol 6, No 2 (2024): AL-IRSYAD: JURNAL BIMBINGAN KONSELING ISLAM
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/bki.v6i2.14042

Abstract

Stres akademik merupakan salah satu tantangan besar yang dihadapi mahasiswa, terutama pada masa awal perkuliahan. Stres ini muncul akibat proses penyesuaian terhadap tuntutan akademik yang kompleks, seperti beban tugas yang berat, tekanan untuk berprestasi, dan adaptasi terhadap lingkungan belajar yang baru. Penelitian ini menyoroti efektivitas metode konseling individual dalam mengurangi stres akademik di kalangan mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Pendekatan konseling individual memungkinkan mahasiswa untuk secara langsung mengungkapkan emosi, pengalaman, dan kesulitan yang mereka hadapi kepada konselor. Dalam proses ini, konselor berperan memberikan dukungan, arahan, serta solusi yang relevan untuk membantu mahasiswa menghadapi stres mereka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan wawancara sebagai teknik utama untuk menggali pengalaman mahasiswa yang mengalami stres akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling individual efektif dalam membantu mahasiswa mengidentifikasi sumber utama stres mereka, mengelola emosi dengan lebih baik, dan mengembangkan strategi yang konstruktif untuk menangani tantangan akademik. Selain itu, pendekatan berbasis empati, seperti layanan konseling sebaya, terbukti memberikan dampak positif dengan menciptakan lingkungan dukungan yang inklusif dan saling memahami. Pendekatan ini tidak hanya membantu mahasiswa merasa didengar tetapi juga memberi mereka ruang untuk mengeksplorasi solusi kreatif terhadap permasalahan akademik. Dengan demikian, konseling individual dan pendekatan berbasis empati menjadi metode yang relevan untuk mengatasi stres akademik secara efektif, sekaligus mendorong kesejahteraan psikologis mahasiswa.
KIP-K Scholarship Eligibility for Economically Established Students: Perspectives of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama Figures Qomariyah, Nurul; Putri, Eka Desiana; Aziz, Muhammad Irfan; Musafa'ah, Suqiyah
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v6i1.3171

Abstract

The Indonesia Smart College Card Scholarship (KIP-K) is an assistance program organized by the government with the aim of easing the burden of education costs for students from underprivileged families. However, in practice, many underprivileged students receive KIP-K scholarships. This study examines in depth the comparative analysis of the views of NU and Muhammadiyah figures regarding the provision of KIP scholarships to underprivileged students. This type of research is a normative-empirical law with a descriptive-comparative approach. Data was obtained through literature studies and in-depth interviews with figures from Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama. The data were analyzed comparatively. The results of the study show a difference in approach between Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU) figures regarding the ethics of the utilization of scholarship, especially the KIP-K program. Muhammadiyah leaders tend to emphasize a normative, procedural approach grounded in maqāṣid al-syarī'ah, particularly the principles of ḥifẓ al-'aql (safeguarding reason) and ḥifẓ al-māl (safeguarding property). Meanwhile, NU figures highlight aspects of social ethics and pesantren values, such as honesty, trust, and social responsibility. The similarity between the two lies in the understanding that scholarship is a mandate that must be used honestly and on target, and that any deviation is a violation of Islamic law. Both Muhammadiyah and NU leaders view the act of receiving scholarships illegally as a form of deprivation of rights that are not justified by morality and Islamic law.