Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Gangguan Kesehatan Mental Dalam Film Sampai Nanti Hanna Satria Radiansyah; Rindana Intan Emeilia; Siti Qona’ah
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mental health is an important aspect that is often poorly understood by society. This disorder can affect a person's emotions, thought patterns and behavior, and negatively impact social relationships and well-being. Lack of awareness causes sufferers to feel isolated without support. Film as a mass communication medium plays a role in conveying social problems emotionally and persuasively. This research analyzes the representation of mental health disorders in the film Until Later Hanna using Charles Sanders Peirce's semiotic theory. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques in the form of observation, documentation and literature study. The results of the research show that this film represents representation through visual symbols, facial expressions, dim light, expressions of sadness, passive body gestures, Objects through emotional situations, stress, trauma, emotional pressure, Interpretants through Hanna's mental pressure due to verbal violence and unhealthy household relations. In addition, analysis of data (representamen), Objects and Interpretants from this film shows symptoms of mental disorders such as unhealthy emotions. stable, anxiety and inner stress. This film is an effective medium for building awareness and empathy for mental health problems. Keywords : Representation, Mental Health, Film, Semiotics, Peirce.   Abstrak Kesehatan mental merupakan aspek penting yang seringkali kurang dipahami oleh masyarakat. Gangguan ini dapat memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang, serta berdampak negatif pada hubungan sosial dan kesejahteraan. Kurangnya kesadaran menyebabkan penderita merasa terisolasi tanpa dukungan. Film sebagai media komunikasi massa berperan dalam menyampaikan permasalahan sosial secara emosional dan persuasif. Penelitian ini menganalisis representasi gangguan kesehatan mental dalam film Sampai Nanti Hanna menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan representamen melalui simbol visual, ekspresi wajah, cahaya remang, ekpresi kesedihan, gestur tubuh pasif, object melalui situasi emosional, stres, trauma, tekanan emosional, Interpretant melalui tekanan mental Hanna akibat kekerasan verbal dan relasi rumah tangga yang tidak sehat. Selain itu, analisis data (representamen), objek dan interpretan dari film ini menunjukkan gejala gangguan jiwa seperti emosi yang tidak stabil, kecemasan dan stres batin. Film ini menjadi media yang efektif untuk membangun kesadaran dan empati terhadap masalah kesehatan mental.
Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) Yayasan Wocare Indonesia Melalui Komunitas Indonesian Ostomy Association Bogor Ulis Onih Sekarwangi Kedaton; Rindana Intan Emeilia; Siti Qona’ah
Jurnal Public Relations (J-PR) Vol. 7 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jpr.v7i1.10008

Abstract

Setiap tahun, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 35 ribu pasien didiagnosis kanker kolorektal di Indonesia, dengan angka kematian mencapai 6,7 per 100 ribu kasus. Pada pasien dengan stadium lanjut, tindakan pemasangan stoma seringkali menjadi pilihan medis yang harus dilakukan. Namun, kondisi tersebut kerap menimbulkan penurunan kualitas hidup, baik dari aspek fisik maupun psikologis. Situasi ini membutuhkan dukungan dari komunitas yang mampu memberikan pendampingan, motivasi, serta akses informasi yang tepat bagi pasien. Penelitian ini bertujuan menggambarkan secara mendalam implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dijalankan oleh Yayasan Wocare Indonesia melalui komunitas Indonesian Ostomy Association Bogor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam praktiknya, Yayasan Wocare Indonesia menerapkan konsep Triple Bottom Line (Planet, People, Profit) secara menyeluruh pada kegiatan CSR komunitas. Selain itu, empat dimensi CSR menurut Carroll; Economic, Legal, Ethical, dan Philanthropic Responsibility juga terintegrasi dalam setiap program. Model pelaksanaan CSR yang digunakan adalah model yayasan atau organisasi sosial perusahaan serta kemitraan dengan pihak lain, melalui pendekatan Community Assistance dan Community Empowerment. Dengan demikian, CSR Yayasan Wocare Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai bentuk tanggung jawab sosial, tetapi juga menciptakan peluang, pemberdayaan, dan keberlanjutan bagi pasien serta komunitas.