Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Nilai Tambah Produk Olahan Kopi Robusta: (Studi Kasus: Agroindustri Kopi Wijaya, Jember) Viko Nurluthfiyadi Ni'maturrakhmat; Shinta Diah Puspaningtyas; Diana Nurhayati
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 3 No. 4 (2024): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/73sb2s66

Abstract

Agroindustri kopi Wijaya yang berlokasi di Kabupaten Jember merupakan salah satu unit usaha pengolahan kopi robusta skala UMKM, dimana menghasilkan tiga jenis produk olahan yaitu green bean, roasted bean, dan ground coffee. Ketiga produk memiliki karakteristik pasar dan biaya produksi yang berbeda, sehingga balas jasa yang diterima tenaga kerja maupun pemilik usaha pada tiap jenis produk olahan kopi juga tidak sama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya nilai tambah pada produk olahan kopi robusta di agroindustri kopi Wijaya sebagai dasar evaluasi dan pengambilan keputusan strategis bagi keberlanjutan usaha. Penelitian ini memberikan gambaran strategis bagi UMKM kopi dalam menentukan prioritas produk olahan untuk meningkatkan profitabilitas. Metode penelitian ini menggunakan analisis Hayami yaitu pendekatan kuantitatif untuk menghitung nilai tambah yang dihasilkan dari proses pengolahan dan pemasaran suatu produk, sekaligus menganalisis kontribusi faktor produksi seperti tenaga kerja, modal, biaya antara, serta besaran keuntungan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk green bean memiliki nilai tambah sebesar Rp 876/kg dengan rasio 8% yang tergolong rendah, sedangkan roast bean dan ground coffee masing-masing mencapai Rp 65,465/kg dan Rp 62,913/kg dengan rasio sekitar 50% (high value-added). Berdasarkan temuan penelitian, agroindustri kopi Wijaya masih memiliki potensi peningkatan profit salah satunya melalui peningkatan rendemen kopi seperti penerapan pemupukan yang tepat, panen selektif petik merah, dan melalui inovasi pengolahan seperti metode full washed. Dari sisi hilir, pemilik usaha dapat memperbanyak penjualan produk ground coffee dengan melakukan perbaikan branding produk untuk memperkuat posisi di pasar dan menarik konsumen.
Analisis Baseflow DAS SETAIL Menggunakan Metode Grafis (Baseflow Analysis of Setail Watershed Using Graphical Method) Mohamad Wawan Sujarwo; Gigik Nurbaskoro; Indarto Indarto; Audia Chairani; Diana nurhayati
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Manageme
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Teknisi Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia (APTKLHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/jppdas.2025.9.2.145-164

Abstract

Baseflow separation methods are widely applied in hydrological studies; however, they are rarely implementated in small- to medium-scale catchments in tropical monsoonal climates. Understanding baseflow dynamics in this area is essential for sustainable watershed management, especially under increasing hydrometeorological stress. This study evaluates the performance of three graphical HYSEP algorithms (Fixed Interval, Sliding Interval, and Local Minimum) applied to the Setail Watershed in Banyuwangi Regency, Indonesia. This area experiences recurrent downstream flooding and seasonal drought. Daily streamflow data from Automatic Water Level Recorders (AWLR) in Jambewangi (upstream) and Kradenan (downstream) were used as input. Calibration was performed using a trial-and-error approach in the BFI+ software to obtain the optimal parameters that best fit the observed and estimated baseflow. Model performance was assessed using coefficient of determination (R²), Root Mean Square Error (RMSE), and Flow Duration Curve (FDC) analysis. The Local Minimum algorithm demonstrated the highest R² value (up to 0.98) and the lowest RMSE (0.38) during both the calibration and validation periods, performing best overall. A high Baseflow Index (BFI) indicates that baseflow significantly contributes to total streamflow. This reflects the permeable characteristics of the watershed and its capacity to maintain discharge during the dry seasons. These findings confirm the applicability of the HYSEP method for tropical watersheds and emphasize the importance of local-scale calibration to improve model reliability and support adaptive water resource management under monsoonal climate variability.