Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan, kesehatan, dan proporsi pekerja informal terhadap produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data panel dari 34 provinsi selama periode 2015– 2024 dengan metode estimasi Feasible Generalized Least Squares (FGLS) untuk mengatasi permasalahan heteroskedastisitas dan autokorelasi yang terjadi pada data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dan kesehatan, sebagai komponen utama modal manusia, berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Peningkatan rata-rata lama sekolah penduduk mampu memperkuat kompetensi, keterampilan, serta efisiensi kerja, sementara perbaikan kondisi kesehatan masyarakat turut meningkatkan ketahanan fisik dan mental tenaga kerja sehingga mampu bekerja lebih produktif dan berkelanjutan. Sebaliknya, proporsi pekerja informal berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja, yang menandakan bahwa tingginya dominasi sektor informal dengan karakteristik rendahnya keterampilan, pendapatan, serta akses terhadap jaminan sosial masih menjadi hambatan struktural dalam peningkatan produktivitas nasional. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pembangunan yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengurangan tingkat informalitas dalam pasar kerja. Kebijakan yang diarahkan pada perluasan pendidikan vokasi, peningkatan akses dan mutu layanan kesehatan, serta transformasi sektor informal menuju sektor formal yang lebih produktif diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.