Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FUNCTIONAL FOOD SUPPORT GOVERNMENT POLICIES TO PREVENT STUNTING DARWATI SUSILASTUTI; ADITIAMERI ADITIAMERI; LULUK SUTJI MARHAENI
Proceeding International Conference Of Innovation Science, Technology, Education, Children And Health Vol. 1 No. 1 (2021): Proceeding of The International Conference of Inovation, Science, Technology, E
Publisher : Program Studi DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/icistech.v1i1.30

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem in children. The prevalence of stunting in Indonesia in 2019 is still high, namely 27.7%, still far from the WHO standard which should be below 20%. Stunting threatens the productivity of Indonesia's human resources. Overcoming it is part of an effort to protect children. The nutritional status of pregnant women and children under five is a central point in preventing stunting. The mother's knowledge about healthy food and a nutritious, diverse, balanced, and safe diet (B2SA) determines the nutritional intake of the family. This paper is intended to reveal local functional foods that have the potential to produce healthy, healthy food to prevent stunting in the community. This paper is prepared based on a Meta-Analysis of literature studies and community good practices. The incidence of stunting in Indonesia is not caused by food security, indicators of availability and accessibility, but rather by utilization. The utilization of local food diversity, both vegetable and animal, in Indonesia has the potential to be developed into functional food as healthy food to prevent stunting. It takes knowledge, technology, and assistance for the community to develop it.
FUNCTIONAL FOOD SUPPORT GOVERNMENT POLICIES TO PREVENT STUNTING DARWATI SUSILASTUTI; ADITIAMERI ADITIAMERI; LULUK SUTJI MARHAENI
Proceeding International Conference Of Innovation Science, Technology, Education, Children And Health Vol. 1 No. 1 (2021): Proceeding of The International Conference of Inovation, Science, Technology, E
Publisher : Program Studi DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/icistech.v1i1.30

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem in children. The prevalence of stunting in Indonesia in 2019 is still high, namely 27.7%, still far from the WHO standard which should be below 20%. Stunting threatens the productivity of Indonesia's human resources. Overcoming it is part of an effort to protect children. The nutritional status of pregnant women and children under five is a central point in preventing stunting. The mother's knowledge about healthy food and a nutritious, diverse, balanced, and safe diet (B2SA) determines the nutritional intake of the family. This paper is intended to reveal local functional foods that have the potential to produce healthy, healthy food to prevent stunting in the community. This paper is prepared based on a Meta-Analysis of literature studies and community good practices. The incidence of stunting in Indonesia is not caused by food security, indicators of availability and accessibility, but rather by utilization. The utilization of local food diversity, both vegetable and animal, in Indonesia has the potential to be developed into functional food as healthy food to prevent stunting. It takes knowledge, technology, and assistance for the community to develop it.
PENENGENDALIAN HAMA UTAMA PADA TANAMAN JARAK PAGAR ( Jatropha curcas L) DENGAN INSEKTISIDA NABATI (BUBUR CALIFORNIA) Luluk Sutji Marhaeni
Agrisia: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 10 No. 2 (2018): Agrisia
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jarak Pagar ( Jatropha Cukcas L) merupakan tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi karena bisa berfungsi sebagai tanaman obat dan biodesel. Serta memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap hama dan penyakit. Disebabkan pohonnya mengandung Kursin dan Fabol Ester diterpin yang bersifat Toksik terhadap serangan hama utama yang dominan adalah kepik lembing ( Chrysochoris Javanus) dan kutu bertepung putih ( Fekrissia Vergata), kedua hama ini sering ditemukan pada tanaman jarak pagar pada akhir musim hujan dan selain musim kemarau. Seluruh bagian tanaman dapat diserang seperti pucuk daun, bunga dan buah yang lebih berbahaya dia dapat sebagai vektor penyakit (Karmawati dan Balfas, 2008). Salah satu mengurangi hama tersebut dengan menggunakan pestisida yang ramah lingkungan yaitu bubuk california (dengan komposisi 1 kg belerang, 2 kg kapur Tohor di larutkan dalam 10 L air). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang di transformasikan ke ARC SIA VX dengan 5 perlakuan taraf dosis yaitu 3, 5, 10, 15 dan 20 Mg/L dengan 4 kali ulangan pengamatan dilakukan tiap hari selama 7 hari dari pada waktu yang sama, makanan di ganti dengan daun segar. Dari hasil peneltian dapat di lihat bahwa tingkat kematian kutu bertepung putih tertinggi pada sosis 10 ML/L pada hari ke 6 dan ke 7 sebesar 80 % dan 86 %, sedangkan kematian serangga kepik Lembeng tertinggi terjadi pada hari ke 6 dan 7 sebesar 97% dan 100% dengan dosis 15 ML/L.
POTENSI LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn) SEBAGAI OBAT DAN SUMBER PANGAN Luluk Sutji Marhaeni
Agrisia: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 13 No. 1 (2020): Agrisia
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Borobudur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia dikenal lebih dari 20.000 jenis tumbuhan obat, namun baru 1000 jenis tanaman telah terdata dan baru sekitar 300 jenis yang sudah dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional. Salah satu tanaman obat yang memiliki khasiat obat adalah lidah buaya. Banyaknya zat yang  terkandung di dalam lidah buaya, tanaman ini sering disebut sebagai tanaman ajaib. Daun lidah buaya mengandung cairan kuning (aloin) yang berlendir mencapai 30% (Duryatmo dan Raharjo, 1999). Hagen (2001) menambahkan bahwa daun lidah buaya mempunyai kandungan gizi yang sama dengan kandungan sayuran hijau lainnya. Secara kimia, lidah buaya terdiri dari 90% air, 4% karbohidrat dan sisanya terdiri atas mineral dan 17 macam asam amino (Kurnianingsih, 2004).Tanaman lidah buaya diketahui mempunyai banyak manfaat dan khasiat, seperti antiinflamasi, anti jamur, antibakteri, dan regenerasi sel. Di samping itu, berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah, dan menstimulasi kekebalan tubuh terhadap kanker. Manfaat lain dari lidah buaya yaitu sebagai shampo untuk membersihkan kulit kepala, melembabkan kulit, menghitamkan rambut, dan menghindari kerontokan rambut; Gel atau lendir lidah buaya bila diminum dapat melegakan tenggorokan, mengurangi dan batuk. Kata Kunci : Lidah Buaya, Obat, Sumber Pangan