Wanita usia subur (WUS) berusia 15–49 tahun merupakan sasaran utama program Keluarga Berencana (KB). Meskipun demikian, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) masih relatif rendah. Berdasarkan SDKI 2017, hanya 4% WUS yang menggunakan AKDR, jauh di bawah kontrasepsi suntik (32%) dan pil (14%). Di Kabupaten Bekasi, dari 470.064 WUS, hanya 6,3% yang memilih AKDR. Studi pendahuluan di TPMB Hj. Wiwin Wulandari menunjukkan bahwa 90% dari 20 responden lebih menyukai kontrasepsi suntik dibandingkan AKDR. Rendahnya minat tersebut menjadi dasar penting untuk menelaah faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan AKDR. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan rendahnya penggunaan AKDR pada WUS di TPMB Hj. Wiwin Wulandari, S.ST., M.Si. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 60 WUS yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner, dan data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia (p=0,028), paritas (p=0,048), pengetahuan (p=0,021), pendidikan (p=0,008), dan pekerjaan (p=0,000) dengan penggunaan AKDR. Disimpulkan bahwa faktor usia, paritas, pengetahuan, pendidikan, dan pekerjaan berpengaruh terhadap rendahnya pemilihan AKDR. Peran bidan dalam memberikan konseling serta dukungan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan minat WUS terhadap AKDR, sehingga program KB jangka panjang dapat berjalan lebih efektif.