Nuchri, Asni Amaliah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KRITIK NORMATIF DAN FENOMENOLOGIS TERHADAP PASAR TRADISIONAL SEBAGAI RUANG PUBLIK STUDI KASUS; PASAR BERSEHATI MANADO Nuchri, Asni Amaliah; Ramadhani, Nur Fitri
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7154

Abstract

Traditional markets are not merely places of trade but also living spaces where communities interact, share stories, and construct cultural identity. Revitalization programs are often implemented to provide a more modern appearance; however, in practice, many fail to fully address the actual needs of their users. This study focuses on the Bersehati Market in Manado as a case study to examine how government-led revitalization has affected the market’s function as a public space. Employing a qualitative approach, data were collected through field observations, semi-structured interviews with vendors, buyers, and architectural experts, as well as visual documentation. The analysis was conducted using normative criticism, which evaluates aspects of function, aesthetics, social ethics, culture, and sustainability, and phenomenological criticism, which emphasizes the multisensory experiences of users. The findings reveal that the revitalization successfully highlights local cultural identity through a Bentenan-patterned façade. Nevertheless, several critical issues remain unaddressed, including sanitation, circulation, and spatial comfort. From the users’ perspective, the market retains its vibrancy and colorful atmosphere, yet it often proves physically exhausting. Synthesizing the two approaches demonstrates a gap between the market’s modernized appearance and the lived spatial realities that remain problematic. This study underscores the importance of pursuing market revitalization that is not only visually appealing but also inclusive, sustainable, and responsive to the needs of the community. ABSTRAKPasar tradisional tidak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga ruang hidup tempat masyarakat berinteraksi, berbagi cerita, dan membangun identitas budaya. Revitalisasi pasar sering kali dilakukan untuk memberi wajah baru yang lebih modern, namun kenyataannya banyak yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nyata para penggunanya. Penelitian ini berfokus pada Pasar Bersehati Manado sebagai obyek studi kasus untuk melihat bagaimana revitalisasi yang dilakukan pemerintah setempat berdampak pada fungsi pasar sebagai ruang publik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pedagang, pembeli, pakar arsitektur, serta dokumentasi visual. Analisis dilakukan melalui kritik normatif yang mengkaji penilaian terhadap fungsi, estetika, etika sosial, budaya, dan keberlanjutan, serta kritik fenomenologis yang menekankan pengalaman multisensori pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi berhasil menampilkan identitas budaya lokal lewat fasad bermotif Bentenan. Namun, masih ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti persoalan sanitasi, sirkulasi, dan kenyamanan ruang yang belum terpenuhi. Dari pengalaman pengguna, pasar tetap terasa hidup dan penuh warna, tetapi sering kali melelahkan secara fisik. Sintesis kedua pendekatan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara wajah pasar yang tampak modern dengan kenyataan ruang yang masih penuh tantangan. Penelitian ini menegaskan pentingnya menghadirkan revitalisasi pasar yang bukan hanya indah dipandang, melainkan juga ramah, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
REPRESENTASI KEBUDAYAAN KAWASAN PERBUKITAN DI DESA WOLOAN DALAM ARSITEKTUR RUMAH ADAT WALEWANGKO Runtuwene, Maria; Nuchri, Asni Amaliah; Dariwu, Claudia Talita
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8877

Abstract

Indonesian vernacular architecture, particularly the Walewangko Traditional House in Woloan Village, North Sulawesi, is a concrete manifestation of the close relationship between community culture and the hilly environment. This study aims to analyze cultural representation and ecological adaptation in Walewangko architecture amidst the challenges of modernization. Using a case study method with a qualitative descriptive approach, data were collected through field observations, in-depth interviews, and literature review to examine the form, function, and symbolic meaning of the building. The research findings indicate that the stilt structure, the orientation of the building's mass, and the use of local wood materials represent the Minahasan people's adaptive response to the local contoured topography and humid climate. Spatially, elements such as the lesar, sekey, pores, and double staircases convey profound philosophies regarding social hierarchy, openness, and the value of mapalus solidarity. However, the pressures of globalization have triggered a transformation in function from a communal ritual center to a more pragmatic private residence, characterized by the substitution of modern materials and the reduction of symbolic ornamentation. It is concluded that despite experiencing physical and functional shifts, the Walewangko Traditional House remains a vital symbol of cultural identity and local wisdom, which is now preserved through the integration of traditional values ??into wooden house industry practices and the ongoing socio-economic dynamics of the Woloan Village community. ABSTRAK Arsitektur vernakular Indonesia, khususnya Rumah Adat Walewangko di Desa Woloan, Sulawesi Utara, merupakan manifestasi nyata hubungan erat antara kebudayaan masyarakat dan lingkungan perbukitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi budaya dan adaptasi ekologis pada arsitektur Walewangko di tengah tantangan arus modernisasi. Menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur guna membedah aspek bentuk, fungsi, serta makna simbolik bangunan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa struktur panggung, orientasi massa bangunan, dan penggunaan material kayu lokal merupakan respons adaptif masyarakat Minahasa terhadap topografi berkontur dan iklim lembap setempat. Secara spasial, elemen-elemen seperti lesar, sekey, pores, dan tangga ganda mengandung filosofi mendalam mengenai hierarki sosial, keterbukaan, serta nilai solidaritas mapalus. Namun, desakan globalisasi telah memicu transformasi fungsi dari pusat ritual komunal menjadi hunian privat yang lebih pragmatis, ditandai dengan substitusi material modern dan reduksi ornamen simbolik. Disimpulkan bahwa meskipun mengalami pergeseran fisik dan fungsional, Rumah Adat Walewangko tetap bertahan sebagai simbol identitas kultural dan kearifan lokal yang vital, yang kini dilestarikan melalui integrasi nilai tradisional dalam praktik industri rumah kayu serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat Desa Woloan yang berkelanjutan.