Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KAJIAN PEMANFAATAN RUANG PADA KAWASAN LINDUNG DI KOTA MANADO (STUDI KASUS: KECAMATAN MAPANGET) Pangauw, Kindly Anugerah Imanuel; Dariwu, Claudia Talita; Pangalila, Fiska Chintya Ezra
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i4.7155

Abstract

Mapanget District, as a new growth center in Manado City, faces significant challenges in controlling spatial utilization, particularly within its protected areas. The dynamics of rapid economic and population growth have triggered land-use changes that are often inconsistent with the Spatial Plan (RTRW), potentially leading to environmental degradation and a decline in spatial quality. This study aims to assess the level of suitability between existing spatial utilization and the spatial pattern plan for protected areas in Mapanget District. The primary focus is to identify the extent and distribution of non-compliant locations and to analyze the contributing factors to provide a basis for government recommendations. The research employed a quantitative approach with an overlay analysis method using ArcGIS 10.8 software. Spatial data from the 2023-2042 Manado City Spatial Plan were overlaid with existing land use data from 2024, updated via satellite imagery. The analysis revealed a very high level of non-compliance: of the total 233.17 hectares of protected areas analyzed, 169.80 hectares (72.8%) were found to be inconsistent with the spatial pattern plan, while only 63.37 hectares (27.2%) were compliant. The most significant non-compliance was identified in areas designated as Green Open Space (RTH), such as District Parks and Cemeteries, which are now dominated by mixed-crop plantations (150.85 hectares) and built-up areas like settlements. In conclusion, there is an urgent need for the Manado City Government to evaluate and strengthen the enforcement of spatial planning regulations through more effective supervision, law enforcement actions, and the prioritization of land acquisition programs to secure the function of protected areas from massive land-use conversion. ABSTRAKKecamatan Mapanget, sebagai pusat pertumbuhan baru di Kota Manado, menghadapi tantangan signifikan dalam pengendalian pemanfaatan ruang, khususnya di kawasan lindung. Dinamika pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang pesat memicu alih fungsi lahan yang seringkali tidak sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), sehingga berpotensi merusak lingkungan dan menurunkan kualitas ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kesesuaian antara pemanfaatan ruang eksisting dengan rencana pola ruang pada kawasan lindung di Kecamatan Mapanget. Fokus utama adalah untuk mengidentifikasi luasan dan sebaran lokasi yang tidak sesuai serta menganalisis faktor-faktor penyebabnya sebagai dasar rekomendasi bagi pemerintah. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis tumpang susun (overlay) menggunakan software ArcGIS 10.8. Data spasial rencana pola ruang RTRW Kota Manado Tahun 2023-2042 ditumpangsusunkan dengan data penggunaan lahan eksisting tahun 2024 yang diperbaharui melalui citra satelit. Hasil analisis menunjukkan tingkat ketidaksesuaian yang sangat tinggi, di mana dari total 233,17 hektar kawasan lindung yang dianalisis, sebesar 169,80 hektar (72,8%) tidak sesuai dengan rencana pola ruang, dan hanya 63,37 hektar (27,2%) yang telah sesuai. Ketidaksesuaian terbesar ditemukan pada lahan yang direncanakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), seperti Taman Kecamatan dan Pemakaman, yang kini didominasi oleh Kebun Campuran (150,85 hektar) serta kawasan terbangun seperti permukiman. Kesimpulannya, terdapat urgensi bagi Pemerintah Kota Manado untuk mengevaluasi dan memperkuat penegakan regulasi tata ruang melalui pengawasan yang lebih efektif, penertiban, dan prioritas pada program pengadaan tanah untuk mengamankan fungsi kawasan lindung dari alih fungsi lahan yang masif.
PENERAPAN KONSEP GREEN BUILDING PADA PERANCANGAN HOTEL RESORT DI PULAU GANGGA, LIKUPANG, MINAHASA UTARA Kamurahan, Steven Richard; Dariwu, Claudia Talita; Sirap, Vinda Monica Kintan; Najoan, Stephanie Jill
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.41445

Abstract

Sumber daya yang tidak ada habisnya bagi suatu bangsa adalah pariwisata. Potensi pariwisata di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Dengan dukungan posisi geografis yang menguntungkan, kekayaan sumber daya alam, dan tenaga kerja terampil, Indonesia mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi salah satu tujuan wisata utama dunia, dengan tujuan untuk mengenalkan dan mendatangkan pengunjung baik dalam maupun luar negeri terhadap keindahan alam dan keanekaragaman budaya. Kecamatan Likupang Barat adalah salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sehingga kawasan ini menjadi destinasi wisata, Lokasi yang akan dibangun di Pulau Gangga, Likupang Kabupaten Minahasa Utara. Adapun masih kurangnya akomodasi yang memadai untuk  wisatawan dan maraknya pembangunan Hotel Resort tanpa memperhatikan  dan mengabaikan keadaan lingkungan   sekitar. Solusi yang dapat menjawab permasalahan tersebut adalah dengan mendesain Hotel Resort dengan menggunakan tema Green Building atau bangunan hijau untuk menciptakan kualitas lingkungan yang baik dengan proses-proses ramah lingkungan untuk mencegah kerusakan lingkungan serta dengan konsep ini bisa menjawab setiap permasalahan dalam site seperti pencemaran lingkungan yang mengakibatkan bencana alam dan covid-19 yang berpengaruh pada kesehatan. Dalam proses perancangan ini metode yang dilakukan, yaitu dimulai dari Studi Literatur, Observasi,Studi Komparasi, Eksperimen Desain, Studi Image. Pada tahap ini aspek- aspek diatas saling mendukung dan menjadi kontrol satu dengan yang lain sehingga kesimpulan yang didapat dari bentukan yang dihasilkan, fasilitas- fasilitas yang dihadirkan, bahkan dari konsep Hotel Resort lebih mengutamakan ramah lingkungan dengan mengedepankan konsep Green Building dan pengadaan ruang terbuka hijau yang diharapkan mampu mencegah kerusakan lingkungan demi menjaga kelestariannya.
REPRESENTASI KEBUDAYAAN KAWASAN PERBUKITAN DI DESA WOLOAN DALAM ARSITEKTUR RUMAH ADAT WALEWANGKO Runtuwene, Maria; Nuchri, Asni Amaliah; Dariwu, Claudia Talita
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8877

Abstract

Indonesian vernacular architecture, particularly the Walewangko Traditional House in Woloan Village, North Sulawesi, is a concrete manifestation of the close relationship between community culture and the hilly environment. This study aims to analyze cultural representation and ecological adaptation in Walewangko architecture amidst the challenges of modernization. Using a case study method with a qualitative descriptive approach, data were collected through field observations, in-depth interviews, and literature review to examine the form, function, and symbolic meaning of the building. The research findings indicate that the stilt structure, the orientation of the building's mass, and the use of local wood materials represent the Minahasan people's adaptive response to the local contoured topography and humid climate. Spatially, elements such as the lesar, sekey, pores, and double staircases convey profound philosophies regarding social hierarchy, openness, and the value of mapalus solidarity. However, the pressures of globalization have triggered a transformation in function from a communal ritual center to a more pragmatic private residence, characterized by the substitution of modern materials and the reduction of symbolic ornamentation. It is concluded that despite experiencing physical and functional shifts, the Walewangko Traditional House remains a vital symbol of cultural identity and local wisdom, which is now preserved through the integration of traditional values ??into wooden house industry practices and the ongoing socio-economic dynamics of the Woloan Village community. ABSTRAK Arsitektur vernakular Indonesia, khususnya Rumah Adat Walewangko di Desa Woloan, Sulawesi Utara, merupakan manifestasi nyata hubungan erat antara kebudayaan masyarakat dan lingkungan perbukitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi budaya dan adaptasi ekologis pada arsitektur Walewangko di tengah tantangan arus modernisasi. Menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur guna membedah aspek bentuk, fungsi, serta makna simbolik bangunan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa struktur panggung, orientasi massa bangunan, dan penggunaan material kayu lokal merupakan respons adaptif masyarakat Minahasa terhadap topografi berkontur dan iklim lembap setempat. Secara spasial, elemen-elemen seperti lesar, sekey, pores, dan tangga ganda mengandung filosofi mendalam mengenai hierarki sosial, keterbukaan, serta nilai solidaritas mapalus. Namun, desakan globalisasi telah memicu transformasi fungsi dari pusat ritual komunal menjadi hunian privat yang lebih pragmatis, ditandai dengan substitusi material modern dan reduksi ornamen simbolik. Disimpulkan bahwa meskipun mengalami pergeseran fisik dan fungsional, Rumah Adat Walewangko tetap bertahan sebagai simbol identitas kultural dan kearifan lokal yang vital, yang kini dilestarikan melalui integrasi nilai tradisional dalam praktik industri rumah kayu serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat Desa Woloan yang berkelanjutan.
MAKNA SIMBOLIK ELEMEN ARSITEKTUR GEREJA : KAJIAN VISUAL PADA GEREJA GMIM SION TOMOHON Najoan, Stephanie Jill; Runtuwene, Maria; Dariwu, Claudia Talita
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8878

Abstract

The GMIM Sion Church in Tomohon, a national cultural heritage site with neo-classical architecture, holds not only historical value but also a rich visual richness that shapes the identity of the sacred space. This research is motivated by the urgency of examining the visual elements of this historic church, which have not been systematically studied as constructs of symbolic meaning from an architectural perspective. Aiming to uncover the interaction between physical form and spiritual experience, this research employs a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth visual observation, architectural documentation, and interviews, then analyzed using a semiotic approach and existential space theory. Key findings indicate that visual elements such as the bell tower, symmetrical facade, tall window openings, and the integration of the local symbol of the manguni bird function beyond mere aesthetic ornamentation; these elements serve as signifiers that construct a sacred atmosphere and guide the congregation's spiritual orientation. It is concluded that the visual characteristics of the GMIM Sion Tomohon Church are a crucial symbolic communication medium for strengthening the cultural identity and theological experience of the community. Therefore, preservation efforts must include a deep understanding of the symbolic values ??inherent in the physical structure. ABSTRAK Gereja GMIM Sion Tomohon, sebagai cagar budaya nasional berarsitektur neo-klasik, tidak hanya menyimpan nilai historis tetapi juga kekayaan visual yang membentuk identitas ruang sakral. Penelitian ini didasari oleh urgensi untuk menelaah elemen visual gereja bersejarah yang selama ini belum banyak dikaji secara sistematis sebagai konstruksi makna simbolik dalam perspektif arsitektur. Bertujuan mengungkap interaksi antara bentuk fisik dan pengalaman spiritual, penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi visual mendalam, dokumentasi arsitektural, dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan semiotika dan teori ruang eksistensial. Temuan utama menunjukkan bahwa elemen visual seperti menara lonceng, fasad simetris, bukaan jendela tinggi, serta integrasi simbol lokal burung manguni, berfungsi lebih dari sekadar ornamen estetis; elemen-elemen tersebut hadir sebagai penanda (signifier) yang membangun atmosfer kesakralan dan mengarahkan orientasi spiritual jemaat. Disimpulkan bahwa karakteristik visual Gereja GMIM Sion Tomohon merupakan medium komunikasi simbolik yang krusial dalam memperkuat identitas kultural dan pengalaman teologis masyarakat, sehingga upaya pelestariannya harus mencakup pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai simbolik yang melekat pada fisik bangunannya.  
Ecobrick Sebagai Media Penguatan Karakter Peduli Lingkungan Generasi Muda di Sekolah Menengah Atas Kota Manado Yosia Nico Wijaya; Runtuwene, Maria; Dariwu, Claudia Talita; Tulis, Daniel Harvey; Sigar, Brenda Risita; Adnyana, Ni Wayan Christy Rilliane Nucivera; Holiyono , Angelina; Paath , Charlita Valentine; Rumampuk, Natalie Gwyneth
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - Maret IN PROGRESS
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah Menengah Atas (SMA) memiliki peran strategis dalam membentuk agen perubahan lingkungan, namun seringkali terkendala oleh kesenjangan antara kesadaran teoritis dan aksi nyata. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat karakter peduli lingkungan dan meningkatkan kompetensi teknis pengelolaan sampah plastik melalui teknologi Ecobrick pada siswa SMA Negeri 7 Manado. Mitra sasaran adalah 25 siswa anggota komunitas Green Community yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) yang terdiri dari tiga tahapan: (1) Sosialisasi dan asesmen awal; (2) Pelatihan teknis pembuatan Ecobrick sesuai standar global; dan (3) Pendampingan produksi serta evaluasi mutu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa meskipun kesadaran dasar siswa terhadap bahaya sampah sudah mencapai 100% sejak awal, intervensi pelatihan berhasil meningkatkan pemahaman teknis pembuatan Ecobrick secara signifikan dari 20% menjadi 57%. Selain itu, siswa berhasil memproduksi Ecobrick berkualitas standar yang siap dirangkai menjadi furnitur sekolah. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa pelatihan teknis intensif efektif menjembatani kesenjangan pengetahuan-aksi (knowledge-action gap) dan mentransformasi siswa menjadi produsen solusi lingkungan yang mandiri.
PENANAMAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI INTRODUKSI TEKNOLOGI ECOBRICK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KECAMATAN WANEA, KOTA MANADO Wijaya, Yosia Nico; Runtuwene, Maria; Dariwu, Claudia Talita; Holiyono, Angelina; Paath, Charlita Valentine; Rumampuk, Natalie Gwyneth
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 10 No 1 (2026): JANUARI - JULI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v10i1.7552

Abstract

Kecamatan Wanea, Kota Manado, menghadapi tantangan akumulasi sampah plastik yang signifikan seiring dengan tingginya kepadatan penduduk. Rendahnya kesadaran dan minimnya keterampilan generasi muda dalam mengelola limbah menjadi faktor penghambat penanganan masalah ini. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menanamkan karakter peduli lingkungan dan mengintroduksi teknologi tepat guna Ecobrick kepada siswa SMP Negeri 7 Manado sebagai solusi alternatif pengelolaan sampah. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) yang meliputi tiga tahapan utama: (1) Sosialisasi edukatif mengenai bahaya sampah dan konsep 3R; (2) Pelatihan teknis pembuatan Ecobrick terstandarisasi; dan (3) Pendampingan intensif serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada literasi ekologis dan kompetensi teknis siswa. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, rata-rata pengetahuan siswa secara keseluruhan meningkat dari 34% menjadi 77%. Selain itu, siswa berhasil memproduksi botol Ecobrick yang memenuhi standar kualitas konstruksi. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa introduksi teknologi sederhana melalui pendekatan partisipatif efektif mengubah paradigma siswa dari pasif menjadi agen perubahan yang aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan sekolah.