Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Keilmuan Islam Holistik-Integratif Mengakhiri Dikotomi Ilmu Agama dan Umum Yaqin, Fuad Ngainul; Muzayin Shofwan, Arif; Rohman, miftakhul
SINDA: Comprehensive Journal of Islamic Social Studies Vol 3 No 1 (2023): Volume 3, Number 1, April 2023
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/sinda.v3i1.1012

Abstract

Along with the development of science and technology, the construction of Islamic scholarship continues to change from time to time. In every era, there must always be a renewal in constructing Islamic scholarship so that it is not left behind with the progress of the times. Research with this literature study resulted in the following conclusions. First, until now the construction of Islamic scholarship has passed through three stages, namely: traditionalism which is characterized by normative-theological, modernism which is empirical-sociological, and postmodernism which is characterized by holistic-integrative Second, the current era of postmodernism is an era of seeking the right form or model for ending the dichotomy of religion and general science. Third, the era of holistic-integrative Islamic scientific postmodernism is classified in the humanities sciences (al-ilmu al-insaniyah) which includes, among others; sociology, anthropology, psychology, history, social institutions, Basic Natural Sciences, Basic Cultural Sciences, and Basic Social Sciences, which are presented with a scientific approach. Thus, holistic-integrative Islamic scholarship in the current era of postmodernism must include these humanities sciences in Islamic scientific disciplines to be able to answer and face the development of an increasingly globalized era.
Wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat Shofwan, Arif Muzayin; Hariri, Muh. Mirwan; Rouf, M. Abdul; Yaqin, Fuad Ngainul
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol 3 No 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2498

Abstract

Abstract Sunan Kalijaga memiliki murid bernama Sunan Tembayat sebagai penerus keilmuannya. Penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan ini membahas wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat. Teknik analisanya menggunakan analisis isi dengan memilah-milah data sesuai dengan fokus penelitian. Tulisan ini menghasilkan kesimpulan bahwa beberapa wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat, antara lain: (1) wejangan Patembayatan, yakni agar setiap orang tidak merasa sombong terhadap sesama, harus saling menghormati dan menghargai tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, kulit, dan semacamnya; (2) wejangan Pambukaning Tata Malige Baitul Muharam, yakni ilmu rasa (batin) yang berguna untuk merasakan empati terhadap semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan agama, golongan, budaya, ras, dan semacamnya. Dengan empati menjadikan manusia tidak merasa ajarannya paling benar di hadapan Tuhan, sementara ajaran lainnya salah; (3) wejangan Sangkan Paraning Dumadi, yakni ilmu yang menjelaskan bahwa semua ini milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan; dan (4) wejangan Sekar Telon, yakni berupa: bunga mawar, artinya simbol dari berwarna-warna suku, budaya, agama, dan semacamnya; bunga kenanga, artinya bisa melakukan begini dan begitu; dan bunga kantil, artinya hendaknya selalu bergantung kepada Tuhan dan persatuan semua bangsa. Kata kunci: Wejangan; Sunan Kalijaga; Sunan Tembayat