Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Management and Health Risks of Mineral Mining Workers (Nickel) Reza, Faisal; Citra, Savitri; Achmad, Achmad; Ridwan, Endy Novryan
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 4 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i4.6579

Abstract

Nickel mining in Southeast Sulawesi, Indonesia, is a vital economic sector but poses high health risks to workers due to exposure to nickel dust, noise, and heavy working conditions, leading to diseases such as silicosis and high rates of occupational accidents. This study aims to identify the health risks of nickel mine workers, evaluate the occupational safety and health (OHS) system, and formulate a mitigation plan to improve worker welfare and operational sustainability. Using a qualitative approach with quantitative descriptive elements at the Kolaka Regency mine, data were collected through observation, interviews, environmental measurements (dust, noise, vibration, lighting), and secondary analysis on high-risk workers (working period ≥6 months) with purposive sampling. Thematic and descriptive analyses were conducted with triangulation for validity. The results showed health risks from physical (noise 88.6 dB, extreme temperatures, vibration), chemical (nickel dust, silica), biological (infection), ergonomic (work posture), and psychosocial (stress) hazards, with clinic visits (3,792 cases) dominated by flu (34%), dyspepsia (12%), and fever (11%). New workers (0–2 years, 43%) and 30–39 years old (40%) are most vulnerable. OHS management includes risk identification (IBPR), health checks, clinics, training, and environmental monitoring, with respirable dust (0.025–0.393 mg/m³) and vibration (<1.2249 m/s²) below TLV, but low noise and lighting (5 lux) require PPE and additional lighting. Wet preparation ergonomics (score 8, >TLV) require administrative control. In conclusion, strengthening HRA, routine environmental monitoring, use of PPE, improving lighting, ergonomics, OHS training, and psychological support for new workers, as well as periodic health data analysis, can reduce health risks, support worker welfare, and safemine operations. Keywords: nickel mining, health risks, OHS, health management, Southeast Sulawesi.
Penerapan sistem manajemen keselamatan pertambangan(SMKP) pada perusahaan tambang mineral PT XYZ (Nikel) di Sulawesi Tengah Reza, Faisal; Citra, Savitri; Prihaswan, Irawadi
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/9cfytc47

Abstract

Sektor pertambangan mineral nikel di Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian, khususnya di Sulawesi Tengah, tetapi disertai risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang tinggi. Regulasi seperti Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2018 mewajibkan implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) untuk mengelola risiko secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan SMKP di PT XYZ melalui audit internal, mengidentifikasi hambatan, dan memberikan rekomendasi perbaikan, mengingat gap penelitian pada studi spesifik di wilayah ini. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk eksplorasi mendalam, dengan lokasi di Kabupaten Morowali Utara. Data dikumpul melalui wawancara semi-struktural (3 manajer keselamatan, 5 pengawas, 10 operator), observasi lapangan dengan checklist, dan studi dokumen laporan audit. Pemilihan informan via purposive sampling; validasi dengan triangulasi dan member checking; analisis tematik dibantu NVivo, mengacu Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827 Tahun 2018. Audit internal SMKP menunjukkan peningkatan kepatuhan dari 24,8% (2023) menjadi 43,3% (2024), dengan temuan mayor menurun dari 34 menjadi 22. Elemen rendah meliputi implementasi (27,4%) dan pemantauan (26,8%), sementara dokumentasi (91,7%) dan tinjauan manajemen (92,3%) mencapai nilai tinggi. Temuan utama: ketidaksesuaian prosedur, kurangnya pelatihan, dan housekeeping suboptimal. Peningkatan mencerminkan komitmen manajemen, namun capaian rendah disebabkan budaya keselamatan reaktif, keterbatasan SDM, dan prioritas ekonomi atas operasional. Dibandingkan best practice seperti PT Vale Indonesia (80% kepatuhan), rekomendasi meliputi pelatihan berkelanjutan, teknologi monitoring, dan penguatan komitmen puncak untuk mengurangi risiko kecelakaan hingga 30%–40%, mendukung operasi berkelanjutan.