Wahyuningtyas, Titik Angereni Wahyuningtyas
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Bimbingan dan Konseling dalam Mendukung Kesehatan Mental Remaja di Era Digital Melalui Biblioterapi Salsabila, Nur Nafisa; Nurlaili, Anis; Wahyuningtyas, Titik Angereni Wahyuningtyas
EDUCOUNS GUIDANCE: Journal of Educational and Counseling Guidance Vol. 1 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : Universitas Moch. Sroedji Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70079/egjecg.v1i1.24

Abstract

Penelitain ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana strategi bimbingan dan konseling dalam mendukung kesehatan mental remaja di era digital saat ini melalui biblioterapi. Biblioterapi merupakan salah satu dari banyaknya bentuk terapi ekspresif yang mana didalam pelaksanaannya terdapat hubungan individu dengan intisari atau isi buku ataupun tulisan lainnya sebagai sebuah terapi. Untuk menangani masalah yang dihadapi seseorang, biblioterapi menggunakan aktivitas membaca literatur yang dipilih, direncanakan, dan terarah sebagai tindakannya. Biblioterapi dianggap dapat mempengaruhi sikap, perasaan, dan perilaku individu sesuai dengan yang diharapkan dan merangsang pemikiran pembaca. Biblioterapi sederhana, murah, dan dapat dilakukan kapan saja. Ini membutuhkan partisipasi pembaca sepenuhnya dan kemandirian untuk memahaminya. Karena Biblioterapi adalah metode tindakan yang bermakna, perlu disosialisasikan. Dengan adanya Biblioterapi menjadi sarana strategis menangani dampak negatif dari pengaruh teknologi digital seperti kecanduan, depresi, maupun kecemasanan yang berlebihan. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan atau (library research) dengan kualitatif deskriptif. Hasil ini memuat tentang strategi bimbingan dan konseling seperti sesi konseling daring dan biblioterapi online untuk menangani klien guna mendukung kesehatan mental mereka. Adanya pengaruh teknologi digital terhadap kesehatan remaja tentunya membutuhkan usaha untuk menanggulanginya seperti terapi yaitu biblioterapi, meski terapi ini tentu memiliki keuntungan dan kelemahan dalam konteks digital.