Hipervolemia mengacu pada peningkatan volume cairan tubuh. Data menunjukkan adanya peningkatan kasus Gagal Ginjal Kronis (GGK) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. National Kidney Foundation (2017) melaporkan peningkatan jumlah orang yang menjalani hemodialisis, yang mencerminkan besarnya beban penyakit ini. Data Riskesdas (2018) menunjukkan 0,2% penduduk Indonesia terkena GGK, atau setara dengan lebih dari 500.000 orang. Penelitian ini memiliki arti penting dalam meningkatkan pemahaman asuhan keperawatan pada pasien GGK dan meningkatkan efisiensi perawatan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai asuhan keperawatan hipervolemia di ruang As-Syfa RSI Banjarnegara pada kasus Ny. T pasien gagal ginjal kronik. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dalam konteks studi kasus yang melibatkan Ny. T dan hipervolemianya pada setting gagal ginjal kronik di ruang As-Syfa RSI Banjarnegara. Pendekatan yang diambil mencakup pengelolaan keseimbangan cairan, dihitung melalui perbandingan asupan dan keluaran cairan, dan pemberian transfusi darah selama tiga hari. Masalah hipervolemia, terkait dengan tidak berfungsinya sistem regulasi selama periode tiga hari, masih belum terselesaikan. Intervensi terus dilakukan, meliputi pemantauan tanda-tanda vital, pengawasan edema, dan penilaian laboratorium (hematokrit dan osmolaritas urin). Jika edema semakin parah, kolaborasi dengan tim medis akan dimulai. Evaluasi tiga hari menunjukkan bahwa masalah hipervolemia masih belum terselesaikan karena gangguan mekanisme regulasi.