This Author published in this journals
All Journal Pharmacoscript
Agus, Rusdin
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STUDI IN SILICO SENYAWA AKTIF DAUN KEMANGI IMBO (Pycnarrhena cauliflora) TERHADAP RESEPTOR ESTROGEN ALFA (ER⍺) SEBAGAI KANDIDAT ANTIKANKER PAYUDARA Masayu Kyla, Fa’aizah; Nabilah, Rahmadhani; Sitti, Masyithah; Fiona Puspita, Sari; Nayla Maymuna, Fathin; Agus, Rusdin; Dhania, Novitasari
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1762

Abstract

Daun kemangi imbo (Pycnarrhena cauliflora) dikenal memiliki sifat farmakologis, salah satunya berpotensi sebagai agen antikanker payudara. Jenis kanker payudara banyak ditandai dengan adanya ekspresi berlebih pada protein hormon, salah satunya ialah reseptor estrogen alpha (ER⍺). Penelitian ini bertujuan mengkaji senyawa yang terdapat dalam daun kemangi imbo yang berpotensi untuk agen antikanker payudara tertarget pada ER⍺. Pengujian yang dilakukan dengan pendekatan studi komputasi, seperti prediksi Lipinski rule of five, prediksi ADMETOKS, penapisan farmakofor, dan penambatan molekuler. Hasil studi menunjukkan bahwa semua senyawa yang diidentifikasi dari daun kemangi imbo memenuhi persyaratan Lipinski rule of five. Penentuan ADMETOKS pada sepuluh senyawa memiliki persentase human intestinal absorption (HIA) yang baik dan penetrasi blood brain barrier (BBB) yang tinggi, permeabilitas Caco-2 yang sedang, sebagian besar memiliki ikatan protein plasma (PPB) yang tinggi, dan beberapa senyawa diprediksi bersifat mutagen dan karsinogenik. Penapisan farmakofor diperoleh kurva nilai AUC100 sebesar 0,95 dan senyawa yang hit yaitu β-sitronelol dengan fit score 43,00. Pada molecular docking, senyawa longipinocarvone menunjukkan kemiripan paling tinggi dengan native ligand yaitu afimoxifene (4-OHT), dengan energi bebas Gibbs paling negatif (-8,20 kkal/mol) dan konstanta inhibisi paling kecil (0,98 µM). Di antara senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam daun kemangi imbo, longipinocarvone menunjukkan potensi untuk dikembangkan sebagai agen antikanker payudara tertarget pada ER⍺.
STUDI IN SILICO SENYAWA BIOAKTIF DALAM DAUN ZAITUN (Olea europaea L.) SEBAGAI ACE INHIBITOR DALAM HIPERTENSI Alya Izzati Zhafira, Rizal; Salma Chiara, Putri; Tasza Noor, Aisyah; Marshella Dhanu, Ardhita; Agus, Rusdin; Nayla Maymuna, Fathin; Dhania, Novitasari
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1763

Abstract

Daun zaitun (Olea europaea L.) telah diketahui memiliki efek penurunan tekanan darah dengan salah satu mekanismenya ialah mempengaruhi aktivitas angiotensin-converting enzyme (ACE), namun aktivitas molekuler pada enzim tersebut masih belum ditelusuri. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi senyawa metabolit sekunder dari daun zaitun terkait dengan karakteristik fisikokimiawi dan profil ADMET, serta interaksinya terhadap ACE melalui studi komputasi. Berdasarkan Samy et al., 2022, dipilih 10 senyawa daun zaitun yang memenuhi Rule of Five dari beberapa senyawa diteliti serta dievaluasi berdasarkan kaidah Lipinski, profil ADMET, skrining farmakofor, dan penambatan molekul. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan, senyawa oleuropein aglikon menunjukkan aktivitas paling potensial terhadap target protein ACE (kode PDB: 3BKL) dengan data nilai ikatan bebas dan konstanta inhibisi paling kecil yaitu -7,73 kkal/mol dan 2,16 µM, serta memiliki interaksi pada residu asam amino HIS A: 513 dan TYR A: 523. Hasil studi ini menambah bukti saintifik terkait pengaruh senyawa bioaktif pada daun zaitun khususnya oleuropein aglikon terhadap protein ACE sehingga berpotensi dalam memberikan efek penurunan tekanan darah.
COMPUTATIONAL INSIGHT INTO PIPER RETROFRACTUM CONSTITUENTS TARGETTING MAO-B IN PARKINSON'S DISEASE Nur, Aisyah; Sri, Wahyuni; Kurnia Ulla, Aprilliana; Rifa Alya, Salsabilla; Nayla Maymuna, Fathin; Agus, Rusdin; Dhania, Novitasari
Pharmacoscript Vol. 9 No. 1 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i1.2349

Abstract

Parkinson’s disease, characterized as a progressive neurodegenerative condition, represents a significant contributor to mortality in Indonesia. Piper retrofractum, a Piperaceae species rich in alkaloids, has been reported to contain compounds with neuroactive potential, similar to other Piper species in which Monoamine Oxidase-B (MAO-B) inhibition has been documented. However, no computational study has evaluated the interaction between Piper retrofractum bioactive compounds and MAO-B. = aimed to evaluate the MAO-B inhibitory potential of bioactive compounds from Piper retrofractum. Ten bioactive compounds from Piper retrofractum were screened and analyzed using Lipinski’s rules, PreADMET, pharmacophore modeling (Ligandscout 4.4.5), and molecular docking (AutoDock 4.2.6). The findings revealed that all test compounds met Lipinski's rule of Five. From the PreADMET results, Alismoxide showed a high Blood-Brain Barrier (BBB) crossing capacity of 4.59529. Trans-fagaramide was identified as the optimal pharmacophore match, displaying a fit score of 34.57. Meanwhile, from the molecular docking results, the most promising pharmacological candidate was piperolein-B, which formed a hydrogen bond with the amino acid residue LEU: A56, similar to the native ligand, with an inhibition constant of 0.015 μM and a binding energy of -10.6 kcal/mol. From these results, the bioactive compounds from Piper retrofractum can interact with the MAO-B receptor. These findings are computational predictions and require further experimental validation to confirm their potential for Parkinson’s disease treatment.