Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN PROLANIS TERHADAP KEBERHASILAN TERAPI PADA PASIEN HIPERTENSI DI KLINIK DR. NURDIN WAHID Salafy, Muhamad Ridwanudin; Setiawan, Hardianto
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.22794

Abstract

Hipertensi adalah Suatu kondisi Ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi.biasanya hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah diatas 140/90,dan dianggap parah jika tekanan di atas 180/120.terdapat beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi, Riwayat hipertensi atau kardiovaskular pada pasien atau keluarga.Tujuan dari penelitian ini untuk mendorong pasien pengidap penyakit kronis mencapai kualitas hidup normal dan optimal dengan biaya pelayanan Kesehatan yang efektif pada pasien di klinik dr. Nurdin Wahid Kabupaten Cibinong,pengambilan data ini kepada partisipan dengan cara menyebar kuisioner dan pengambilan rekam medis,karakteristik responden berdasarkan umur rata-rata 49 tahun dan terbanyak pada rentang umur 47-59 tahun sebanyak 43 orang (48,9%), mayoritas jenis kelamin Perempuan yaitu 61 orang (69,3%), semua responden sudah menikah (100%),  Mayoritas Pendidikan SMA yaitu 56 orang (63,6%),  keterkendalian tensi pasien terkontrol 70 orang (79,5%), keaktifan prolanis mayoritas aktif 68 orang (77,3%),  kepatuhan minum obat terbanyak kepatuhan sedang 50 orang (56,8%).
PENGARUH TINGKATAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN DISPEPSIA FUNGSIONAL PADA POLISI POLSEK TANAH KARO harahap, Ayunda vidya karmelia br; Setiawan, Hardianto
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polisi merupakan salah satu profesi dengan jam terbang tinggi. Beban pekerjaan serta faktor yang berasal dari diri sendiri,lingkungan maupun keluarga, sering kali menjadikan merokok sebagai solusi alternatif untuk mengatasi stres yang mereka alami. Dispepsia fungsional sebagai salah satu gangguan saluran cerna fungsional dengan tingkat prevalensi yang tinggi. Meskipun gangguan ini tidak didasarkan dari penyebab organik secara spesifik tetapi merokok menjadi salah satu pencetus yang meningkatkan kejadian dispepsia fungsional. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan derajat merokok dengan kejadian dispepsia fungsional di Polsek-Polsek di Tanah Karo. Penelitian dilakukan dengan metode cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 100 orang anggota polisi Polsek-Polsek di Tanah Karo yang diambil dengan metode snowball sampling serta akan dianalisis dengan chi-square. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kriteria Roma III untuk menilai curiga dispepsia fungsional dan kuesioner merokok berdasarkan klasifikasi Sitepoe untuk menentukan derajat merokok. Hasil penelitian ini didapatkan responden yang menderita dispepsia fungsional yang tidak merokok sebanyak 3 orang (27%). Sementara responden yang terkena dispepsia fungsional dengan derajat merokok ringan sebanyak 13 orang (46%), responden dengan derajat merokok sedang sebanyak 14 orang (52%). Diketahui bahwa mereka yang merokok lebih dari 20 batang per hari (perokok berat) memiliki risiko mengalami dispepsia fungsional sebesar 3,127 kali lebih rentan dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Namun, untuk kategori perokok sedang dengan risiko 1,901 kali dan kategori perokok ringan dengan risiko 1,702 kali, masih belum bisa dipastikan secara definitif.  
Hubungan Gejala Kolesistolitiasis dengan Kejadian Gastritis dan Karakteristiknya Setiawan, Hardianto; Saputra, Rio; Firmansyah, Yohanes; Nathaniel, Fernando; Yogie, Giovanno Sebastian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11116

Abstract

ABSTRACT Cholecystolithiasis and gastritis are both very common conditions in the modern era, and they can occur together. The relationship between cholecystolithiasis and gastritis in terms of their characteristics and clinical implications is not yet fully understood. This study aims to determine the association between cholecystolithiasis symptoms and the occurrence of gastritis as observed through endoscopy, along with the analysis of their characteristics. This study employed a cross-sectional design with a total of 114 participants obtained from medical records of several hospitals in Jakarta from January 2020 to 2023. Data analysis was conducted using Pearson Chi-Square test with Yates Correction and Fisher's exact test to test the hypotheses. The results of the study showed no significant association between gender, H. pylori infection, and bile reflux with positive endoscopy results for gastritis in patients with cholecystolithiasis (p > 0.05). Clinical exploration revealed that male gender, H. pylori infection, and the presence of bile reflux symptoms did have a higher risk for positive endoscopy results [PR: 1.152 (0.996 - 1.333) vs. 1.169 (1.080 - 1.264) vs. 1.165 (1.078 - 1.258)]. There was a significant association between gastrointestinal symptoms and positive endoscopy results (PR: 1.802, p-value < 0.001). Abdominal pain obtained a 100% value for positive endoscopy results of gastritis in patients diagnosed with cholecystolithiasis. There is no significant association between gender, H. pylori infection, and bile reflux with the occurrence of gastritis in patients with cholecystolithiasis. However, there is a significant association between gastrointestinal symptoms and positive endoscopy results, with abdominal pain being the most strongly associated symptom.  Keywords : Cholecystolithiasis, Gastritis, Risk factors  ABSTRAK Kolesistolitiasis dan gastritis keduanya merupakan kondisi yang sangat umum di era modern dan kejadian tersebut dapat terjadi secara bersamaan. Hubungan antara kolesistolitiasis dengan gastritis ditinjau dari karakteristiknya serta implikasi klinisnya masih belum sepenuhnya dipahami. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gejala kolesistolitiasis dengan kejadian gastritis yang ditinjau dari endoskopi beserta analisis karakteristiknya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dengan total 114 partisipan yang diperoleh dari rekam medis dari beberapa rumah sakit di Jakarta periode januari 2020 hingga 2023. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Pearson Chi Square with Yates Correction dan Fisher Exact untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, infeksi H.pylori, dan bile reflux  dengan hasil endoskopi positif untuk gastritis pada pasien kolesistolitiasis (p > 0,05). Penelusuran secara klinis mengungkapkan bahwa jenis kelamin laki-laki, infeksi H. pylori dan adanya gejala bile reflux  memang memiliki risiko lebih tinggi untuk hasil endoskopi positif [PR: 1,152 (0,996 - 1,333) v.s 1,169 (1,080 - 1,264) v.s. 1,165 (1,078 - 1,258)]. Terdapat hubungan yang signifikan antara gejala gastrointestinal dengan hasil endoskopi yang positif (PR: 1,802, nilai p <0,001). Keluhan nyeri perut mendapatkan nilai 100% untuk hasil endoskopi positif gastritis pada pasien telah terdiagnosis kolesistolitiasis. Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, infeksi h.pylori, dan bile reflux  dengan kejadian gastritis pada pasien kolesistolitiasis. Namun terdapat hubungan signifikan antara gejala gastrointestinal dengan hasil endoskopi yang positif, dimana keluhan nyeri perut memiliki kejadian yang paling kuat. Kata Kunci: Faktor Risiko, Gastritis, Kolesistolitiasis
Association Between Ultrasound-Derived Fat Fraction (UDFF) Values and Metabolic Syndrome Laboratory Parameters in Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) Syahputra, Rheza Maulana; Jorisal, Patricia; Tarigan, Vera Nevyta; Lucas, Brian; Setiawan, Hardianto; Kurniawan, Andree
Medicinus Vol. 15 No. 2 (2026): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/med.v15i2.10815

Abstract

Background: Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), formerly known as Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD), is highly prevalent worldwide and is strongly associated with metabolic syndrome and its related conditions such as diabetes mellitus and hypertension. Without early detection and intervention, hepatic steatosis can progress to hepatic inflammation, fibrosis, cirrhosis, and even hepatocellular carcinoma (HCC). This study aims to evaluate the relationship between ultrasound-derived fat fraction (UDFF) values and laboratory parameters of metabolic syndrome in MASLD, particularly liver enzymes, lipid profile, and glycemic profile, as well as to determine the optimal UDFF cut-off value for detecting metabolic syndrome risk in Indonesian patients.   Methods: A cross-sectional study was conducted on 96 patients who underwent UDFF and laboratory assessments including liver enzymes (SGOT/AST, SGPT/ALT), lipid profile (total cholesterol, HDL, LDL, triglycerides), and glycemic profile (HbA1c, fasting blood glucose). Data analysis included bivariate-multivariate correlation and ROC analysis.   Result: The distribution of UDFF (%) was as follows: normal ≤6% (27.1%; n=26), mild >6–15% (37.5%; n=36), moderate >15–25% (21.9%; n=21), and severe >25% (13.5%; n=13). UDFF showed a moderate positive correlation with SGPT (ρ=0.370; p<0.01) and triglycerides (ρ=0.380; p<0.01), and a weak negative correlation with HDL (ρ=−0.221; p<0.05). A UDFF threshold of 14% was able to predict abnormal SGPT levels and elevated triglycerides.   Conclusions: UDFF shows a significant correlation with laboratory parameters of metabolic syndrome in MASLD, confirming its potential as an accessible, effective, efficient, non-radiative, and non-invasive imaging modality. These findings support the central role of radiology in the early detection and therapeutic monitoring of MASLD and metabolic syndrome, as well as in preventing disease progression from hepatic steatosis to inflammation, fibrosis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma (HCC). Large-scale multicenter validation is required to optimize these findings.