Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Menggagas Penyelesaian Sengketa Online (Online Dispute Resolution) pada Kegiatan Transaksi Elektronik di Indonesia Nur Hidayati, Maslihati; Suartini; Saraswati, Mardiana
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol. 10 No. 1 (2024): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pencerah.v10i1.4523

Abstract

Penyelesaian sengketa online (ODR) telah menjadi hal yang penting dalam transaksi elektronik di Indonesia, didorong oleh kemajuan teknologi dalam transaksi online. Namun, tantangan dalam menyelesaikan sengketa online masih ada, yang berpotensi berdampak pada kepercayaan konsumen dan bisnis terhadap transaksi elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan tersebut dan mengusulkan strategi untuk meningkatkan efektivitas ODR dalam transaksi elektronik di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka untuk mengumpulkan data sekunder, penelitian ini mengidentifikasi permasalahan utama dalam ODR untuk transaksi elektronik. Tantangan-tantangan ini mencakup terbatasnya kesadaran dan pemahaman tentang ODR, kerangka peraturan yang tidak jelas, dan kurangnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga ODR. Penerapan ODR untuk penyelesaian sengketa secara online di Indonesia sudah dilakukan oleh beberapa pengusaha online (marketplace), tapi belum terintegrasi dan belum memiliki payung hukum positif di Indonesia. Untuk meningkatkan efektivitas ODR, beberapa langkah direkomendasikan. Hal ini termasuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang ODR, menetapkan peraturan yang jelas dan komprehensif, dan membangun kepercayaan terhadap lembaga ODR. Selain itu, peningkatan kualitas lembaga ODR, termasuk kualitas layanan dan independensi kelembagaan, juga merupakan hal yang penting. Meski menghadapi tantangan, ODR berpotensi menjadi solusi yang efisien dan efektif dalam menyelesaikan sengketa transaksi elektronik di Indonesia.
Implementasi Mutual Legal Assistance (MLA) untuk Perlindungan Data Pribadi Pengguna Layanan Komputasi Awan di ASEAN Syahputra, Rama Ardy; Nur Hidayati, Maslihati
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol. 10 No. 3 (2024): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pencerah.v10i3.5883

Abstract

Adopsi layanan komputasi awan di ASEAN terus meningkat, diproyeksikan mencapai US$40,32 miliar pada 2025, didorong oleh transformasi digital dan inisiatif smart city. Namun, perbedaan regulasi perlindungan data pribadi di negara-negara ASEAN menghambat aliran data lintas batas yang aman. Yang menjadi permasalahan adalah harmonisasi kerangka hukum perlindungan data dan tantangan dalam implementasi Mutual Legal Assistance (MLA) untuk perlindungan data pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis komparatif dan studi literatur terhadap regulasi di negara-negara ASEAN. Hasil penelitian menunjukkan variasi dalam pendekatan dan kemajuan regulasi di ASEAN. Beberapa negara, seperti Indonesia dan Singapura, telah memiliki undang-undang komprehensif, sementara lainnya masih dalam tahap pengembangan. Hasil menunjukan bahwa tantangan utama termasuk perbedaan definisi tindak pidana dan prosedur pengumpulan bukti elektronik. Harmonisasi regulasi dan pengembangan protokol khusus untuk MLA sangat diperlukan. Rekomendasi mencakup pengembangan standar regional minimum, penerapan Model Contractual Clauses, pembentukan otoritas regional, dan peningkatan kolaborasi dengan sektor swasta. Implementasi kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan rezim perlindungan data yang lebih koheren dan efektif, mendukung pertumbuhan ekonomi digital, serta melindungi hak-hak konsumen di ASEAN.
Analisis Pelanggaran Pasal UU ITE dalam Praktik E-Commerce di Indonesia (Studi Kasus Pada Grab Toko Indonesia) Afriani, Aulia Amanda; Nur Hidayati, Maslihati
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12086

Abstract

Riset dilatar belakangi oleh, pelanggaran Pasal UU ITE pada platform Grab Toko Indonesia mencakup beberapa aspek penting. Pertama, perlindungan data pribadi sesuai Pasal 26B UU ITE. Kedua, pemantauan konten yang di unggah oleh pengguna untuk memastikan tidak ada konten yang melanggar hukum. Ketiga, pencegahan penipuan dan penjualan barang ilegal yang dapat terjadi pada platform e-commerce. Keempat, keamanan transaksi dan keaslian produk harus dijamin oleh Grab Toko Indonesia. Terakhir, perlindungan hak konsumen dalam transaksi online. Tujuan penelitian ini guna Memahami Bagaimana Hukum Positif Indonesia Menetapkan Tanggung Jawab Hukum Kepada Pelaku Usaha yang Merugikan Pelanggan dalam Transaksi Elektronik. Riset norma hukum ialah penekanan utama dari pendekatan penelitian hukum normatif. Hasil riset pelaku usaha dalam transaksi elektronik bertanggung jawab atas kerugian konsumen sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen, PP No. 80 Tahun 2019, dan Perpres No. 60 Tahun 2023. Tanggung jawab ini mencakup ganti rugi serta kepatuhan terhadap hukum dan etika bisnis. Marketplace harus mengelola konten pengguna dan bertanggung jawab atas transaksi di platform mereka, menyediakan mekanisme pelaporan, dan membantu menyelesaikan masalah transaksi sesuai dengan prinsip Intermediary Liability. Putusan No. 465/Pid.Sus/2021/PN Jkt.Sel dinilai sesuai untuk kasus penipuan berdasarkan UU ITE, namun hal ini kurang cocok dipakai dalam situasi di mana penyebaran informasi palsu merugikan pelanggan.
The Position of BPN in Resolving Land Cases in Depok: A Restorative Justice Approach Nur Hidayati, Maslihati; Suartini, Suartini; Sadino, Sadino; Widarahesty, Yusy; Mumin, Anita
Asian Journal of Social and Humanities Vol. 4 No. 3 (2025): Asian Journal of Social and Humanities
Publisher : Pelopor Publikasi Akademika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59888/n82mj555

Abstract

Non-penal policies should ideally be regulated as the legal basis for implementing the Land Mafia Prevention and Eradication Task Force Team. Legal certainty refers to the application of laws that are clear, permanent, and consistent. The restorative justice approach will serve as the basis for formulating non-penal policies to resolve land dispute cases in Indonesia. The purpose is to determine the position, role, and responsibilities of BPN in land settlement in Depok City. This research is normative juridical research with the character of prescriptive analysis. The novelty in this research is that the object of the dispute in the BPN Depok area has not involved resolution based on the principles of restorative justice. This study reveals that BPN Depok has achieved significant accomplishments in land case resolution, with a 99.66% dispute resolution rate exceeding national targets. The research demonstrates that BPN's integration of restorative justice principles through mediation, asset certification programs, and technological innovations (BERMATA application) has enhanced both the effectiveness and efficiency of dispute resolution. The findings indicate that BPN's dual role as both mediator and government authority requires careful navigation to maintain stakeholder trust. This study concludes that while restorative justice approaches show promise in land dispute resolution, comprehensive strategies addressing resource constraints, mediator capacity development, and multi-stakeholder collaboration are essential for sustainable implementation. The research contributes theoretically to conflict management literature and practically provides evidence-based recommendations for enhancing BPN's dispute resolution mechanisms in rapidly urbanizing contexts.
BAD FAITH REGISTRATION AND WELL-KNOWN TRADEMARK PROTECTION IN INDONESIAN LAW Kusumowardono, Adityo; Sulistyono, Joko; Hamid, Adnan; Iriantoro, Agung; Nur Hidayati, Maslihati
TANJUNGPURA LAW JOURNAL Vol. 10 No. 2 (2026): VOLUME 10 NUMBER 2, 2026
Publisher : Faculty of Law, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tlj.v10i2.107315

Abstract

AbstractTrademark applications filed in bad faith remain an important issue in Indonesian trademark law. The problem is not limited to the administrative process of registration, but also concerns legal certainty, the protection of legitimate trademark owners, and the creation of fair business competition. This study examines how Indonesian law regulates and assesses bad faith in trademark registration, and how far this regulation is consistent with international trademark protection standards, particularly the Paris Convention and the TRIPs Agreement. The legal issue addressed in this study arises from the absence of clear and consistent criteria for determining bad faith, both during trademark examination and in trademark dispute resolution. The novelty of this study lies in positioning good faith as a substantive standard, rather than merely a formal requirement in trademark registration. In this sense, good faith is used to assess whether an application has been filed honestly, reasonably, and without the intention of taking advantage of another party’s reputation or legal rights. This research uses a normative juridical method with statutory, conceptual, and comparative approaches. The legal materials examined include the Indonesian Law on Trademarks and Geographical Indications, the Paris Convention, the TRIPs Agreement, legal doctrines on trademark protection, and relevant court decisions concerning bad faith. The findings show that Indonesian law already provides a normative basis for refusing or cancelling trademarks filed in bad faith. However, its application still faces difficulties in interpretation, proof, and consistency of legal reasoning. Therefore, clearer indicators of bad faith are needed, along with stronger substantive examination by the trademark office, greater consistency in court decisions, and better harmonization between Indonesian trademark law and international trademark protection standards. These improvements are necessary to prevent opportunistic trademark registration, protect legitimate trademark owners, and strengthen legal certainty within Indonesia’s trademark protection system. Abstrak Permohonan pendaftaran merek yang diajukan dengan itikad tidak baik masih menjadi salah satu persoalan penting dalam hukum merek Indonesia. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek administratif pendaftaran, tetapi juga menyangkut kepastian hukum, perlindungan terhadap pemilik merek yang sah, dan terciptanya persaingan usaha yang sehat. Penelitian ini membahas bagaimana hukum Indonesia mengatur dan menilai itikad tidak baik dalam pendaftaran merek, serta sejauh mana pengaturan tersebut telah sejalan dengan standar perlindungan merek dalam instrumen internasional, khususnya Paris Convention dan TRIPs Agreement. Permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini berangkat dari belum  adanya ukuran yang cukup tegas dan konsisten dalam menentukan adanya itikad tidak baik, baik pada tahap pemeriksaan merek maupun dalam proses penyelesaian sengketa. Kebaruan penelitian ini terletak pada penempatan prinsip itikad baik sebagai standar substantif, bukan sekadar syarat formal dalam pendaftaran merek. Dengan demikian, itikad baik digunakan untuk menilai apakah suatu permohonan diajukan secara jujur, wajar, dan tidak bertujuan mengambil keuntungan dari reputasi atau hak pihak lain. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan hukum. Bahan hukum yang dianalisis meliputi Undang-Undang Merek dan Indikasi Geografis, Paris Convention, TRIPs Agreement, doktrin hukum merek, serta putusan yang relevan mengenai itikad tidak baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Indonesia telah menyediakan dasar normatif untuk menolak atau membatalkan merek yang diajukan dengan itikad tidak baik. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala dalam hal penafsiran, pembuktian, dan konsistensi pertimbangan hukum. Oleh karena itu, diperlukan perumusan indikator itikad tidak baik yang lebih jelas, penguatan pemeriksaan substantif oleh otoritas merek, konsistensi putusan pengadilan, serta harmonisasi hukum merek nasional dengan standar perlindungan merek internasional. Penguatan ini penting untuk mencegah pendaftaran merek secara oportunistik, melindungi pemilik merek yang sah, dan memperkuat kepastian hukum dalam sistem perlindungan merek Indonesia.