Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Tarian Sumatera Utara Peran Tari Batak Toba Dalam Ritual Upacara Budaya Adat Batak Toba: Tarian Batak Toba Agresianopela; Drs. Yoe Anto Ginting, MA
Jurnal Budaya Vol. 5 No. 2 (2024): JURNAL BUDAYA
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas peran tari Batak Toba dalam ritual upacara budaya adat Batak Toba. Tari Batak Toba merupakan salah satu elemen penting dalam budaya Batak Toba, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam. Dalam upacara adat, tari Batak Toba sering digunakan sebagai sarana komunikasi dengan leluhur, serta sebagai media untuk menyampaikan doa dan harapan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka untuk mengungkap makna dan fungsi tari Batak Toba dalam konteks upacara adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Batak Toba memiliki peran yang signifikan dalam memperkuat identitas budaya dan solidaritas komunitas Batak Toba, serta berfungsi sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi dan leluhur. Selain itu, tari ini juga berperan dalam proses pendidikan generasi muda tentang nilai-nilai budaya dan sejarah Batak Toba. Temuan ini menegaskan pentingnya pelestarian tari Batak Toba dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat modern. Tari Batak Toba, atau tarian tradisional masyarakat Batak Toba, berperan penting dalam berbagai upacara dan ritual budaya tradisional. Tarian ini sangat terkait dengan tatanan keagamaan dan sosial masyarakat Batak Toba. Tari Batak Toba memegang tempat sentral dalam upacara adat Batak Toba, termasuk namun tidak terbatas pada pernikahan, pemakaman, dan acara budaya penting lainnya. Tarian ini bukan sekedar bentuk hiburan tetapi sangat simbolis dan membawa makna spiritual dan sosial dalam masyarakat.Pertunjukan Tari Batak Toba seringkali dilakukan dalam konteks keagamaan, yang mencerminkan keyakinan dan praktik spiritual masyarakat Batak Toba. Ini berfungsi sebagai sarana untuk berhubungan dengan warisan budaya mereka dan mengekspresikan nilai-nilai agama dan sosial mereka. Pelestarian Tari Batak Toba melalui penyertaannya dalam upacara adat berfungsi untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Batak Toba. Hal ini juga menumbuhkan rasa persatuan dan kekeluargaan di antara anggota masyarakat, berkontribusi terhadap kohesi masyarakat secara keseluruhan.
The Meaning and Values Contained in the Traditional Music Performing Art of Gendang Guro-Guro Aron in Singa Village, Tiga Panah, Karo District Gulo, Hubari; Ginting, Yoe Anto; Naiborhu, Torang
Formosa Journal of Science and Technology Vol. 2 No. 12 (2023): December 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjst.v2i12.7148

Abstract

The traditional musical performance art Gendang Guro-Guro Aron Aron is an important part of the culture and identity of the people of Singa Village, Tiga Panah District, Karo Regency. This research aims to explore the meaning an d values contained in the performing arts. The research method used is a qualitative method with an interactive model. Data collection using participant observation, interviews, and literature study to holistically understand the Guro-Guro Aron Gendang. The research results show that the Guro-Guro Aron Gendang is not only entertainment but also contains religious, historical, and social meanings. This traditional music is a medium for conveying moral messages and local wisdom values that have been passed down from generation to generation. This research provides a deeper understanding of the rich culture and values that live in the traditional musical performance art Gendang Guro-Guro Aron.
Cultural Values and Preservation Efforts of the Karo Ethnic Ndikkar Dance in Lingga Village, Simpang Empat District Ginting, Yoe Anto; Gulo, Hubari
Formosa Journal of Science and Technology Vol. 2 No. 12 (2023): December 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjst.v2i12.7149

Abstract

The Ndikkar dance is a rich and valuable cultural heritage of the Karo tribe in Lingga Village, Simpang Empat District. This dance reflects deep cultural values and is an important part of the Karo ethnic identity. Social changes and the influence of modernization can threaten this dance's sustainability. This research aims to identify and analyze the cultural values of the Ndikkar dance and develop effective preservation strategies to maintain cultural continuity. The research method used is a qualitative method with an interactive model. Data collection using participant observation, interviews, and literature study to holistically understand the Ndikkar dance and its cultural context. The research results show that the Ndikkar dance contains various cultural values, including religious, social, and aesthetic values. There are various challenges, such as the changing values of the younger generation and a lack of institutional support, that could threaten the survival of this dance. Holistic conservation efforts involving community participation, strengthening cultural values in education, and collaboration between the government and the community are important keys to preserving the Ndikkar dance and Karo tribal culture as a whole.
Kajian Organologi Alat Musik Taganing Batak Toba Simanjuntak, Ruth Naradhea; Purba, Mauly; Ginting, Yoe Anto
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 8 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i8.2787

Abstract

Taganing merupakan  alat musik yang berasal dari Sumatera Utara Batak Toba. Alat musik ini masuk dalam klasifikasi Membranofon (alat musik yang sumber bunyinya dari membran atau kulit hewan). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis organologi alat musik tradisional Taganing Batak Toba dari aspek struktural dan fungsional. Masalah penelitian difokuskan pada pemahaman komprehensif mengenai struktur fisik, bahan baku, fungsi, dan teknik penyetelan (tuning) alat musik Taganing yang masih belum terdokumentasi secara akademis. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan dokumentasi terhadap pengrajin dan praktisi musik Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taganing merupakan alat musik membranofon yang terdiri dari enam komponen utama dengan lima buah gendang berukuran berbeda (odap-odap, Paidua Opdap, Painonga, Paidua Ting-Ting, dan Ting-Ting) serta satu gendang besar (Gordang). Bahan utama pembuatan menggunakan kayu nangka tua dengan membran kulit lembu atau kerbau. Sistem tuning dimulai dari Ting-ting sebagai nada dasar yang diselaraskan dengan Ogung Ihutan, mencerminkan filosofi "Marguru tu Taganing" dalam budaya Batak Toba. Implikasi penelitian ini memberikan kontribusi pada dokumentasi warisan budaya musik tradisional Indonesia dan dapat dijadikan referensi untuk pelestarian serta pengembangan alat musik tradisional Nusantara.
Lobat Pakpak: Kajian Organologi, Ritual, dan Teknik Permainan Pasaribu, Andika pranata; Fadlin, Fadlin; Ginting, Yoe Anto
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v5i2.991

Abstract

This study explores the ritual of making and the playing techniques of the Lobat Pakpak in Sukaramai Village, Kerajaan District, Pakpak Bharat Regency. The background of the research lies in the significance of the Lobat, which functions not only as a musical instrument but also as a medium of spirituality and cultural identity for the Pakpak community. The objectives are to describe the ritual process of crafting the Lobat, explain its playing techniques, and analyze the musical structure of its repertoire. The fieldwork was conducted over a one-week period starting on June 12 until completion, involving six key informants, including instrument makers, traditional players, and cultural leaders. The data were collected through participant observation, in-depth interviews, audio-visual recordings, and musical transcription. A qualitative method with an ethnographic approach was applied. Dhavamony’s theory was employed to examine ritual aspects, Kashima Susumu’s theory for organological study, and Malm and Prier’s theories for musical analysis. The findings reveal that the making of the Lobat combines technical craftsmanship with sacred rituals, while its performance emphasizes breath control, simple fingering, and pentatonic melodic patterns. Thus, the Lobat represents an intangible cultural heritage reflecting spirituality, local wisdom, and the identity of the Pakpak people.
Dissemination and Documentation of Pakpak Traditional Music for the Preservation and Development of Cultural Values Irfan Simatupang; Lister Berutu; Yoe Anto Ginting; Nurbani, Nurbani
INFOKUM Vol. 14 No. 01 (2026): Infokum, January - February 2026
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58471/infokum.v14i01.3065

Abstract

Pakpak traditional music is an integral part of the cultural heritage of the Pakpak ethnic community in North Sumatra, Indonesia. However, rapid social change, globalization, and declining intergenerational transmission have posed serious challenges to its sustainability. This study aims to disseminate and document Pakpak traditional music as a strategic effort to preserve and develop its cultural values. The activities were conducted through field observations, audio-visual documentation, interviews with traditional musicians and cultural leaders, and community-based workshops involving local youth and cultural practitioners. The documentation process focused on musical instruments, performance structures, symbolic meanings, and the social functions of Pakpak traditional music within community rituals and daily life. The results indicate that systematic dissemination through digital media and educational activities significantly increases community awareness and appreciation of Pakpak traditional music. Moreover, the documentation serves as an important cultural archive that supports cultural education, research, and future revitalization efforts. This study concludes that dissemination and documentation are essential approaches for sustaining Pakpak traditional music and strengthening local cultural identity in the face of modern cultural transformations.
VARIASI PENYAJIAN PRAKTIK ERMURO : DARI EKSPRESI SPIRITUAL HINGGA SUBSTITUSI TEKNOLOGI PADA MASYARAKAT KARO Saputra Ginting, Yosua; Naiborhu, Torang; Anto Ginting, Yoe
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 2 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i2.2026.649-654

Abstract

Modernisasi pertanian dan perubahan ekologi persawahan seringkali memicu pergeseran fungsi pada tradisi lisan agraris. Penelitian ini menelaah dinamika adaptasi pada tradisi Ermuro (menjaga padi) di masyarakat Karo, yang kini mengalami divergensi praktik akibat desakan efisiensi dan teknologi. Tujuan penelitian ini adalah memetakan tipologi variasi pelaksanaan Ermuro serta menganalisis transformasi nilai yang melatarbelakanginya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus komparatif di Desa Sukadame dan Desa Sukamaju, penelitian mengidentifikasi empat tipologi praktik yang berbeda secara signifikan. Pertama, Tipologi Spiritual-Katarsis, di mana nyanyian dipertahankan sebagai mekanisme doa dan terapi psikologis oleh perempuan lansia. Kedua, Tipologi Pragmatis-Domestik, yang dijalankan oleh laki-laki dengan orientasi pada afirmasi peran pencari nafkah dan produktivitas hasil. Ketiga, Tipologi Reduksi Performatif, yang ditandai dengan hilangnya elemen estetika musikal dan hanya menyisakan teriakan fungsional. Keempat, Tipologi Substitusi Teknologi, yakni penggantian agensi vokal manusia dengan perangkat audio mekanis yang memicu alienasi budaya. Temuan ini menyimpulkan bahwa tradisi Ermuro sedang mengalami gradasi fungsi yang drastis, bergerak dari aktivitas kontemplatif yang intim menuju aktivitas teknis yang bersifat mekanis.
Deskripsi Kajian Organologi Teknik Pembuatan dan Teknik Permainan Alat Musik Uyup-uyup Yosia Manik; Fadlin Fadlin; Yoe Anto Ginting
Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Penciptaan Seni - Mei (In-Press)
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jipsi.v6i1.998

Abstract

Uyup-uyup merupakan alat musik tradisional warisan budaya masyarakat Mandailing yang dibuat dari batang padi (batang ni eme) dengan lilitan daun kelapa muda berbentuk kerucut sebagai resonator. Instrumen ini berfungsi sebagai hiburan bagi para petani saat beristirahat di sawah pada masa panen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan serta teknik permainan uyup-uyup. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi, kerja lapangan, wawancara, dokumentasi, dan kerja laboratorium. Landasan teori mengacu pada pendekatan struktural dan fungsional Khasima Susumu, serta klasifikasi alat musik berdasarkan sumber bunyi menurut Curt Sach dan Horn Bostel. Proses pembuatan meliputi pemilihan bahan, penggunaan alat, pengukuran komponen, pembentukan, hingga tahap penyelesaian (finishing) untuk menghasilkan instrumen yang presisi. Teknik dasar permainannya mencakup tiupan mulut untuk menghasilkan bunyi serta teknik penjarian dengan membuka dan menutup lubang resonator guna mengatur nada. 
Tipologi Praktik Ermuro pada Masyarakat Karo : Dinamika Tradisi Lisan Agraris dan Modernisasi: Penelitian Yosua Saputra Ginting; Torang Naiborhu; Yoe Anto Ginting
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5960

Abstract

Modernisasi pertanian dan perubahan ekologi di lahan persawahan sering kali memicu pergeseran fungsi pada tradisi lisan agraris. Penelitian ini menelaah dinamika perubahan tradisi Ermuro (menjaga padi) pada masyarakat Karo yang kini mengalami divergensi praktik akibat desakan efisiensi dan teknologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan tipologi variasi pelaksanaan Ermuro sekaligus menganalisis transformasi nilai yang melatarbelakanginya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus komparatif di Kabupaten Deli Serdang, penelitian ini mengidentifikasi empat tipologi praktik yang berbeda secara signifikan. Pertama, Tipologi Spiritual-Katarsis, di mana nyanyian dipertahankan sebagai mekanisme doa dan terapi psikologis oleh perempuan lansia. Kedua, Tipologi Pragmatis-Domestik, yang dijalankan oleh laki-laki dengan orientasi pada afirmasi peran pencari nafkah dan produktivitas hasil. Ketiga, Tipologi Reduksi Performatif, yang ditandai dengan hilangnya elemen estetika musikal dan hanya menyisakan teriakan fungsional. Keempat, Tipologi Substitusi Teknologi, yakni penggantian agensi vokal manusia dengan perangkat audio mekanis yang memicu alienasi budaya. Temuan ini menyimpulkan bahwa tradisi Ermuro sedang mengalami gradasi fungsi yang drastis, bergerak dari aktivitas kontemplatif yang intim menuju aktivitas teknis yang bersifat mekanis