Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kebijakan tarif dan non-tarif pemerintah terhadap daya saing ekspor tembakau Indonesia di pasar internasional serta membandingkan efektivitas kedua instrumen tersebut dalam meningkatkan kinerja ekspor. Permasalahan utama yang melatarbelakangi penelitian ini adalah ketidakseimbangan antara upaya peningkatan ekspor komoditas tembakau sebagai sumber devisa dan penerapan regulasi kesehatan global yang ketat, yang menimbulkan hambatan kepatuhan dan menurunkan daya saing produk Indonesia. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis data sekunder dari publikasi resmi pemerintah, artikel ilmiah terakreditasi, serta laporan statistik perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tarif berpengaruh langsung terhadap struktur harga dan stabilitas pasokan tembakau, sehingga menjadi instrumen strategis dalam memperkuat daya saing melalui pengaturan harga dan perlindungan petani. Sementara itu, kebijakan non-tarif seperti sertifikasi mutu, standar teknis, pelabelan kesehatan, dan regulasi pengemasan terbukti menimbulkan hambatan signifikan berupa peningkatan biaya operasional dan penyempitan akses pasar, terutama bagi eksportir skala kecil, meskipun juga membuka peluang peningkatan kualitas dan inovasi produk berisiko rendah. Secara keseluruhan, efektivitas daya saing ekspor tembakau Indonesia memerlukan sinergi kebijakan adaptif dan dukungan pemerintah dalam fasilitasi sertifikasi, diplomasi perdagangan, dan modernisasi industri agar ekspor tetap berkelanjutan di tengah dinamika pasar global.