Senior high school students are generally within the age range of 15–18 years. In developmental psychology, this age range falls within adolescence (10–19 years). The developmental tasks of adolescent psychology consist of the achievement of emotional independence, the formation of self-identity, and the development of mature relationships with peers and members of the opposite sex. Adolescents also need to manage unstable emotions, accept physical changes, and develop intellectual maturity as well as a more realistic sense of morality in preparation for adulthood. Adolescents' emotional development often involves emotional turmoil and the search for self-identity. On the social side, adolescents experience increased interaction with peers and exploration of romantic relationships. Internal and external factors such as the family environment, peers, and social media also influence adolescent development. An understanding of emotion regulation, delivered through a half-day seminar, is expected to make a meaningful contribution to individuals who are part of urban society. This can help to foster social well-being. In turn, the development will serve as social capital for adolescents in their social interactions and relationships with others. The Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) scale was used to measure emotion regulation. This community service programme (Pengabdian Kepada Masyarakat/PKM) was carried out as an educational seminar with male and female students of SMA Bhinneka Tungga Ika in West Jakarta as the target audience. We collaborated with the partner institution to invite both students and teachers to participate in the seminar. ABSTRAK Siswa sekolah menengah atas (SMA) pada umumnya berada pada rentang usia 15-18 tahun. Dalam perkembangan psikologi rentang usia ini berada pada masa remaja yaitu dalam kategori 10-19 tahun. Tugas perkembangan psikologi remaja ada macam-macam, antara lain pencapaian kemandirian emosional, pembentukan identitas diri, dan pengembangan hubungan yang matang dengan teman sebaya dan lawan jenis. Remaja juga perlu mengelola emosi yang tidak stabil, menerima perubahan fisik, dan mengembangkan kematangan intelektual serta moralitas yang lebih realistis untuk memasuki kedewasaan. Perkembangan emosional remaja sering kali mencakup gejolak perasaan dan pencarian identitas diri. Di sisi sosial, remaja mengalami peningkatan dalam interaksi dengan teman sebaya dan eksplorasi dalam hubungan romantis. Faktor internal dan eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, dan media sosial juga mempengaruhi perkembangan remaja. Pemahamanan regulasi emosi yang diterangkan melalui pertemuan setengah hari dalam bentuk seminar kiranya dapat memberikan kontribusi kepada individu yang menjadi bagian dari masyarakat perkotaan, sehingga nantinya akan terbentuk social well-being, di mana hal ini akan menjadi modal sosial para remaja dalam pergaulan dan hubungannya dengan orang lain.Pengukuran untuk regulasi emosi dipergunakan skala Emotional Regulation Questionnaire (ERQ).PKM dilaksanakan sebagai seminar untuk edukasi kepada khalayak sasaran baik siswa laki-laki maupun perempuan yang bersekolah di SMA Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta Barat. Kerjasama dilakukan dengan pihak mitra baik dalam menyediakan siswa sebagai peserta, maupun mengajak para guru untuk berpartisipasi dalam kegiatan seminar yang diselenggarakan.