Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Upaya Optimalisasi Program Nasional Penanganan Stunting di RSUD Kabupaten Bekasi Subardi, Arda Yunita; Rizana, Ana; Komarudin, Heru; Yuliana, Roma
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan Program Prioritas Nasional Penurunan Stunting menjadi salah satu indikator mutu rumah sakit yang harus dilaksanakan sesuai standar (Kemenkes, 2022). Rumah sakit harus turut serta melaksanakan program penurunan prevalensi stunting dan wasting. Dalam mendukung Program Prioritas Nasional ini, rumah sakit melakukan intervensi dan pengelolaan gizi serta penguatan jejaring rujukan kepada rumah sakit kelas di bawahnya dan FKTP di wilayahnya serta rujukan masalah gizi. Rumah sakit harus mempunyai program penurunan prevalensi stunting dan wasting antara lain peningkatan pemahaman dan kesadaran seluruh staf, pasien dan keluarga tentang masalah stunting dan wasting, intervensi spesifik dan penerapan rumah sakit sayang ibu dan bayi (Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2022). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan perubahan mekanisme kerja dengan Inovasi Cantingmas untuk meningkatkan penanganan Stunting dan Risiko Stunting di RSUD Kabupaten Bekasi. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode case report yang mencakup kegiatan identifikasi masalah, analisa masalah, Plan of Action (POA), implementasi dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan dilaksanakan di RSUD Kabupaten Bekasi. Hasil evaluasi Program Inovasi didapatkan data antara lain terbentuknya Tim Stunting baik internal maupun eksternal (94%), komunikasi dan koordinasi tim yang baik (88%), perencanaan program penanganan stunting lebih terpadu, terdapat (94%), alur kerja yang lebih jelas (94%), proses rujukan internal menjadi lebih jelas/ terstruktur masing-masing sebesar 94%, pencatatan, pelaporan menjadi lebih baik dan terintegrasi sebesar 88%, adanya panduan penanganan stunting sebesar 76%, dan pelaksanaan asuhan pasien stunting sebesar 76%. Inovasi CANTINGMAS sebagai upaya peningkatan mutu penanganan Stunting di RSUD Kabupaten Bekasi telah berhasil dengan kategori nilai baik di atas 80%. Terdapat dua aspek dimana kedua aspek tersebut masing-masing memiliki nilai 76% sehingga perlu mendapatkan perhatian dan upaya perbaikan strategis dalam rangka meningkatkan mutu penanganan stunting/ risiko stunting di RSUD, yaitu tersedianya panduan penanganan stunting untuk PPA dan terlaksananya asuhan keperawatan pasien stunting sesuai dengan standar.
Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Pada Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Sosial-Emosional dan Kognitif Anak Prasekolah di Desa Babelan Kota Narumi, Narumi; Rizana, Ana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i11.10980

Abstract

ABSTRAK Orang tua memiliki peran penting untuk mengontrol dan mengawasi anak prasekolah dalam hal penggunaan gadget. pola asuh orang dalam pengontrolan penggunaan gadget pada anak usia prasekolah akan berdampak pada perkembangan sosial emosional kognitifnya. Sebab usia prasekolah merupakan rentang periode emas dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua pada penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial-emosional dan kognitif anak prasekolah di Desa Babelan Kota Tahun 2023. Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross sectional dan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling. Dengan jumlah responden sebesar 189. Menunjukkan terdapat hubungan antara pola asuh anak pada penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial-emosional p-value 0,058 dan perkembangan kognitif sebesar 0,010. Pada penelitian ini mayoritas pola asuh yang diberikan adalah pola asuh otoriter yang berpengaruh terhadap perkembangan sosial-emosional cukup baik dan perkembangan kognitif sesuai usia anak. Pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak disesuaikan terhadap pertumbuhan, perkembangan, aktivitas dan kondisi anak yang sesuai dengan usia anak prasekolah. Kata Kunci : Pola Asuh, Anak Prasekolah, Perkembangan Sosial-Emosinal dan Kognitif  ABSTRACT Parents have an important role to control and supervise preschool children in terms of gadget use. parenting patterns in controlling the use of gadgets in preschool children will have an impact on their cognitive social emotional development. Because preschool age is a range of golden periods in achieving optimal growth and development of children. To determine the relationship between parenting patterns on the use of gadgets on the socio-emotional and cognitive development of preschool children in Babelan Kota Village in 2023. The research used is quantitative with a cross sectional design and the sampling technique is done by simple random sampling. With a total of 189 respondents. Shows there is a relationship between parenting on the use of gadgets on social-emotional development p-value 0.058 and cognitive development of 0.010. In this study, the majority of parenting patterns given were authoritarian parenting patterns which affected socio-emotional development quite well and cognitive development according to the age of the child. Parenting patterns given by parents to children are adjusted to the growth, development, activities and conditions of children in accordance with the age of preschool children. Keywords: Parenting, Preschool Children, Socio-emotional and Cognitive Development.
Analisis Budaya Keselamatan Pasien sebagai Langkah Pengembangan Keselamatan Pasien di RSUD Kabupaten Bekasi Subardi, Arda Yunita; Rizana, Ana
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i7.13615

Abstract

ABSTRACT Good Patient Safety Culture in hospital may decrease the incidence related by patient safety.  World Health Organization (WHO, 2023) estimated that 1 in every 10 patients is harmed in health care and more than 3 million deaths occur annually due to unsafe care. There are as many as 4 in 100 people die from unsafe care in low-to-middle income countries. The purpose of this study’s are to analyze the patient safety culture among the staff by survey and evaluating culture as well as action which implement by the hospital. The study employs a mix method approach includes both quantitative and qualitative methods. Quantitative design use main data while score and percentage as an outcome of response from checklist based on AHRQ’s quostionaire as a quantitative study supported with qualitative study by in-depth interview. Measurement of Hospital Patient Safety Culture was carried out in Bekasi District Hospital (BDH) and responses were obtained one time. The result shows score at BDH in 2022 was 65%, categorized as Strong enough. Based on the culture category, there is 25% culture dimension was Strong, 58% culture dimension was Enough and 17% culture dimension was Weak. Culture dimension with Very Strong was Learning Organization (92%) and The Weakness was Staffing (36,3). The patient safety culture score at BDH was 65% which categorized as Strong enough. Dimension need to be maintained is Learning Organization. The other dimension needs attention and to be achieve with a strategic-improvement efforts to improve patient safety. BDH has to improve the patient safety program, create the work environment which the patient safety oriented as main priority, improve SPEAK UP program, positive reinforcement to increase motivation of incident report. Staffing evaluation such as Competence workforce recruitment, compatibility workload with number of staff, workforce planning, staff competence improvement which adjusted with standard of each profession by in-house training. Keywords: Safety Culture, Patient Safety Improvement, Bekasi District                 Hospital (BDH)  ABSTRAK Adanya budaya keselamatan karyawan rumah sakit yang baik dapat memperkecil timbulnya insiden yang berhubungan dengan keselamatan pasien. World Health Organization (WHO, 2023) memperkirakan 1 dari 10 pasien dirugikan dalam pelayanan kesehatan dan lebih dari 3 juta pasien meninggal akibat pelayanan yang tidak aman. Sedangkan sebanyak 4 dari 100  meninggal karena perawatan yang tidak aman terjadi pada negara berkapita rendah sampai menengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hasil survey budaya keselamatan pasien diantara staf dan mengevaluasi penerapan budaya keselamatan pasien di RSUD Kabupaten Bekasi. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan mix methode, baik metode kuantitatif dan kualitatif. Desain Kuantitatif menggunakan hasil skor survei budaya keselamatan pasien berdasarkan checklist dari AHRQ’s dan ditunjang data kualitatif melalui wawancara mendalam. Pengukuran budaya keselamatan pasien dilaksanakan di RSUD Kabupaten Bekasi dan dilakukan pengukuran satu kali. Hasil survei menunjukkan bahwa nilai budaya keselamatan pasien di RSUD Kab. Bekasi tahun 2022 sebesar 65%, dikategorikan dalam nilai sedang atau cukup kuat. Berdasarkan kategori nilai budaya, maka terdapat 25% dimensi budaya memiliki nilai kuat, 58% dimensi budaya memiliki nilai sedang, dan 17% dimensi budaya yang memiliki nilai lemah. Dimensi budaya yang memiliki nilai yang sangat kuat adalah pembelajaran organisasi sebesar 92% dan yang terlemah adalah staffing dengan nilai 36,3%. Budaya keselamatan pasien di RSUD Kabupaten Bekasi dalam kategori Cukup dengan nilai 65%. Dimensi budaya yang perlu dipertahankan adalah pembelajaran organisasi. Sedangkan dimensi budaya lain perlu mendapatkan perhatian dan upaya perbaikan strategis untuk meningkatkan keselamatan pasien di RSUD. RSUD Kabupaten Bekasi harus mengembangkan program keselamatan pasien dan menciptakan iklim kerja yang berorientasi pada keselamatan pasien sebagai prioritas utama, mengembangkan program SPEAK UP, Reinforcement positif untuk meningkatkan motivasi unit dalam pelaporan insiden. Evaluasi staffing meliputi perekrutan tenaga yang kompeten. Selain itu kesesuaian beban kerja dengan jumlah staf, perencanaan perekrutan tenaga, peningkatan kompetensi staf yang harus disesuaikan dengan standar tiap profesi melalui pelatihan ataupun in house training.  Keywords: Budaya Keselamatan, Pengembangan Keselamatan Pasien, RSUD Kabupaten Bekasi
Pengalaman Ibu dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah dalam Melakukan Perawatan Metode Kanguru di Rumah Rizana, Ana; Lusiana, Lusiana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i1.20246

Abstract

ABSTRACT Low birth weight (LBW) babies are babies whose weight is less than 2500 grams regardless of gestational age. Kangaroo Method Care (PMK) is an important intervention for LBW babies that involves skin-to-skin contact between mother and baby. This method aims to increase the baby's body temperature, provide a sense of security, and support the baby's physical and emotional development. LBW in carrying out PMK at home, as well as understanding the challenges and benefits experienced in carrying out PMK at home. This research used a qualitative phenomenological approach involving three mothers as participants selected through purposive sampling techniques. Data was collected through in-depth interviews which were recorded and transcribed, then analyzed using the Colaizzi method.From the data analysis, seven main the mes emerged, namely: Reasons for carrying out KMC: The mother's motivation to carry out KMC and the hope for her child's health makes the mother continue to carry out KMC. Time for implementing KMC: The duration and frequency of implementing KMC depends on the condition and abilities of the mother and baby.  Benefit of KMC: The mother feels a positive emotional response and calm during KMC. Social Support and Health Workers: Support from family, social groups and health workers plays a very important role in implementing KMC. Challenges and obstacles in implementation: Mother's anxiety level is the main obstacle factor in carrying out PMK at home. Mother's level of knowledge about PMK: In implementing PMK at home, mothers have different levels of knowledge and understanding about PMK, Solutions and strategies for facing obstacles: Motivation from within is the solution in facing obstacles. This research requires support from health workers and the social environment to increase mothers' knowledge, abilities and motivation about the importance of FMD for LBW babies. The results of the research provide recommendations for developing educational programs for mothers who have LBW babies, as well as the need for more attention to the psychological condition of mothers during care at home. It is hoped that this research can serve as a guide for further research and improve the quality of care for LBW babies in the community. Keywords: LBW, KMC, Babies.  ABSTRAK Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang berat badannya kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan intervensi penting bagi bayi BBLR yang melibatkan kontak kulit antara ibu dan bayi. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan suhu tubuh bayi, memberikan rasa aman, dan mendukung perkembangan fisik serta emosional bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman ibu dengan bayi BBLR dalam melaksanakan PMK di rumah, serta memahami tantangan dan manfaat yang di alami dalam melakukan PMK di rumah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan melibatkan tiga ibu sebagai partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang direkam dan ditranskrip, kemudian dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Dari analisis data, muncul tujuh tema utama, yaitu: Alasan Melakukan PMK : Motivasi ibu untuk melakukan PMK dan harapan untukkesehatan anaknya menjadikan ibu tetap melakukan PMK, Waktu Pelaksanaan PMK : Durasi dan frekuensi pelaksanaan PMK tergantung dari kondisi dan kemampuan ibu dan bayi, Manfaat PMK: Ibu merasakan respon emosi yang positif dan ketenangan saat PMK, Dukungan Sosial dan Tenaga Kesehatan: Dukungan dari keluarga, kelompok sosial dan tenaga kesehatan sangat berperan dalam pelaksanaan PMK. Tantangan dan hambatan dalam Pelaksanaan : Tingkat kecemasan ibu menjadi faktor hambatn utama dalam melakukan PMK di rumah, Tingkat Pengetahuan Ibu tentang PMK : Dalam pelaksaan PMK di rumah, ibu memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman yang berbeda tentang PMK, Solusi dan strategi Menghadapi Hambatan : Motivasi dari dalam diri menjadi solusi dalam menghadapi hambatan. Penelitian ini membutuhkan dukungan dari tenaga kesehatan dan lingkungan sosial untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan motivasi ibu tentang pentingnya PMK bagi bayi BBLR. Hasil penelitian memberikan rekomendasi untuk pengembangan program edukasi bagi ibu yang memiliki bayi BBLR, serta perlunya perhatian lebih terhadap kondisi psikologis ibu selama perawatan di rumah.Penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi penelitian selanjutnya dan meningkatkan kualitas perawatan bagi bayi BBLR di masyarakat. Kata Kunci: BBLR, PMK, Bayi.
Hubungan Pelaksanaan Discharge Planning dengan Kesiapan Pulang Keluarga Pasien Anak dengan Tuberkulosis Paru di RSUD Kabupaten Karawang Carliyan, Sep; Rizana, Ana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i1.20139

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis. Pulmonary tuberculosis is characterized by coughing with phlegm for approximately 2 weeks. Coughing with phlegm mixed with blood, coughing up blood, shortness of breath, weakness, decreased appetite, weight loss, malaise, night sweats, fever accompanied by chills for more than a month. Some patients with pulmonary tuberculosis must undergo hospitalization. During hospitalization, patients with pulmonary tuberculosis require various professional actions. Many aspects need to be communicated, including knowledge, information, care, improving health status and treatment compliance and prevention of transmission. To determine the relationship between the implementation of discharge planning and the readiness to go home of families of pediatric patients with pulmonary tuberculosis at the Karawang District Hospital. The research sample was taken using the accidental sampling technique. This study used a quantitative descriptive analytical research design with a cross-sectional design. The data collection tool used a questionnaire sheet. The study showed that respondents who assessed the implementation of Discharge Planning in the good category had a readiness to go home value in the good category, which was 82.6%. From the results of the statistical test (Chi Square), a p value of 0.000 alpha (0.05) was obtained, so Ho was rejected/Ha was accepted, meaning that there was a significant statistical relationship between the implementation of discharge planning and the readiness to go home of the families of pediatric patients with pulmonary tuberculosis at the Karawang Regency Hospital in 2024. From this study, there is a significant relationship between the implementation of discharge planning and the readiness to go home of the families of pediatric patients with pulmonary tuberculosis at the Karawang Regency Hospital in 2024. Keywords: Tuberculosis Concept, Implementation of Discharge Planning, and Concept Readiness to Go Home, Family Concept.  ABSTRAK Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Tuberkulosis paru ditandai dengan batuk disertai dahak selama kurang lebih 2 minggu. Batuk disertai dengan dahak yang bercampur darah, batuk berdarah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat pada malam hari, demam disertai meriang lebih dari satu bulan. Beberapa penderita tuberkulosis paru harus menjalani perawatan di rumah sakit. Selama perawatan di rumah sakit pasien dengan tuberkulosis paru membutuhkan berbagai macam tindakan yang bersifat professional. Banyak aspek yang perlu dikomunikasikan diantaranya pengetahuan, informasi, perawatan, meningkatkan status kesehatan dan kepatuhan pengobatan maupun pencegahan penularan. Mengetahui Hubungan pelaksanaan discharge planning dengan kesiapan pulang keluarga pasien anak dengan tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Karawang. Pengambilan sampel penelitian menggunakan Teknik accidental sampling. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Alat pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Penelitian menunjukkan bahwa responden yang menilai pelaksanaan Discharge Planning dalam kategori baik memiliki nilai kesiapan untuk pulang dalam kategori baik pula yaitu sebesar 82,6%. Dari hasil uji statistik (Chi Square) diperoleh nilai p value 0,000 alpha (0,05) maka Ho ditolak/Ha diterima, artinya terdapat hubungan statistik yang bermakna antara pelaksanaan discharge planning dengan kesiapan pulang keluarga pasien anak dengan tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2024. Dari penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara pelaksanaan discharge planning dengan kesiapan pulang keluarga pasien anak dengan tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Karawang tahun 2024.                    Kata Kunci: Konsep Tuberkulosis, Pelaksanaan Discharge Planning, dan konsep Kesiapan Pulang, Konsep Keluarga.
Gambaran Karakteristik Perilaku Bullying pada Anak SMP Kelas 1-2 di Sekolah Assa Addah Kota Bekasi Rizana, Ana; Saleh, Rina Karlina M.
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i1.20133

Abstract

ABSTRACT Bullying is a common problem throughout the world America (35 percent), Europe, Central Asia (32 percent), andIndonesia (21 percent), this shows that Indonesia is ranked 4th highest in the number of bullying cases that year. Based on data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) in 2019, out of 161 cases reported to the school, 36 cases (22.4%) involved children who experienced bullying and violence, and 41 cases (25.5%) involved children who committed bullying and violence. To describe the picture of bullying behavior in junior high school students in grades 1-2 at the Assa'Addah Islamic School in Bekasi City in .. Research Method: the research method is a random sampling survey method and the number of respondents is 92 students. Results of the study, the gender is mostly male 55 people (59.8%), based on the age of the respondents, the majority are in the range of 14 years (64.1%) respondents, while based on the results of the history of bullying, 62% of respondents had been victims of bullying before attending Assa Addah Middle School in Bekasi City. physical bullying behavior as many as 35 respondents (38%) never experienced physical bullying, often experienced physical bullying as many as 29 respondents (31%), always experienced bullying as many as 20 respondents (22%), sometimes as many as 8 respondents (9%), and rarely 0%. Verbal bullying behavior as many as 37 respondents (40%) who never experienced verbal bullying, respondents who sometimes experienced verbal bullying as many as 28 respondents (27.1%), respondents who were often verbally bullied as many as 18 respondents (20%), rarely as many as 11 respondents (11.9%), and always experienced verbal bullying as many as 1 respondent (1%). Mental and psychological bullying as many as 38 respondents (41%) sometimes experience mental and psychological bullying, never experience bullying as many as 38 respondents (41%), often experience mental bullying as many as 17 respondents (19%), and respondents who rarely and often experience mental bullying none (0%). Cyber  bullying behavior as many as 42 respondents (46%) stated that they had never experienced it, sometimes experience cyber bullying as many as 35 respondents (33%), often as many as 12 respondents (13%), always as many as 3 respondents (3%), and respondents who rarely experience cyber bullying none (0%). Keywords: Bullying Behavior, Physical Bullying, Verbal Bullying, Mental and Psychological Bullying, Cyber Bullying. ABSTRAK Bullying adalah masalah yang sering terjadi di seluruh dunia Amerika (35 persen), Eropa, Asia Tengah (32 persen), dan Indonesia (21 persen), ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan ke-4 tertinggi dalam jumlah kasus bullying pada tahun tersebut. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2019 dari 161 kasus yangdilaporkan ke pihak sekolah, 36 kasus (22,4%) melibatkan anak yang mengalami bullying dan kekerasan, dan 41 kasus (25,5%) melibatkan anak yang melakukan bullying dan kekerasan. Mendeskripsikan gambaran perilaku bullying pada siswa SMP kelas 1-2 di sekolah Islam Assa'Addah Kota Bekasi tahun. Metode peneliian metode survey random sampling dan jumlah responden sebanyak 92 siswa. Hasil penelitian jenis kelamin terbanyak adalah laki laki 55 orang (59,8%),berdasarkan usia responden terbanyak berusia pada rentang 14 tahun (64,1%) responden, sedangkan berdasarkan hasil riwayat bullying sebanyak 62% responden pernah menjadi korban bullying sebelum bersekolah di SMP Assa Addah Kota Bekasi. Perilaku bullying fisik sebanyak 35 responden (38%) tidak pernah mengalami bullying fisik, sering mengalami bullying fisik sebanyak 29 responden (31%), selalu mengalami bullying sebanyak 20 responden (22%), kadang-kadang sebanyak 8 responden (9%), dan jarang 0%. Perilaku bullying verbal sebanyak 37 responden (40%) yang tidak pernah mengalami bullying verbal, responden yang kadang-kadang mengalami bullying verbal sebanyak 28 responden (27,1%), responden yang sering dibully secara verbal sebanyak 18 responden (20%), jarang sebanyak 11 responden (11,9%), dan selalu mengalami bully secara verbal sebanyak 1 responden (1%). bullying mental dan psikologis sebanyak 38 responden (41%) kadang-kadang mengalami bullying mental dan psikologis, tidak pernah mengalami bully sebanyak 38 responden (41%), sering mengalami bullying mental sebanyak 17 responden (19%), dan responden yang jarang dan sering mengalami bullying mental tidak ada (0%).perilaku cyber bullying sebanyak 42 responden (46%) menyatakan tidak pernah mengalami, kadang-kadang mengalami cyber bullying sebanyak 35 responden (33%), sering sebanyak 12 responden (13%), selalu sebanyak 3 responden (3%), dan responden yang jarang mengalami cyber bullying tidak ada (0%). Kata Kunci: Perilaku Bullying, Bullying fisik, Bullying Verbal, Bullying Mental dan Psikologis, Bullying Cyber.