Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MENGHARMONISASIKAN TRADISI DAN MODERNITAS Penerapan Filsafat Progresivisme di Pesantren Amrullah, Arfan; Lail, M. Khabib Jamlalul; Khobir, Abdul; Rafi, Muhammad
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 2 (2025): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v4i2.12936

Abstract

This study examines the harmonization of tradition and modernity through the application of progressivism philosophy in Islamic boarding schools (pesantren) as Islamic educational institutions adapting to global dynamics. Employing a qualitative method based on questionnaires, this research explores the perspectives of students (santri) and pesantren administrators regarding integration strategies, challenges, and the impact of progressivism implementation within the pesantren educational system. The findings reveal a high level of awareness among pesantren educational actors concerning the urgency of curriculum reform to align with contemporary demands. Nevertheless, the application of progressivism faces significant challenges, including limited technological resources, cultural resistance from surrounding communities, and insufficient readiness of educators to adopt modern teaching approaches. The integration of technology, particularly through digital applications in Qur'an memorization, has proven to be an effective instrument in bridging traditional heritage with modern demands. This study recommends strengthening educators’ capacities, developing technological infrastructure, and fostering multi-stakeholder collaboration to accelerate pesantren’s adaptation as an inclusive, adaptive, and relevant Islamic education model in the era of globalization, while preserving its traditional roots.Abstrak Penelitian ini mengkaji harmonisasi tradisi dan modernitas melalui penerapan filsafat progresivisme di pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang tengah beradaptasi dengan dinamika global. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis kuesioner, studi ini mengeksplorasi pandangan santri dan pengelola pesantren mengenai strategi integrasi, kendala, serta dampak implementasi progresivisme dalam sistem pendidikan pesantren. Hasil temuan menunjukkan tingginya kesadaran aktor pendidikan pesantren akan urgensi pembaruan kurikulum agar selaras dengan kebutuhan zaman. Namun demikian, penerapan filsafat progresivisme dihadapkan pada tantangan signifikan, seperti keterbatasan sumber daya teknologi, resistensi budaya dari lingkungan sekitar, serta minimnya kesiapan pendidik dalam mengadopsi pendekatan pembelajaran modern. Integrasi teknologi, khususnya melalui aplikasi digital dalam pembelajaran Al-Qur’an, terbukti menjadi instrumen efektif dalam menjembatani antara warisan tradisional dan tuntutan modernitas. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas pendidik, pengembangan infrastruktur teknologi, serta kolaborasi multipihak guna mempercepat adaptasi pesantren sebagai model pendidikan Islam yang inklusif, adaptif, dan relevan di era globalisasi, tanpa menghilangkan akar tradisi yang menjadi identitasnya
Antara Persepsi Feodalisme dan Realitas Adab: Analisis Narasi Media Sosial tentang Pesantren Amrullah, Arfan; Melisa Fauzia Nastiti; Umi Musyarofah; Ayesha Sahda Areefa Solihin; Muhlisin
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 2 No 2 (2025): 2025
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v2i2.486

Abstract

Perdebatan mengenai relasi kiai–santri di ruang digital meningkat seiring berkembangnya media sosial sebagai arena pembentukan opini publik tentang pesantren. Narasi tentang “adab” dan tuduhan “feodalisme” sering berkelindan, menciptakan ketegangan diskursif antara nilai tradisional dan ekspektasi masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan konstruksi narasi tersebut serta menganalisis bagaimana pengguna media sosial mengartikulasikan, menegosiasikan, atau mempertentangkan makna otoritas dan pendidikan moral dalam konteks pesantren. Penelitian ini menggunakan metode netnografi kualitatif dengan pengumpulan data berupa komentar, unggahan, dan percakapan publik di platform seperti X, TikTok, dan Instagram yang relevan dengan isu relasi kiai–santri. Analisis data dilakukan melalui teknik thematic coding untuk mengidentifikasi pola naratif dan kategori diskursif yang dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi adab umumnya diasosiasikan dengan pembentukan karakter, penghormatan terhadap otoritas keilmuan, dan transmisi nilai moral. Sebaliknya, narasi feodalisme muncul terutama dalam konteks viralitas kasus kekerasan, hubungan kuasa yang tidak transparan, dan pengalaman negatif alumni. Interaksi kedua narasi memperlihatkan adanya tarik-menarik legitimasi, di mana sebagian pengguna berupaya mempertahankan otoritas tradisional sementara yang lain menuntut akuntabilitas yang lebih besar. Selain itu, penelitian menemukan bahwa dinamika diskursif sangat dipengaruhi oleh algoritme viralitas, selektivitas konten, serta konteks sosial pengguna media. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi digital tentang pesantren tidak monolitik, melainkan hasil negosiasi terus-menerus antara nilai tradisional dan tuntutan modernitas.
The Talaq Phenomenon In The Digital Era: An Analysis Of Divorce Law Through Social Media In The Perspective Of Fiqh And Indonesian Laws Amrullah, Arfan; Khabib Jamalullail; Mohammad Syaifuddin
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3181

Abstract

The phenomenon of divorce (talaq) in the digital era has become an increasingly complex issue alongside the rapid development of communication technology, particularly the use of social media as a medium for pronouncing divorce. This research is significant because it addresses the discrepancy between Islamic jurisprudence, in which some scholars consider talaq via digital media valid if it fulfills the requirements of fiqh, and Indonesian positive law, which mandates that divorce must be carried out through the Religious Court to obtain legal certainty. This study employs a qualitative method with a library research approach, analyzing literature from scholarly journals, books, and relevant legal regulations. The findings indicate that online talaq may result in unregistered divorce without legal recognition, which affects the rights of wives, children, and the family’s administrative status. Moreover, the gap between fiqh and state law creates vulnerabilities to the misuse of digital platforms in family law practices. The study suggests the need for clearer legal regulations, improvement of legal and digital literacy, and stronger collaboration between scholars, academics, and policymakers to address the challenges of digital divorce in Indonesia.