Perdebatan mengenai relasi kiai–santri di ruang digital meningkat seiring berkembangnya media sosial sebagai arena pembentukan opini publik tentang pesantren. Narasi tentang “adab” dan tuduhan “feodalisme” sering berkelindan, menciptakan ketegangan diskursif antara nilai tradisional dan ekspektasi masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan konstruksi narasi tersebut serta menganalisis bagaimana pengguna media sosial mengartikulasikan, menegosiasikan, atau mempertentangkan makna otoritas dan pendidikan moral dalam konteks pesantren. Penelitian ini menggunakan metode netnografi kualitatif dengan pengumpulan data berupa komentar, unggahan, dan percakapan publik di platform seperti X, TikTok, dan Instagram yang relevan dengan isu relasi kiai–santri. Analisis data dilakukan melalui teknik thematic coding untuk mengidentifikasi pola naratif dan kategori diskursif yang dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi adab umumnya diasosiasikan dengan pembentukan karakter, penghormatan terhadap otoritas keilmuan, dan transmisi nilai moral. Sebaliknya, narasi feodalisme muncul terutama dalam konteks viralitas kasus kekerasan, hubungan kuasa yang tidak transparan, dan pengalaman negatif alumni. Interaksi kedua narasi memperlihatkan adanya tarik-menarik legitimasi, di mana sebagian pengguna berupaya mempertahankan otoritas tradisional sementara yang lain menuntut akuntabilitas yang lebih besar. Selain itu, penelitian menemukan bahwa dinamika diskursif sangat dipengaruhi oleh algoritme viralitas, selektivitas konten, serta konteks sosial pengguna media. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi digital tentang pesantren tidak monolitik, melainkan hasil negosiasi terus-menerus antara nilai tradisional dan tuntutan modernitas.
Copyrights © 2025