Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Jumlah Tenaga Kerja pada Industri Tahu dengan Metode Work Load Analysis dan Work Force Analysis (Studi Kasus: Industri Tahu Bintang Samarinda) Haikal, Achmad Fikri
JOURNAL OF INDUSTRIAL AND MANUFACTURE ENGINEERING Vol. 8 No. 1 (2024): EDISI MEI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jime.v8i1.10207

Abstract

Industri Tahu Bintang merupakan UKM yang memproduksi makanan yaitu Tahu dengan menggunakan 6 tenaga kerja produksi dan rata-rata produksi harian sebesar 450 kg. Penelitian ini dilakukan pada proses produksi tahu dengan urutan proses kerja yaitu Proses perendaman (elemen 1), proses pencucian dan penggilingan (elemen 2), proses perebusan (elemen 3), proses penyaringan (elemen 4), proses Proses Pemberian cuka dan pemisahan sari kedelai dengan cuka (elemen 5), dan Proses Pencetakan dan pemotongan (elemen 6). Latar belakang penulisan skripsi ini dikarenakan adanya informasi dari pemilik usaha terkait dengan beban kerja dari pekerja yang tidak optimal sehingga pemilik ingin mengetahui jumlah tenaga kerja optimal dan adanya peningkatan permintaan pada event tertentu yang menyebabkan penyesuaian-penyesuaian untuk memenuhi target produksi. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan mengenai analisis beban kerja, dan penentuan jumlah tenaga kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Stopwacth Time Study, Work Load Analysis (WLA), dan Work Force Analysis (WFA). Dengan menggunakan metode WLA dan WFA, didapatkan data-data dari tiap elemen yaitu pada elemen 1 waktu baku yang dimiliki yaitu 98,19 detik dengan WLA 2,05 dan WFA 2,05, pada elemen 2 waktu baku yang dimiliki yaitu 573,96 detik dengan WLA 1,79 dan WFA 1,79, pada elemen 3 waktu baku yang dimiliki yaitu 179,25 detik dengan WLA 0,56 dan WFA 0,56, pada elemen 4 waktu baku yang dimiliki yaitu 293,28 detik dengan WLA 0,92 dan WFA 0,92, pada elemen 5 waktu baku yang dimiliki yaitu 575,91 detik dengan WLA 1,8 dan WFA 1,8, pada elemen 6 waktu baku yang dimiliki yaitu 766,07 detik dengan WLA 2,39 dan WFA 2,39.
PENGARUH MATERIAL LOKAL KEDIRI TERHADAP TINGKAT DURABILITAS LAPIS STRUKTUR JALAN Kurnia, Achmad Khabib; Cahyono, Andri Dwi; Mustofa, Imam; Hidiyati, Evita Fitrianis; Yuliawan, Ricco Dwi; Permady, Tantra Tegar; Haikal, Achmad Fikri; Khayatin, Dwi Nur; Pratama, Audy Yoga
Jurnal Riset Rekayasa Sipil Vol 7, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jrrs.v7i1.79196

Abstract

Air conditioning or asphalt concrete is formed from coarse aggregate, fine aggregate, and asphalt. An aggregate is a collection of grains of crushed stone, gravel, sand, and other minerals in the form of both natural and artificial products. Coarse aggregate is sieve holder No. 8 (2.36 mm) retained aggregate while fine aggregate is sieve No. 8 (2.36 mm) passed aggregate. The problems that often occur in road pavement layers are poor durability and surfaces that are easy to wear out. This study aimed to find the maximum marshall value in the form of 60/70 penetration asphalt mixture stability. This study used an experimental method with a laston AC-BC test, the test was carried out with abrasion, gradation, specific gravity, and Marshal testing tests using marshal test equipment, following SNI 06-2489-1991, or AASHTO T245-90, or ASTM D1559-76. Using aggregates from the Kedak area, stability results of 3046, 4896, 3754 were obtained, which met the standards of the Bina Marga specifications standards. So that the aggregate from the Kedak area can be used as an alternative constituent material in road planning in the Kediri area because it is more efficient and has good durability.