Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CALLUS INDUCTION IN Kappaphycus alvarezii USING INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) and 6-BENZYLAMINOPURINE (BAP) FOR SEEDSTOCK DEVELOPMENT Mulyono, Mugi; Salsabila, Mutia Safa; Rasnijal, Muhammad; Fadilah, Siti; Putra, Angkasa
Indonesian Aquaculture Journal Vol 20, No 1 (2025): (June, 2025)
Publisher : Agency for Marine and Fisheries Extension and Human Resources

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/iaj.20.1.2025.1-10

Abstract

The commercially important red seaweed Kappaphycus alvarezii is extensively cultivated for carrageenan production. Despite its economic value, large-scale reproduction and genetic enhancement remain limited due to its low regeneration potential. This study aimed to optimize plant growth regulator (PGR) concentrations for efficient callus induction in K. alvarezii. A completely randomized design was employed, comprising five treatments with varying concentrations of indole-3-acetic acid (IAA) and 6-benzylaminopurine (BAP), along with a control lacking PGRs. A total of 180 explants from meristematic tissues of acclimatized thalli were cultured (30 explants per treatment). The highest callus induction rate (88%) was achieved with 1.50 mg/L IAA and 5 mg/L BAP (Treatment F), with visible callus formation beginning around day 38. A progressive color change from brown to white was observed, indicating active cellular proliferation. Other treatments exhibited lower induction rates, ranging from 0% (control) to 61% (Treatment D). These findings underscore the critical influence of auxin–cytokinin interactions on callogenesis and offer an optimized hormonal regime for improving in vitro culture efficiency. The established protocol provides a valuable platform for future large-scale propagation and genetic improvement strategies in K. alvarezii, contributing to the advancement of seaweed biotechnology.
PENGARUH PENAMBAHAN ZAT PENGATUR TUMBUH Indoled Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Adenin (BA) PADA PERTUMBUHAN KALUS RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii SECARA IN VITRO DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU TAKALAR, SULAWESI SELATAN Salsabila, Mutia Safa; Rahayu, Tb. Haeru; Mulyono, Mugi
Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam Vol 7, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bjsj.v7i1.13367

Abstract

Rumput laut secara ekonomis menjadi penting karena mengandung karagenan, agar, dan alginat. Potensinya yang tinggi menggerakkan usaha budidaya rumput laut secara masif diberbagai wilayah laut Indonesia. Namunsaat ini produktifitas rumput laut belum optimal karena bibit berasal dari alam tidak kontinu dan bergantung pada musim, disamping adanya penurunan kualitas genetik, kualitas lingkungan dan penyakit. Kultur jaringan rumput laut menunjang pengembangan usaha budidaya dengan penyediaan bibit berkualitas secara kontinyu tanpadipengaruhi oleh musim. Perekayasaan bertujuan melakukan perbanyakan bibit Kappaphycus alvarezii dengan teknik kultur jaringan. Parameter kerekayasaan meliputi metode pengadaptasian indukan kandidat eksplan, formulasi zat pengatur tumbuh (ZPT) induksi kalus dan embrio somatik, serta mikropropagul. Hasil penelitian menunjukkan pengadaptasian indukan rumput laut dilakukan dengan penambahan pupuk PES 5ml/L, Penelitian ini dilakukan selama 75 hari). Terdapat 6 perlakuan dengan berbagai macam dosis yaitu pada perlakuan (A : 0 mg/l IAA dan 0 mg/l BA), (B : 0,50 mg/l IAA dan 1 mg/l BA), (C : 0,75 mg/l IAA dan 2mg/l BA), (D : 1 mg/l IAA dan 3 mg/l BA), (E : 1,25 mg/l IAA dan 4 mg/l BA), dan (F : 1,50 mg/l IAA dan 5 mg/l BA), dimana masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. . Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi formulasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Indole Acetic Acid (IAA) dan Benzyl Adenin (BA) berpengaruh sangat nyata terhadap laju regenerasi, sintasan dan struktur kalus terhadap pertumbuhan kalus rumput laut K. alvarezii yang terbaik pada perlakuan F dengan konsentrasi 1,50 mg/l IAA dan 5 mg/l BA menghasilkan, sintasan rata-rata sebesar 88,88%, dan struktur kalus yang terbentuk ialah kristal dan berwarna putih. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, Kultur jaringan, Zat Pengatur Tumbuh