Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbaikan Klinis Green Nail Syndrome yang Signifikan pada Lanjut Usia dengan Terapi Kombinasi: Sebuah Serial Kasus Marizki Ramadhani, Reinanda; Nadia Yusharyahya, Shannaz; Legiawati, Lili; Astriningrum, Rinadewi; Gunardi, Keiko Yolanda; Reshinta, Reisa
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 31 No 2 (2025): MARCH
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v31i2.3383

Abstract

Introduction: Green nail syndrome is a common bacterial infection of the nails and is characterized by green discolouration of the nail plate caused by Pseudomonas aeruginosa. It frequently occurs in people who are exposed to constant water and due to mechanical trauma, especially in elderly patients. Case Illustration: We reported 2 cases treated with a combination therapy of oral ciprofloxacin, 1% acetic acid dressing, gentamicin ointment and showed a significant clinical improvement. There are two cases: a 67-year-old man and a 64-year-old woman complained of black-greenish discolouration on his right big toenail, which has been accompanied by changes in the shape of the nail for 3 months. Both patients have a history of frequent and prolonged contact with water—dermoscopy results in greenish-black discolouration in the nail plate.  The culture results of both patients, Pseudomonas aeruginosa was found. Combination treatment showed significant clinical improvement in both patients. Discussion: Dressing of 1% acetic acid was useful as an adjuvant to improve the ointment penetration, inhibiting the formation of Pseudomonas aeruginosa biofilms. Gentamicin and ciprofloxacin are effective against aerobic gram-negative bacterial infections, such as Pseudomonas aeruginosa. Conclusion: The use of ciprofloxacin is recommended, especially in elderly patients. Combination therapy with oral ciprofloxacin, 1% acetic acid dressing, and gentamicin ointment is an effective option for patients with green nail syndrome
PITYRIASIS LICHENOIDES PASCA VAKSINASI mRNA COVID-19 Laurensia, Riani; Nadia Yusharyahya, Shannaz; Legiawati, Lili; Astriningrum, Rinadewi; Rihatmadja, Rahadi; Andrianus, Kenny
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.514

Abstract

   Pendahuluan: Pityriasis lichenoides (PL) merupakan spektrum kelainan kulit yang tumpang tindih secara klinis maupun histopatologis dengan dua bentuk utama yaitu pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA) dan pityriasis lichenoides chronica (PLC). Sekitar 20% PL terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Beberapa publikasi ilmiah melaporkan PL pascavaksinasi coronavirus disease (COVID-19). Kasus: Seorang laki-laki, 64 tahun didiagnosis PL, 4 hari pascavaksinasi COVID-19 booster pertama Pfizer® sejak 14 bulan lalu. Pemeriksaan dermoskopi ditemukan dotted vessels, yellowish-orange structureless area, vesicles with red background. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan D-dimer 490 mG/L dan IgE 730 IU/ml. Pemeriksaan histopatologi kulit sesuai PLEVA, ditemukannya eosinofil dipertimbangkan sebagai hipersensitivitas vaksin. Perbaikan klinis signifikan tercapai dengan terapi metilprednisolon setara prednison 0.5 mg/kgBB dan doksisiklin selama 2 minggu. Diskusi: : Patogenesis PL disebabkan oleh peningkatan kompleks imun, deposit IgM, dan C3 pada vaskular taut dermo-epidermal, serta kumpulan sel sitotoksik pada dermis dan epidermis yang berkorelasi dengan hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan vaksin. Pemeriksaan histopatologi membantu menegakkan diagnosis. Terapi kortikosteroid dan doksisiklin memberikan respon terapi dan luaran klinis yang baik pada P. Simpulan: Kasus PL pascavaksinasi Pfizer® COVID-19, perbaikan klinis dengan terapi kortikosteroid dan doksisiklin, serta pentingnya mengawasi efek samping pascavaksinasi, pemeriksaan klinis dan evaluasi histopatologi penting dalam penegakan diagnosis.
Acrokeratosis Verruciformis of Hopf: Atypical Clinical Presentation Yolanda, Keiko; Rihatmadja, Rahadi; Nadia Yusharyahya, Shannaz
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.539

Abstract

   Pendahuluan: Acrokeratosis verruciformis of Hopf atau acrokeratosis verruciformis (AKV) merupakan kelainan genodermatosis langka yang diturunkan secara autosomal dominan dengan karakteristik klinis berupa papul verukosa sewarna kulit hiperkeratotik multipel, dengan predileksi utama pada punggung tangan, kaki, lutut, siku, dan lengan. Kasus: Seorang pasien laki-laki usia 70 tahun dengan papul hiperkeratotik sewarna kulit multipel pada lengan bawah kanan. Tidak ada keluhan subjektif berupa gatal atau nyeri. Awalnya di diagnosis sebagai liken amiloidosis dengan diagnosis banding liken nitidus. Setelah dilakukan pemeriksaan histopatologis ditemukan gambaran hiperkeratosis masif, akantosis, hiperplasia psoriasiformis, parakeratosis setempat, hipergranulosis, peningkatan melanin, melanosit cukup meningkat, terdapat penonjolan pada epidermis yang menyerupai gambaran “church spire”. Oleh karena itu, diagnosis yang ditegakkan menjadi Acrokeratosis verruciformis of Hopf. Diskusi: Penegakan diagnosis AKV berdasarkan klinis dan histopatologis. Diagnosis banding penyakit Darier juga perlu dipertimbangkan. AKV biasanya terjadi saat masa kanak-kanak namun dapat terjadi pada akhir dekade kelima. Pada pasien geriatri ini didapatkan presentasi klinis tidak khas namun didukung gambaran histopatologi yang patognomonik yaitu “church spire”. Simpulan: Korelasi dari klinikopatologi penting untuk menegakkan diagnosis AKV dengan gejala klinis atipik. Penting untuk mengetahui tanda patognomik yang khas agar diagnosis penyakit langka AKV ini dapat ditegakkan sesegera mungkin.