Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Qisas Punishment Imposed by Surambi Court in Kasunanan of Surakarta Post Palihan Nagari Kasiran, Sugiarti; D. Dienaputra, Reiza; Nugraha, Awaludin; Kartika, N.
Al-Daulah: Jurnal Hukum dan Perundangan Islam Vol. 11 No. 1 (2021): April
Publisher : Prodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/ad.2021.11.1.102-122

Abstract

Surambi Court began in the time of Sunan Paku Buwono IV ruling in 1788-1820 M. Surambi as the highest court was authorized to pass judgments over serious crimes, including murder cases in Surakarta. Back in the time, soldiers assigned to executing the punishment were established: Nirbaya, Martalulut, and Singanagara. Surakarta was the region under the Dutch colonialism, and this situation did not allow Islamic Law to be fully enforced in the region due to the interference of the invaders. This research employed historical legal approach intended to study the legal history from the perspective of the development and the origin of legal system growing in a certain society and to compare it to another different law. The research methods involved the studies of history such as heuristic, critical, interpretational, and historiographic approaches.  The research found out that qisas punishment was not imposed as what is governed in Islamic Law. The Dutch interference in internal issues in the keraton (palace) took over all court decisions under its control. The Dutch could aggravate or even alleviate punishment imposed on a defendant as long as it benefitted the Dutch.
Motif Batik Ciwaringin sebagai Identitas Budaya Lokal Cirebon Machdalena, Susi; Dienaputra, Reiza D.; Suryadimulya, Agus S.; Nugraha, Awaludin; Kartika, N.; Yuliawati, Susi
PANGGUNG Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2476

Abstract

Artikel ini membahas motif-motif Batik Ciwaringin yang mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Batik Ciwaringin dibuat tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya, dikerjakan para ibu yang sudah berumur lanjut, untuk mewarnai batik digunakan bahan pewarna alam, motif batik kental dengan nilai-nilai Islam, karena awal mulanya terdapat batik di Ciwaringin dibuat oleh para santri di pesantren. Hal-hal tesebut menjadi unggulan Batik Ciwaringin dan menjadi identitas masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk memaparkan kearifan lokal dan identitas masyarakat Ciwaringin. Data-data yang berupa motif-motif batik Ciwaringin diperoleh dari sanggar Batik Muhammad Suja’i dan sanggar Batik Risma. Data-data dipilah berdasarkan pola motif batik. Terdapat lima pola motif, yaitu pola geometris, pangkaan, byur, ceplak-ceplok, laseman, dan pola kombinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif-motif batik dengan berbagai ragam hias berasal dari alam di sekitar Desa Ciwaringin. Batik Ciwaringin merupakan hasil ekspresi kultural para perajinnya dengan motif-motif yang tidak keluar dari sosio-kultural Islam karena sejak awal adanya Batik Ciwaringin berpedoman pada ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Batik Ciwaringin menunjukkan identitas budaya Ciwaringin yang kaya akan flora dan fauna. Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas.