Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN GURU SEKOLAH MINGGU DALAM MENDIDIK PERILAKU ANAK DI HKBP SUTOYO Panjaitan, Naomi Anggriani; Fransisco, Leo
JURNAL KADESI Vol. 6 No. 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v6i2.89

Abstract

Sekolah Minggu tempat yang sangat penting untuk perkembangan spiritual dan moral anak-anak. Sekolah Minggu dapat menjadi lingkungan yang mendukung anak-anak untuk memperkuat fondasi spiritual dan moral mereka, membantu mereka tumbuh menjadi orang yang baik serta bertanggung jawab dalam komunitas mereka dengan melalui pendidikan formal dan informal. Peran guru sekolah minggu sangat penting serta berdampak dalam mendidik perilaku anak-anak sekolah minggu. Mereka tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama dan moral kepada anak-anak, tetapi juga membantu membentuk kepribadian, karakter, dan kedisiplinan rohani mereka. Guru sekolah minggu memainkan peran penting dalam membentukan generasi yang bertanggung jawab dan bermoral. Penelitian ini bertujuan untuk membantu guru yang mengajar anak-anak sekolah minggu untuk memahami peran mereka yang sangat penting dalam mendidik anak-anak sekolah minggu. Dalam melakukan pekerjaan dengan baik, guru sekolah minggu harus memiliki kemampuan yang handal dalam mengajar serta mendidik anak-anak. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta study pustaka melalui sifat dan perilaku guru sekolah minggu yang baik merupakan cerminan bagi anak-anak, lahir baru, dewasa secara rohani, dan berbakat dalam mengajar. Guru sekolah minggu memiliki peran besar dalam mendidik perilaku anak dan tidak hanya sekedar berbicara tentang Firman Tuhan. Mereka membangun kepribadian anak melalui nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip etika, membangun kedisiplinan rohani anak (tentang pentingnya doa, ibadah, dan menghormati Tuhan), dan menanamkan pemahaman yang benar tentang Tuhan kepada anak-anak. Melalui tugas mereka yang peduli, teladan, guru Sekolah Minggu membantu membangun fondasi spiritual anak-anak dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk perkembangan mereka secara keseluruhan.
Pengaruh Kepemimpinan Otoriter terhadap Burnout dengan Psychological Capital sebagai Mediasi pada Karyawan Lubis, Suaidah; Oktavely, Anggita Dwi; Damanik, Anggi Hayani; Sitorus, Dinda Fernando; Sinaga, Herna Juniar; Tarihoran, Mia Solistika; Panjaitan, Naomi Anggriani; Wikayatuddini
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4261

Abstract

Burnout adalah kondisi kelelahan psikologis yang dialami karyawan akibat tekanan kerja yang berkepanjangan serta gaya kepemimpinan yang maladaptif, salah satunya kepemimpinan otoriter. Kepemimpinan otoriter ditandai dengan kontrol yang ketat, minimnya partisipasi bawahan, dan komunikasi satu arah, yang berpotensi meningkatkan tingkat burnout pada karyawan. Di sisi lain, modal psikologis (psychological capital) yang terdiri dari harapan (hope), keyakinan diri (self-efficacy), ketangguhan (resilience), dan optimisme (optimism), diyakini berperan sebagai sumber daya psikologis yang mampu melindungi karyawan dari dampak negatif lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan otoriter terhadap burnout, dengan modal psikologis sebagai variabel mediasi pada karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei dengan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan otoriter berpengaruh positif terhadap burnout, modal psikologis berpengaruh negatif terhadap burnout, serta kepemimpinan otoriter berpengaruh negatif terhadap modal psikologis. Selain itu, modal psikologis terbukti memediasi hubungan antara kepemimpinan otoriter dan burnout. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan modal psikologis sebagai upaya untuk meminimalkan burnout pada karyawan yang dipicu oleh gaya kepemimpinan otoriter.