Ida Kurnia Shofa
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Articulation of a Maqāṣidī Approach in Hasyim Asy’ari’s Qur’anic Interpretation Ali Fikri, Abdul Aziz; Ida Kurnia Shofa
Journal of Ushuluddin and Islamic Thought Vol. 1 No. 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/juit.2023.1.1.86-109

Abstract

This article aims to examine the dimensions of maqāṣid-based interpretation in the thought of Hasyim Asy’ari. Despite his prominence in Indonesian Islamic scholarship, Hasyim Asy’ari has seldom been examined through the lens of Qur’anic hermeneutics. Yet, his writings frequently cite Qur’anic verses to substantiate and legitimize his intellectual positions. This study addresses two central questions, namely, how Hasyim Asy‘ari uses and interprets the Qur’an as articulated in his books Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta‘allim and Al-Tibyān fī al-Nahy ‘an Muqāṭa‘ati al-Arḥām wa al-Aqārib wa al-Ikhwān, and how the maqāṣidī dimensions are reflected in both works. By using textual analysis, the study reveals two important points. First, Hasyim Asy‘ari’s interpretive framework aligns with the maqāṣidī-based approach, wherein the Qur’anic verses are interpreted to substantiate specific religious positions. However, his method reflects elements of thematic exegesis (mauḍū‘ī), while in terms of sources and interpretive orientation, his approach can be classified as reason-based interpretation (tafsīr bi al-ra’y), exhibiting an adabī-ijtimā‘ī style that emphasizes socio-ethical dimensions. Second, with regard to the discernible dimensions of maqāṣidī, Hasyim Asy‘ari’s Qur’anic interpretation resonates with the broader objectives of Islamic law, particularly the values of al-‘adālah (justice), al-ḥurrīyah (freedom), al-mas’ūlīyah (responsibility), and al-insānīyah (human dignity).
Self-Healing in Islamic Spirituality: Bridging Hamka’s Tafsir Al-Azhar with Modern Psychological W, Via Sinta Mukharomah; Ida Kurnia Shofa
Journal of Islamic Philosophy and Contemporary Thought Vol. 1 No. 1 (2023): June
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Philosophy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/jipct.2023.1.1.26-50

Abstract

The concept of self-healing has become a rapidly growing social discourse, in line with socio-cultural changes influenced by capitalism and technological advances. Capitalism encourages individuals to exceed physical and mental limits in pursuit of professional achievement, leading to accumulated stress and mental health disorders. On the other hand, technological advances have facilitated access to information that can exacerbate social comparisons. Although the term self-healing is often associated with temporary activities such as vacationing or shopping, these often only provide momentary happiness without delving into spiritual healing. This article examines the concept of self-healing in Hamka’s Tafsir al-Azhar, which integrates spiritual dimensions into religious practices such as dhikr, prayer, patience, and gratitude. This study uses a qualitative approach with textual analysis to link Hamka's understanding of spiritual healing with contemporary psychological concepts such as mindfulness, emotional regulation, and gratitude. The results of this study indicate that Hamka’s approach to self-healing can build a dialogue between Islamic spirituality and modern psychological methods, opening up the potential for developing a more comprehensive and applicable approach to spiritual healing for contemporary Muslim communities.
Implications and Constructions of Qur’anic in Islamic Education Khaeril Majedi; Khoirun Nidhom; Ida Kurnia Shofa
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 8 No 1 (2024): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v8i1.8061

Abstract

Islamic Education in Indonesia has undergone significant progress in line with the rapid development of technology. However, these developments are also part of the Western globalization strategy to spread the values of Western civilization. The impact is not only positive but also negative, even threatening the existence of Islamic educational institutions. To cope with the negative impact of globalization and the shift in values, revitalization of the values of the Quran in Islamic education is an important step. This article aims to provide a new insight into the role of Islamic education in shaping the character, morals, and achievements of pupils to support the education of future Muslim generations. It is done by exploring further the values of the Qur'an contained in Surah Al-Alaq verses 1-5. This research uses qualitative methods, a kind of library research. The approach used in this study is a phenomenological approach aimed at gaining a deep understanding, performing detailed descriptions, applying deep reductions, highlighting intersubjectivity, as well as exploring the meaning of the object of study under study. The results of the research show that based on the results of the analysis of the verses of the Qur'an, they contain fundamental values that can be a guide in the maintenance of Islamic education. Among them are humility and respect, the importance of knowledge and respect for science, independence and responsibility, and appreciation of the learning process.
Reinterpretasi Kesetaraan Gender dalam Pernikahan: Analisis Penafsiran Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir Asmita Harahap, Seri; Ida Kurnia Shofa
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.26853

Abstract

Pernikahan dalam Islam dipandang sebagai sebuah ikatan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai upaya untuk membangun keharmonisan dan kelangsungan keturunan. Kesetaraan gender dalam pernikahan menjadi isu penting yang sering diperdebatkan, terutama dalam kaitannya dengan hak dan kewajiban antara suami dan istri menurut al-Qur'an. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji reinterpretasi kesetaraan gender dalam pernikahan dengan analisis penafsirah Ibnu Asyur dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan serta teknik analisis konten. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Ibnu Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir, telah menawarkan pandangan progresif terkait kesetaraan gender, dengan menekankan keadilan dalam pembagian hak dan kewajiban yang disesuaikan dengan perbedaan peran biologis dan sosial antara pria dan wanita. Ia mengajarkan bahwa kesetaraan tidak berarti persamaan mutlak, melainkan keadilan yang tercermin dalam penghormatan terhadap hak masing-masing pihak dalam hubungan pernikahan. Ibnu Asyur juga menegaskan pentingnya keadilan dalam poligami, di mana suami yang berpoligami harus memastikan perlakuan yang adil terhadap istri-istri mereka, meskipun tidak harus memperlakukan mereka secara identik. Secara keseluruhan, pandangan Ibnu Asyur mengarah pada pemahaman bahwa syariat Islam mendukung kesetaraan gender dalam pernikahan, namun dengan penyesuaian terhadap peran masing-masing individu, yang tetap menghormati perbedaan biologis, sosial, dan emosional antara pria dan wanita. Prinsip ini sejalan dengan tujuan syariat Islam untuk menjaga moralitas, keseimbangan sosial, dan keutuhan keluarga.
Wanita Karir dalam Surah al-Ahzab Ayat 33: Analisis Perspektif Qur’an: a Reformist Translation Karya Edip Yuksel Agustin, Junita; Ida Kurnia Shofa
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.26937

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis tafsir surah al-Ahzab ayat 33 dalam karya The Qur’an: A Reformist Translation oleh Edip Yuksel, dengan fokus pada pemahaman peran wanita dalam dunia karir. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi pustaka, yang mencakup pengumpulan, pembacaan, pencatatan, dan pengelolaan bahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Yuksel, tafsir tradisional yang mengharuskan wanita tetap di rumah perlu diperbarui. Ia menafsirkan ayat 33 dari surah al-Ahzab dengan penekanan pada penghormatan terhadap martabat wanita, bukan pembatasan peran mereka dalam ranah domestik. Dalam konteks kontemporer, di mana wanita berperan aktif dalam berbagai sektor kehidupan, tafsir ini memungkinkan wanita untuk berkarir dengan tetap mempertahankan prinsip moral, etika, dan tanggung jawab sosial yang sesuai dengan ajaran Islam. Penelitian ini penting dalam memperkenalkan perspektif reformis yang relevan dengan perkembangan zaman, memperluas pemahaman tentang peran wanita dalam masyarakat modern, serta mendukung kesetaraan gender. Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan tafsir yang lebih inklusif, menjembatani teks klasik dengan realitas sosial masa kini, dan mendorong interpretasi yang lebih sesuai dengan konteks kontemporer.
Analisis Qira’at Ayat Thaharah dalam Tafsir Ath-Thabari dan Implikasinya terhadap Penafsiran Iqbal, Syerien Fauziah; Khoirun Nidhom; Ida Kurnia Shofa
Jurnal Semiotika Quran Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsq.v5i2.28448

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis qira’at pada ayat-ayat thaharah dalam tafsir ath-Thabari, khususnya pada QS. al-Baqarah [2]: 222, QS. an-Nisa [4]: 43, dan QS. al-Ma’idah [5]: 6, serta implikasinya terhadap penafsiran. Perbedaan qira’at pada ayat-ayat tersebut mempengaruhi aspek fonetik dan berdampak pada pemahaman hukum terkait kebersihan, wudhu, dan hubungan suami-istri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis library research untuk mengkaji analisis ath-Thabari terhadap variasi qira’at dan penetapan tarjih berdasarkan riwayat yang dianggap sahih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan qira’at menghasilkan variasi penafsiran. Pada QS. al-Baqarah [2]: 222, perbedaan bacaan “يَطْهُرْنَ” mempengaruhi ketentuan kesucian dari haid sebelum berhubungan; pada QS. an-Nisa [4]: 43, variasi bacaan "أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ" membahas tentang status wudhu seseorang; sedangkan pada QS. al-Ma’idah [5]: 6, perbedaan pada kata "وَأَرْجُلَكُمْ" menyebabkan perbedaan fiqih mengenai kewajiban membasuh atau mengusap kaki saat wudhu. Penelitian ini menegaskan bahwa qira’at berperan penting dalam kajian tafsir dan fiqih, serta menunjukkan adanya fleksibilitas dalam hukum Islam.