Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Madu dari Lebah Apis mellifera, Apis cerana, dan Trigona sp. terhadap Beberapa Parameter Biokimia pada Mencit yang Diuji dengan Metode WFST Mukti Priastomo; I Ketut Adnyana; Sukrasno Sukrasno; Kusnaedi Kusnaedi
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 3 No. 2 (2020): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v3i2.3042

Abstract

Lebah madu merupakan golongan serangga yang dapat menghasilkan madu. Produk madu ini dihasilkan dari nectar yang diolah oleh lebah madu sebagai cadangan makanan bagi koloni lebah madu. Komposisi kimia yang terkandung pada madu menjadikan produk alam ini memiliki manfaat yang banyak. Salah satunya adalah manfaat untuk meningkatkan stamina. Peningkatan aktivitas dapat menurunkan stamina dan menimbulkan kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan efek anti lelah dari tiga jenis madu yang banyak digunakan di Indonesia, yaitu madu Apis mellifera, Apis cerana, dan Trigona sp. Pengujian anti lelah dilakukan dengan mengukur efek anti lelah secara fisik dan biokimia terhadap hewan coba mencit jantan dengan menggunakan metode Weight-loaded Forced Swimming Test (WFST). Madu digunakan pada pengujian dengan pemberian oral menggunakan dosis 10,40 g/kg yang dilanjutkan dengan pengamatan waktu aktivitas serta uji biokimia darah dengan parameter glukosa darah, asam laktat, serta glikogen pada otot dan hati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga jenis madu yang diujikan dapat memberikan efek anti lelah dibanding kelompok kontrol, dimana madu Apis cerana menunjukkan hasil yang lebih baik dari dua kelompok sampel lainnya.
PENDEKATAN MENGAJAR TEKNIK PASSING DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA USIA 12 TAHUN (Studi Eksperimen pada Sekolah Sepak Bola Mandala Ganesa ITB Kusnaedi Kusnaedi; Tommy Apriantono; Samsul Bahri; Didi Sunadi; Doddy Abdul Karim
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2018.3.2.4

Abstract

Sepakbola merupakan cabang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Dibuktikan dengan banyaknya SSB yang tumbuh di Kota Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Keberadaan ini belum mampu menyumbangkan atlet yang berprestasi di tingkat nasional, apalagi dunia. Berdasarkan pengamatan penulis ternyata masih banyak SSB yang pelatihnya memberikan latihan secara konvensional. Berdasarkan hasil pengamatan, penulis termotivasi untuk meneliti bagaimana cara pemberian materi latihan untuk anak usia usia 12 yang efektif. Penulis meneliti teknik passing yang terdiri dari passing stop danlong passing. Metode yang diberikan yaitu metode keseluruhan dan metode bagian. Penelitian terbatas hanya teknik passing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Sampel yang digunakan siswa SSB Mandala Ganesa ITB usia 12 tahun. Latihan dilakukan 3 kali dalam satu minggu. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 orang. Berdasarkan perhitungan nilai Ó® dan SD didapat hasil: kelompok siswa dengan metode bagian (part method) untuk teknik passing stop data awal Ó®= 10, 73, data hasil tes akhir Ó®= 20,67 dan pada teknik long passing data awal Ó®=12,40, data hasil tes akhir Ó®= 25,07. Sedangkan, pada kelompok siswa dengan metode keseluruhan (whole method) untuk teknik passing stop data awal Ó®= 10,80, data hasil tes akhir Ó®= 15,60 dan pada teknik long passing data awal Ó®=12,00, data hasil tes akhir Ó®= 17,20. Dari hasil perhitungan tersebut terdapat perbedaan yang signifikan antara metode bagian (part method) dan metode keseluruhan (whole metho).
ANALISIS KARAKTERISTIK ANTROPOMETRI DAN KONDISI FISIK ATLET PELAJAR DISEKOLAH PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN PELAJAR SE-PULAU JAWA Ilham Hindawan; Tommy Apriantono; Indria Herman; Muhamad Fahmi Hasan; Agung Dwi Juniarsyah; Sri Indah Ihsani; Iwa Ikhwan Hidayat; Bagus Winata; Imam Safei; Didi Sunadi; Kusnaedi Kusnaedi
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2020.5.1.6

Abstract

Latar belakang: Sports science menekankan pentingnya pengukuran kondisi fisik pada setiap cabang olahraga untuk menentukan metode latihan yang tepat, yang dapat digunakan oleh pelatih dalam membina atlet. Penelitian bermaksud untuk mengukur karakteristik fisiologi atlet muda PPLP di beberapa cabang olahraga prioritas Indonesia, seperti: Atletik, Pencak Silat dan Taekwondo. Metode: Dalam penelitian ini, seluruh subjek melakukan pengukuran antropometri dan kondisi fisik. Dimana dalam pengukuran antropometri, meliputi berat badan, tinggi badan, Body mass Index (BMI). Sedangkan pada uji kondisi fisik, pengukuran meliputi lompat vertikal, sprint 30 meter, dan cooper test 2.4 km. Hasil: Penelitian ini berhasil menunjukan secara kuantitatif dan kualitatif, rata-rata antropometri, daya tahan aerobik (VO2max), daya tahan anaerobik (lompat vertikal dan sprint 30 meter) pada atlet dari cabang olahraga Taekwondo, Pencak Silat, dan Atletik. Pada pengukuran antropometri, hanya atlet Pencak Silat (putra dan putri), yang memiliki tinggi badan di bawah rata-rata nilai normal yang ditetapkan WHO. Sementara pada pengukuran daya tahan anaerobik pada variable sprint 30 meter, hanya atlet Atletik putra yang masuk kedalam rentang nilai normal yang telah ditetapkan, sementara atlet pada cabang olahraga lainnya tidak masuk kedalam rentang nilai normal tersebut. Di sisi lain, tidak ada rata-rata hasil lompat vertikal yang dibawah nilai normal, pada ketiga cabang olahraga yang telah dilakukan pengukuran, baik putra dan putri pada setiap cabang. Sementara itu, hasil pengukuran VO2max juga mencatatakan bahwa seluruh atlet (putra dan putri) dari ketiga cabang olahraga yang diukur, memiliki hasil rata-rata VO2max yang normal dan cenderung sangat baik. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya hasil rata-rata VO2max yang berada dibawah rentang nilai normal yang telah ditetapkan. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan screening latihan aerobic test (cooper test 2.4), anaerobic test (batrey test) yang meliputi lompat vertikal, sprint 30 meter dan cooper tes 2.4 km dapat digunakan dan efektif sebagai rangkaian metode dalam melakukan proses pencarian bakat dan pembinaan atlet muda di PPLP se-Pulau Jawa Background: Sports science emphasizes the importance of measuring physical conditions in each branch of sport to determine the right training methods, which can be used by coaches in fostering athletes. The research intends to measure the physiological characteristics of PPLP young athletes in several priority sport branches in Indonesia, such as: Athletics, Pencak Silat and Taekwondo. Methods: In this study, all subjects took anthropometric measurements and physical conditions. Where in anthropometric measurements, including body weight, height, Body mass Index (BMI). Whereas in physical condition tests, measurements vertical jumps, sprint 30 meters, and cooper test 2.4 km. Results: This research successfully demonstrated quantitatively and qualitatively, the average value of anthropometry, aerobic endurance (VO2max), anaerobic endurance (vertical jump and sprint 30 meter) in athletes from the Taekwondo, Pencak Silat, and Athletics branches. In anthropometric measurements, only martial arts athletes (male and female), who have a height below the average normal value determined by WHO. While in anaerobic endurance measurement in the 30 meter sprint variable, only male athletes enter the normal range that has been set, while athletes in other sports do not enter the normal range. On the other hand, there are no average vertical jump results below the normal value, in the three sports that have been measured, both male and female in each branch. Meanwhile, the results of VO2max measurements also stated that all athletes (male and female) from the three sports that were measured had normal VO2max results and tended to be very good. This is evidenced by the absence of an average VO2max result which is below the predetermined normal range. Conclusion: These findings indicate that anthropometric profile measurement and the use of aerobic test screening exercises (cooper test 2.4), as well as anaerobic tests (batrey tests) which include vertical jumps and, 30 meter sprints can be used and effectively as a series of methods in the process of finding talent and coaching young athletes in PPLP throughout JavaKata kunci: Aktivitas Fisik, Atlet, Cabang Olahraga, Antropometri, Kondisi Fisik.
Effects of Apis Mellifera, Apis Cerana, and Trigona SP on 20 M Sprint Performance K Kusnaedi; Mukti Priastomo; I Ketut Adyana; S Sukrasno
JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Vol 7, No 2 (2022): Physical Activity and Exercise for Health and Well-being
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpjo.v7i2.49852

Abstract

This study aimed to determine the effect of three types of honey from three different honey bee species on increasing stamina and anti-fatigue effect by examining their effects on the biochemical process in the anaerobic pathway. Tests were carried out on humans who had met the specified criteria. The method used in this study was an experimental method involving 30 healthy students. The inclusion requirements consisted of males aged 18-20 years, weight 50-70 kilograms, height 160-170 cm, normal momentary blood sugar levels 140 mg/dL, VO2max 35-40 ml/kg/min, normal blood pressure, and not having severe diseases such as diabetes, asthma, kidney failure, hepatitis, as well as other serious diseases that hinder physical activity. Volunteers had also filled out informed consent stating their willingness to participate in the research to completion. The results of this study showed that there was a change between pre and post in each groups, indicating that each honey content had a significant impact on improving the participant performance. In addition, this study found changes in the three types of honey (Apis Mellifera, Apis Cerana, Trigona SP) in the participant running performance improvement. However, there was no significant difference between the three types of honey.
Perancangan dan Pembuatan Shuttlecock Launcher untuk Memenuhi Kebutuhan Pelatihan Olahraga Bulutangkis Kusnaedi Kusnaedi; Tommy Apriantono; Didi Sunadi
JURNAL PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Vol 3, No 2 (2018): Empowering all student to active live and healthy through physical education
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2142.431 KB) | DOI: 10.17509/jpjo.v3i2.13105

Abstract

This research was conducted to design and build a shuttlecock launcher using local materials and components. The shuttlecock launcher was constructed by taking advantage of the various scientific skills of human resources at Institut Teknologi Bandung. The research focused on the design and construction of shuttlecock launcher as a training aid for badminton trainers. The advantages of this device are: 1. able to shoot shuttlecock with high accuracy; 2. able to shoot shuttlecock at the maximum speed of 150 km/h; 3. having total mass of the structure of less than 20 kg; 4. low production cost; 5. having feeding speed of one shuttlecock per two seconds.This device was constructed in the research group (KK) of  Sport Sciences Laboratory of the School of Farmacy and Machinery and Aeronautics Faculty Laboratory at ITB while the experiment was conducted in Badminton Arena, GSG ITB. The research started from September to November 2011. The subjects of this research were the materials and other components related to the design and construction of the device in accordance to physical and mechanical work system. From this research, it can be concluded that of this shuttlecock launcher results  high feeding and lunching speed that meets the criteria needed. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat shuttlecock launcher dengan bahan-bahan (material) dan komponen lokal. Shuttlecock launcher dibuat dengan memberdayakan kemampuan SDM dari berbagai disiplin ilmu yang ada di Institut Teknologi Bandung. Ruang lingkup penelitian ini terfokus pada perancangan dan pembuatan shuttlecock launcher untuk memenuhi kebutuhan alat bantu palatihan bulutangkis.  Keunggulan dari alat ini adalah; (1). Dapat menembakkan shuttlecock dengan keandalan yang baik, (2). Dapat menembakkan shuttlecock dengan kecepatan maksimum 150 km/h, (3). Memiliki massa struktur total dibawah 20 kg, (4). Memiliki biaya produksi yang murah, dan (5). Memiliki feeding satu shuttlecock per dua detik.  Proses pembuatan alat ini dilakukan di Laboratorium KK Ilmu Keolahragaan Sekolah Farmasi dan Laboratorium Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB.  Sedangkan untuk uji coba dilakukan di Lapang Bulutangkis GSG ITB. Penelitian ini dilakukan mulai bulan September – Nopember 2011. Subyek penelitian ini adalah material dan komponen lainnya yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan alat ini.  Instrumen penelitian  shuttlecock launcher ini mengacu pada sistem kerja secara fisika dan mekanik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa shuttlecock louncher ini dapat menghasilkan feeding speed yang tinggi  dan kecepatan pelontaran yang memenuhi kriteria kebutuhan.