Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENDEKATAN MENGAJAR TEKNIK PASSING DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA USIA 12 TAHUN (Studi Eksperimen pada Sekolah Sepak Bola Mandala Ganesa ITB Kusnaedi, Kusnaedi; Apriantono, Tommy; Bahri, Samsul; Sunadi, Didi; Karim, Doddy Abdul
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.319 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2018.3.2.4

Abstract

Sepakbola merupakan cabang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Dibuktikan dengan banyaknya SSB yang tumbuh di Kota Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Keberadaan ini belum mampu menyumbangkan atlet yang berprestasi di tingkat nasional, apalagi dunia. Berdasarkan pengamatan penulis ternyata masih banyak SSB yang pelatihnya memberikan latihan secara konvensional. Berdasarkan hasil pengamatan, penulis termotivasi untuk meneliti bagaimana cara pemberian materi latihan untuk anak usia usia 12 yang efektif. Penulis meneliti teknik passing yang terdiri dari passing stop danlong passing. Metode yang diberikan yaitu metode keseluruhan dan metode bagian. Penelitian terbatas hanya teknik passing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Sampel yang digunakan siswa SSB Mandala Ganesa ITB usia 12 tahun. Latihan dilakukan 3 kali dalam satu minggu. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 orang. Berdasarkan perhitungan nilai Ӯ dan SD didapat hasil: kelompok siswa dengan metode bagian (part method) untuk teknik passing stop data awal Ӯ= 10, 73, data hasil tes akhir Ӯ= 20,67 dan pada teknik long passing data awal Ӯ=12,40, data hasil tes akhir Ӯ= 25,07. Sedangkan, pada kelompok siswa dengan metode keseluruhan (whole method) untuk teknik passing stop data awal Ӯ= 10,80, data hasil tes akhir Ӯ= 15,60 dan pada teknik long passing data awal Ӯ=12,00, data hasil tes akhir Ӯ= 17,20. Dari hasil perhitungan tersebut terdapat perbedaan yang signifikan antara metode bagian (part method) dan metode keseluruhan (whole metho).
TINGKAT KEBUGARAN DAN PRESTASI BELAJAR Sunadi, Didi; Soemardji, Andreanus Andaja; Apriantono, Tommy; Wirasutisna, Komar Ruslan
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.479 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2016.1.2.5

Abstract

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pengaruh tingkat kebugaran terhadap prestasi belajar pada mahasiswa Tahap Persiapan Bersama Institut Teknologi Bandung. Metode: Sebanyak 616 (laki-laki 402 orang, perempuan 214 orang) mahasiswa mengikuti kuliah olahraga seminggu sekali selama satu semester. Tes kebugaran menggunakan tes lari 2400 meter. Kebugaran dinilai dari tes kapasitas aerobic yang dikembangkan oleh Physical Readiness Test (PRT) US Navy, dikelompokkan kedalam tingkat kebugaran “sangat kurang”, “kurang”, “normal”, “baik”, “sangat baik”, dan “istimewa”. Prestasi belajar dilihat dari indeks prestasi kumulatif (IPK) pada awal dan akhir semester. Hasil: Tingkat kebugaran kelompok laki-laki 13,35 menit atau VO2Max 40,22 ml/kg/minute sedangkan kelompok perempuan 17,00 menit atau VO2Max 32,42 ml/kg/minute. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada skala 4 (maksimal), IPK kelompok laki-laki 3,48, kelompok perempuan 3,47. Indeks masa tubuh kelompok laki-laki 21,28 kg/m2, perempuan 20,50 kg/m2. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kebugaran dengan prestasi belajar, namun instensitas olahraga yang tinggi yaitu lebih dari 9 jam perminggu berpengaruh signifikan terhadap tingkat kebugaran.
STATUS AKTIVITAS FISIK, ANTROPOMETRI, DAN TINGKAT KEBUGARAN MAHASISWA TPB ITB Sunadi, Didi; Permana, Taufik
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.75 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2017.2.1.2

Abstract

Aktivitas fisik merupakan gerak tubuh yang dihasilkan otot rangka yang memerlukan suatu pengeluaran energy, Kurangnya aktivitas fisik dan rendahnya tingkat kebugaran pada remaja di sekolah menengah atas dianggap sebagai pemicu rendahnya tingkat kebugaran mahasiswa TPB ITB. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui ratarata status aktivitas fisik, antropometri, tingkat kebugaran dan status kesehatan mahasiswa TPB ITB sebelum dan setelah menjalani MKOR. Metode: sebanyak 3447 mahasiswa TPB ITB laki-laki (umur: 18,01 ± 0,69 tahun; tinggi badan: 169,27 ± 13,11 cm; berat badan: 63,65 ± 14,27 kg) dan perempuan (umur: 18,03 ± 0,65 tahun; tinggi badan: 159,38 ± 6,87 cm; berat badan: 52,99 ± 9,03 kg) berpartisipasi dalam penelitian. Seluruh mahasiswa yang diambil sebagai sampel penelitian adalah yang mengikuti tes kebugaran kategori lari. Data aktivitas fisik didapat dari International Physical Activity Quesstionaire (IPAQ), penelitian ini menggunakan One Group Pretest-Posttest Design dengan melakukan tes awal dan tes akhir menggunakan Cooper test 2,4 km untuk mencari nilai rata-rata tingkat kebugaran yang digambarkan dengan VO2max. Hasil: Secara keseluruhan mahasiswa lakilaki memliki rata-rata IMT (Indeks Massa Tubuh) 21,80 ± 3,79 dan perempuan 20,74 ± 3,00. Rata-rata skor aktivitas fisik mahasiswa laki-laki pada saat SMA adalah 1520,80 ± 1444,50 dan pada saat TPB 2330,00 ± 1800,77, sedangkan skor aktivitas fisik perempuan pada saat SMA adalah 1029,55 ± 1000,82 dan pada saat TPB 2020,46 ± 1895,68. Rata-rata tingkat kebugaran mahasiswa laki-laki tes awal adalah 35,34 ± 5,74 dan tes akhir 38,27 ± 7,08 sedangkan perempuan memperoleh nilai tes awal 28,60 ± 4,06 dan tes akhir 30,17 ± 5,17. Untuk status kesehatan secara keseluruhan mahasiswa TPB ITB 66,79% memiliki status kesehatan yang baik, kemudian 22,88% memiliki penyakit dengan tingkat resiko menengah dan 10,33%.mempunyai penyakit dengan tingkat resiko tinggi. Kesimpulan: secara keseluruhan mahasiswa TPB ITB mempunyai IMT yang normal dan status kesehatan yang baik hal ini dibuktikan oleh adanya peningkatan kadar VO2max yang signifikan, hal ini berbanding lurus dengan besarnya tingkat aktivitas fisik yang yang diperoleh.
PENINGKATAN VO2MAX DAN ANALISIS KORELASI VARIABEL YANG MEMPENGARUHINYA Sunadi, Didi; Soemarji, Andreanus A; Apriantono, Tommy; Wirasoetisna, Komar Ruslan
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.742 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2016.1.1.6

Abstract

Pendahuluan: Salah satu tolok ukur kesehatan adalah tingkat kebugaran. Secara teori, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebugaran seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa korelasi antara Indeks Massa Tubuh (IMT), kekuatan tungkai, dan VO2Max mahasiswa yang menekuni olahraga permainan pada Tahap Persiapan Bersama (TPB) Institut Teknologi Bandung (ITB). Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Nilai kebugaran diukur dengan 2,4 km run-test, nilai IMT diperoleh dari pengukuran tinggi badan dan berat badan, kekuatan tungkai diukur dengan leg dynamometer, dan untuk mengetahui jenis olahraga yang ditekuni menggunakan angket. Sebanyak 156 laki-laki dan 17 perempuan dengan rata-rata usia 18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi mengikuti kuliah olahraga selama satu semester. Pada awal dan akhir semester dilakukan pengukuran kebugaran. Pengukuran kekuatan tungkai dan IMT dilakukan pada akhir semester. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kelompok Keahlian Ilmu keolahragaan Sekolah Farmasi ITB. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan, VO2Max rata-rata 40,61 ± 4,73 ml/kg/menit. Terdapat 8 orang (4,62%) yang memiliki kategori kebugaran “sangat kurang”, 23 orang (13,29%) kebugarannya “kurang”, 89 orang (51,45%) kebugarannya “sedang”, 40 orang (23,12%) kebugarannya “baik”, 8 orang (4,62%) kebugarannya “sangat baik”, dan 5 orang (2,89%) kebugarannya “istimewa”. Rerata usia 18 tahun, rerata tinggi badan 168,52 Cm, rerata berat badan 62,22 Kg, rerata IMT 21,84, rerata kekuatan tungkai 116,86 Kg, dan rerata intensitas olahraga tiga jam per minggu. IMT memiliki korelasi yang signifikan dengan VO2Max, kekuatan tungkai memiliki korelasi dengan kebugaran (p=0,057). Derajat kekuatan hubungan IMT dan kekuatan tungkai terhadap VO2Max adalah lemah (r=0,103). Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa program olahraga secara terstruktur selama dua jam per minggu dapat meningkatkan VO2Max secara bermakna. IMT dan kekuatan tungkai memberikan pengaruh terhadap kebugaran para mahasiswa yang menekuni olahraga pemainan.
ANALISIS GAYA HIDUP MAHASISWA TPB ITB TAHUN AJARAN 2018/2019 Ramania, Nia Sri; Gunawan, Sugih; Sunadi, Didi; Kusnaedi, Kusnaedi
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.509 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2019.4.1.3

Abstract

Latar Belakang : Gaya hidup adalah perilaku yang berhubungan dengan aktivitas fisik aktif, pola asupan nutrisi makan sehari-hari, kebiasaan merokok dan cukupnya waktu istirahat. Gaya hidup yang dihubungkan dengan tingkat kebugaran belum ada dalam literatur. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis aktivitas fisik aktif maupun tidak aktif, pola asupan nutrisi baik maupun kurang, kebiasaan merokok, waktu istirahat, dan tingkat kebugaran serta Odds Ratio yang merupakan ukuran paparan dari gaya hidup. Metode: Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa TPB ITB semester 1 tahun ajaran 2018/2019 berjumlah 1399 orang terdiri dari 798 kelompok putra dan 601 kelompok putri. Instrument penelitian menggunakan kuesioner gaya hidup yang terdiri dari komponen-komponen gaya hidup. Hasil: Penyakit sebulan terakhir penyakit menular sebesar 32.7% putra dan 38.9% putri dan PTM sebesar 42.23% putra dan 49.25% putri. Waktu tidur rerata 5.76 putra dan 5.88 putri. Kategori gaya hidup putra terdiri dari aktivitas fisik rerata 2150.08 MET menit/minggu putra dan 1906.03 MET menit/minggu putri. Pelaku perokok putra dan putri. Asupan nutrisi total rerata 2.82 kategori 3putra dan 2.74 kategori 3. Tingkat kebugaran rerata 38.91 putra 33.49  putri kategori cukup. Nilai korelasi antara gaya hidup total dengan kebugaran kelompok putra sebesar +0.089 dengan p-value 0.012 dan putri +0.105 dengan p-value 0.010 maka gaya hidup mempunyai hubungan signifikan dengan kebugaran. Nilai odds ratio putra gaya hidup buruk memiliki risiko 0.92 putra dan 0.79 putri kali lebih besar terserang penyakit dibandingkan orang memiliki gaya hidup baik. Simpulan: Tingkat kebugaran masuk dalam kategori lemah, namun nilai signifikan menunjukan semakin baik gaya hidup maka semakin baik pula tingkat kebugaran. Paparan penyakit dilihat dari odds ratio menunjukan bahwa semakin buruk gaya hidup maka semakin besar terserang penyakit dibandingkan orang yang memiliki gaya hidup sehat.
PROFIL KONDISI FISIK PEMAIN FUTSAL KOTA BANDUNG Juniarsyah, Agung Dwi; Sidik, Dikdik Zafar; Sunadi, Didi; Karim, Doddy Abdul
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.194 KB) | DOI: 10.5614/jskk.2019.4.2.5

Abstract

Kemampuan fisik bagi seorang pemain futsal merupakan syarat untuk menampilkan performanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kondisi fisik pada pemain Futsal Kota Bandung (FKB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah pemain FKB sebanyak 18 orang. Instrumen penelitian ini terdiri dari enam item tes: Modified Sit and Reach, Sit-Up, Shuttle Run, lari 20 meter, Bleep Test dan Vertical Jump. Pada penelitian ini didapat rata-rata usia 22,57±2,40 tahun, berat badan 60,94±4,48 kg, tinggi badan 168,61±3,94 cm, dan indeks massa tubuh 21,44±1,44 %. Rata-rata VO2 max para pemain sebesar 48,74±5,18 ml/kg/min, fleksibilitas 24,94±13 cm, daya tahan otot perut 82,61±14 kali, kecepatan 3,14±0,12 detik, kelincahan 11,76±0,61 detik, dan power tungkai 49,39±4,24 cm.  Berdasarkan hasil analisis data konversi nilai yang diperoleh; a. Tidak ada satupun pemain FKB yang berkategori Baik Sekali dan Baik, b. Kategori Cukup ada 6 pemain (33,33%), c. Kategori Kurang ada 10 pemain (55,56%), d. Kategori Sangat Kurang ada 2 pemain (11,11%).
TINGKAT KEBUGARAN DAN PRESTASI BELAJAR Didi Sunadi; Andre Soemardji; Tommy Apriantono; Komar Ruslan Wirasutisna
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.2.14

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kebugaran jasmani terhadap prestasi belajar yang dilakukan pada mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) Institut Teknologi Bandung (ITB). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswa peserta mata kuliah Olahraga pada TPB ITB yang berjumlah 616; laki-laki 402 orang dan perempuan 214 orang. Instrumen penelitian ini terdiri atas tes kebugaran, Body Mass Index (BMI), dan prestasi belajar. Tes kebugaran jasmani menggunakan Physical Readiness Test (PRT) US Navy, yaitu lari sejauh 2,4 km. Prestasi belajar dilihat dari indeks prestasi kumulatif (IPK) pada awal dan akhir semester. BMI diperoleh dari pengukuran tinggi badan dan berat badan yang diformulasikan dengan rumus terstandar internasional. Hasil pengambilan data menunjukkan rata-rata tingkat kebugaran jasmani; laki-laki 13,35 menit atau VO2Max 40,22 ml/kg/minut, sedangkan kelompok perempuan 17,00 menit atau VO2Max 32,42 ml/kg/ minute. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada skala 4 (maksimal), IPK kelompok laki-laki 3,48, kelompok perempuan 3,47. BMI Indeks masa tubuh kelompok laki-laki 21,28 kg/m2, perempuan 20,50 kg/m2. Temuan utama dalam penelitian ini adalah kebugaran secara simultan berpengaruh secara positif terhadap prestasi belajar mahasiswa TPB ITB, baik pada semester pertama maupun semester kedua.
PENINGKATAN VO2MAX DAN ANALISIS KORELASI VARIABEL YANG MEMPENGARUHINYA Didi Sunadi; Andreanus A Soemarji; Tommy Apriantono; Komar Ruslan Wirasoetisna
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2016.1.1.6

Abstract

Pendahuluan: Salah satu tolok ukur kesehatan adalah tingkat kebugaran. Secara teori, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebugaran seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa korelasi antara Indeks Massa Tubuh (IMT), kekuatan tungkai, dan VO2Max mahasiswa yang menekuni olahraga permainan pada Tahap Persiapan Bersama (TPB) Institut Teknologi Bandung (ITB). Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Nilai kebugaran diukur dengan 2,4 km run-test, nilai IMT diperoleh dari pengukuran tinggi badan dan berat badan, kekuatan tungkai diukur dengan leg dynamometer, dan untuk mengetahui jenis olahraga yang ditekuni menggunakan angket. Sebanyak 156 laki-laki dan 17 perempuan dengan rata-rata usia 18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi mengikuti kuliah olahraga selama satu semester. Pada awal dan akhir semester dilakukan pengukuran kebugaran. Pengukuran kekuatan tungkai dan IMT dilakukan pada akhir semester. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kelompok Keahlian Ilmu keolahragaan Sekolah Farmasi ITB. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan, VO2Max rata-rata 40,61 ± 4,73 ml/kg/menit. Terdapat 8 orang (4,62%) yang memiliki kategori kebugaran "sangat kurang", 23 orang (13,29%) kebugarannya "kurang", 89 orang (51,45%) kebugarannya "sedang", 40 orang (23,12%) kebugarannya "baik", 8 orang (4,62%) kebugarannya "sangat baik", dan 5 orang (2,89%) kebugarannya "istimewa". Rerata usia 18 tahun, rerata tinggi badan 168,52 Cm, rerata berat badan 62,22 Kg, rerata IMT 21,84, rerata kekuatan tungkai 116,86 Kg, dan rerata intensitas olahraga tiga jam per minggu. IMT memiliki korelasi yang signifikan dengan VO2Max, kekuatan tungkai memiliki korelasi dengan kebugaran (p=0,057). Derajat kekuatan hubungan IMT dan kekuatan tungkai terhadap VO2Max adalah lemah (r=0,103). Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa program olahraga secara terstruktur selama dua jam per minggu dapat meningkatkan VO2Max secara bermakna. IMT dan kekuatan tungkai memberikan pengaruh terhadap kebugaran para mahasiswa yang menekuni olahraga pemainan.
STATUS AKTIVITAS FISIK, ANTROPOMETRI, DAN TINGKAT KEBUGARAN MAHASISWA TPB ITB Didi Sunadi; Taufik Permana
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2017.2.1.2

Abstract

Aktivitas fisik merupakan gerak tubuh yang dihasilkan otot rangka yang memerlukan suatu pengeluaran energy, Kurangnya aktivitas fisik dan rendahnya tingkat kebugaran pada remaja di sekolah menengah atas dianggap sebagai pemicu rendahnya tingkat kebugaran mahasiswa TPB ITB. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui ratarata status aktivitas fisik, antropometri, tingkat kebugaran dan status kesehatan mahasiswa TPB ITB sebelum dan setelah menjalani MKOR. Metode: sebanyak 3447 mahasiswa TPB ITB laki-laki (umur: 18,01 ± 0,69 tahun; tinggi badan: 169,27 ± 13,11 cm; berat badan: 63,65 ± 14,27 kg) dan perempuan (umur: 18,03 ± 0,65 tahun; tinggi badan: 159,38 ± 6,87 cm; berat badan: 52,99 ± 9,03 kg) berpartisipasi dalam penelitian. Seluruh mahasiswa yang diambil sebagai sampel penelitian adalah yang mengikuti tes kebugaran kategori lari. Data aktivitas fisik didapat dari International Physical Activity Quesstionaire (IPAQ), penelitian ini menggunakan One Group Pretest-Posttest Design dengan melakukan tes awal dan tes akhir menggunakan Cooper test 2,4 km untuk mencari nilai rata-rata tingkat kebugaran yang digambarkan dengan VO2max. Hasil: Secara keseluruhan mahasiswa lakilaki memliki rata-rata IMT (Indeks Massa Tubuh) 21,80 ± 3,79 dan perempuan 20,74 ± 3,00. Rata-rata skor aktivitas fisik mahasiswa laki-laki pada saat SMA adalah 1520,80 ± 1444,50 dan pada saat TPB 2330,00 ± 1800,77, sedangkan skor aktivitas fisik perempuan pada saat SMA adalah 1029,55 ± 1000,82 dan pada saat TPB 2020,46 ± 1895,68. Rata-rata tingkat kebugaran mahasiswa laki-laki tes awal adalah 35,34 ± 5,74 dan tes akhir 38,27 ± 7,08 sedangkan perempuan memperoleh nilai tes awal 28,60 ± 4,06 dan tes akhir 30,17 ± 5,17. Untuk status kesehatan secara keseluruhan mahasiswa TPB ITB 66,79% memiliki status kesehatan yang baik, kemudian 22,88% memiliki penyakit dengan tingkat resiko menengah dan 10,33%.mempunyai penyakit dengan tingkat resiko tinggi. Kesimpulan: secara keseluruhan mahasiswa TPB ITB mempunyai IMT yang normal dan status kesehatan yang baik hal ini dibuktikan oleh adanya peningkatan kadar VO2max yang signifikan, hal ini berbanding lurus dengan besarnya tingkat aktivitas fisik yang yang diperoleh.
TINGKAT KEBUGARAN DAN PRESTASI BELAJAR Didi Sunadi; Andreanus Andaja Soemardji; Tommy Apriantono; Komar Ruslan Wirasutisna
JSKK (Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan) Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jskk.2016.1.2.5

Abstract

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pengaruh tingkat kebugaran terhadap prestasi belajar pada mahasiswa Tahap Persiapan Bersama Institut Teknologi Bandung. Metode: Sebanyak 616 (laki-laki 402 orang, perempuan 214 orang) mahasiswa mengikuti kuliah olahraga seminggu sekali selama satu semester. Tes kebugaran menggunakan tes lari 2400 meter. Kebugaran dinilai dari tes kapasitas aerobic yang dikembangkan oleh Physical Readiness Test (PRT) US Navy, dikelompokkan kedalam tingkat kebugaran "sangat kurang", "kurang", "normal", "baik", "sangat baik", dan "istimewa". Prestasi belajar dilihat dari indeks prestasi kumulatif (IPK) pada awal dan akhir semester. Hasil: Tingkat kebugaran kelompok laki-laki 13,35 menit atau VO2Max 40,22 ml/kg/minute sedangkan kelompok perempuan 17,00 menit atau VO2Max 32,42 ml/kg/minute. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada skala 4 (maksimal), IPK kelompok laki-laki 3,48, kelompok perempuan 3,47. Indeks masa tubuh kelompok laki-laki 21,28 kg/m2, perempuan 20,50 kg/m2. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kebugaran dengan prestasi belajar, namun instensitas olahraga yang tinggi yaitu lebih dari 9 jam perminggu berpengaruh signifikan terhadap tingkat kebugaran.