Implementasi Teknologi Blockchain (BCT) dalam Manajemen Rantai Pasokan Farmasi (PSC) didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengatasi risiko global obat palsu dan di bawah standar—yang diperkirakan mencapai sekitar 10% secara global—serta kurangnya visibilitas dan tekanan regulasi untuk membangun sistem pelacakan elektronik interoperabel. BCT, sebagai ledger digital yang terdesentralisasi dan immutable (tidak dapat diubah), menawarkan potensi signifikan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterlacakan end-to-end dari obat-obatan. Aplikasi utamanya berfokus pada memerangi pemalsuan obat melalui sistem verifikasi keaslian dan pengamanan data sensitif seperti rekam medis yang immutable dan pemantauan kondisi rantai dingin (cold chain) dengan integrasi IoT. Model BCT yang dikembangkan menunjukkan peningkatan kinerja operasional yang signifikan, dengan waktu eksekusi rata-rata sekitar 3500 milidetik dan throughput mencapai 55.6 transaksi per detik (tps), melebihi kinerja sistem sebelumnya seperti DrugLedger. Meskipun demikian, adopsi BCT secara luas terhambat oleh masalah skalabilitas yang serius (terutama dalam memproses volume transaksi farmasi yang masif), tingginya biaya implementasi dan operasional, kesulitan integrasi dengan sistem IT yang sudah ada (legacy systems), dan ketidakpastian regulasi untuk kontrak pintar. Tantangan lain termasuk perlunya menyeimbangkan transparansi data dengan tuntutan untuk melindungi privasi data pasien yang sensitif.