Meiji Hasoloan Tobing, Renaldo
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Yuridis Analisis Yuridis Pelaksanaan Pemeriksaan Saksi Bersamaan dalam Perkara Pidana di Indonesia: Studi Kasus Penerapan Pasal 160 Ayat (1) Huruf a dan Pasal 172 Ayat (1) KUHAP: Pengertian, Mekanisme Pemeriksaan Saksi Dalam Persidangan Perkara Pidana, Tinjauan Hukum Terhadap Kesesuaian Pemeriksaan Saksi Secara Bersamaan dengan Tujuan Pemeriksaan dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia Deanisa, Putri; Meiji Hasoloan Tobing, Renaldo
KEADILAN : Jurnal Penelitian Hukum dan Peradilan Vol 3 No 1 (2025): Maret
Publisher : Pengadilan Negeri Bale Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62565/keadilan.v3i1.70

Abstract

Abstrak. Pasal 160 Ayat (1) huruf a KUHAP mengamanatkan pemeriksaan saksi dilakukan secara individual. Namun, praktik persidangan seringkali menerapkan pemeriksaan saksi secara bersamaan, menimbulkan pertanyaan tentang keabsahan dan efektivitasnya dalam pembuktian tindak pidana. Penelitian yuridis normatif ini menganalisis praktik tersebut berdasarkan Pasal 160 dan 172 KUHAP melalui studi kepustakaan dan observasi persidangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 172 Ayat (1) KUHAP menjadi landasan yuridis pemeriksaan bersama, dengan syarat utama terpenuhinya Pasal 160 Ayat (1) huruf a, yaitu pemeriksaan individual sebelumnya. Pemeriksaan bersama dapat dilakukan jika terdapat perbedaan keterangan antar saksi atas permohonan pihak terkait, bertujuan menguji kebenaran keterangan dan mencapai kebenaran materiil. Meskipun demikian, pemenuhan hak saksi tetap menjadi prioritas. Kata kunci : Pemeriksaan Saksi, Hukum Acara Pidana, KUHAP. Abstract. Article 160 Paragraph (1) letter a of KUHAP mandates the examination of witnesses individually. However, trial practice often applies simultaneous witness examination, raising questions about its validity and effectiveness in proving criminal offenses. This normative juridical research analyzes this practice based on Articles 160 and 172 of the Criminal Procedure Code through literature study and trial observation. The results show that Article 172 Paragraph (1) of KUHAP is the juridical basis for joint examination, with the main condition being the fulfillment of Article 160 Paragraph (1) letter a, namely the previous individual examination. Joint examination can be conducted if there are differences in testimony between witnesses at the request of related parties, with the aim of testing the truth of the testimony and achieving material truth. Nevertheless, the fulfillment of witness rights remains a priority. Keywords : Witness Examination, Criminal Procedure Law, KUHAP.
Efektivitas Penerapan Pasal 232 Ayat (2) KUHAP di Pengadilan Negeri Bale Bandung Lovira, Winda; Meiji Hasoloan Tobing, Renaldo
KEADILAN : Jurnal Penelitian Hukum dan Peradilan Vol 3 No 1 (2025): Maret
Publisher : Pengadilan Negeri Bale Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62565/keadilan.v3i1.76

Abstract

Pasal 232 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang mengatur kewajiban semua pihak yang hadir di ruang sidang untuk berdiri menghormat saat hakim memasuki dan meninggalkan ruangan dalam praktiknya seringkali tidak efektif diterapkan. Ketentuan ini bertujuan untuk menciptakan suasana sidang yang khidmat, menjaga wibawa pengadilan, dan menunjukkan penghormatan terhadap proses peradilan. Dalam praktiknya, pasal ini memiliki peran yang krusial dalam menjaga integritas proses peradilan. Penelitian ini melalui observasi langsung di Pengadilan Negeri Bale Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas ketentuan tersebut dalam praktik peradilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan ini memiliki peran penting dalam menjamin kelancaran persidangan. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan kendala seperti keterlambatan kehadiran, terutama dari penasehat hukum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perlunya dilakukan sosialisasi yang lebih intensif, revisi undang undang serta adanya penegakan  hukum yang konsisten untuk mendukung efektivitas penerapan pasal tersebut.