Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis Of The Use Of Standard And Non-Standard Language In Food Content On Youtube Fauziah; Erlinda Simbolon; Yola Febriani Br Purba; Norven Togatorop; Salmin Wanimbo
Outline Journal of Education Vol. 5 No. 1
Publisher : Outline Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61730/2t192374

Abstract

This study analyzes the use of standard and non-standard language in culinary content on YouTube, focusing on their roles and functions in digital communication. The rapid development of digital technology has transformed communication patterns, with platforms like YouTube becoming primary spaces for interaction, especially in popular genres such as culinary content where creators often blend language styles. The hypothesis suggests that non-standard language is more dominant as it effectively builds audience engagement, while standard language ensures clarity and professionalism. A descriptive qualitative method with observation and note-taking was applied by analyzing a culinary video from Ria SW’s channel, specifically the episode titled “Medan Food Diaries: My Top 6 Picks”. Data was collected through meticulous transcription and analyzed using content analysis to classify language variations and their pragmatic functions. The findings reveal that non-standard language predominates in creating a casual and persuasive atmosphere, while standard language serves to deliver clear information. Standard language is strategically employed to convey factual details about food, such as ingredients or objective taste descriptions, to maintain credibility. In contrast, non-standard forms, including popular slang like “mantul” and other expressive phrases, are instrumental in fostering closeness and authenticity, making the content more relatable. The study concludes that both language varieties complement each other; standard language maintains the informative quality, while non-standard language enhances the entertainment value and viewer connection. These findings provide valuable implications for sociolinguistic studies and Indonesian language learning through digital media, demonstrating how language flexibly adapts to modern communication needs.
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila sebagai Pembentukan Etika dan Karakter Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Stambuk 2024 di Fakultas Ekonomi: Penelitian Agelita Trifana Br Sipayung; Christin Hutahean; Maulida Putri Lbs; Muhammad Khadafi Chaniago; Nabilla Salsabila Aritonang; Naila Dewi Mutia; Norven Togatorop; Oktavia Manurung; Siti Oktavia Purba; Julia Ivanna
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4433

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh implementasi nilai-nilai Pancasila terhadap pembentukan etika dan karakter mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Stambuk 2024 di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta mengevaluasi kontribusinya terhadap integritas calon tenaga administrasi profesional. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi kasus dengan triangulasi data dari wawancara terstruktur terhadap 5 mahasiswa (3 kelas A, 2 kelas B), observasi partisipatif perilaku akademik-sosial, dan dokumentasi seperti tata tertib kampus serta literatur relevan, dilakukan pada November 2025 di lingkungan Fakultas Ekonomi UNIMED dengan analisis reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan implementasi nilai Pancasila seperti religiusitas, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan memberikan pengaruh positif signifikan terhadap etika (kedisiplinan, kejujuran, etika komunikasi) dan karakter (integritas, profesionalisme, toleransi), dengan gotong royong serta toleransi paling dominan; faktor pendukung meliputi mata kuliah PPKn dan keluarga religius, sementara penghambat seperti beban akademik dan pengaruh media sosial menyebabkan parsialnya internalisasi, sehingga diperlukan penguatan melalui workshop kontekstual dan monitoring digital.