Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kritis Konsep Poligami Siti Musdah Mulia dalam Perspektif Fikih Iqbal Sabirin, Muhammad
Al-Mizan Vol 11 No 1 (2024): Al-Mizan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54621/jiam.v11i1.826

Abstract

Legalitas poligami merupakan perkara yang disepakati para fukaha dan memiliki landasan normatif yang tegas dalam Al-Qur`an. Kebolehannya diikat dengan syarat mampu berlaku adil. Pensyariatannya menjadi solusi bagi permasalahan sosial tertentu. Namun ada sebagian kalangan yang menentang legalitas hukum poligami. Di antaranya Siti Musdah Mulia yang begitu keras menolak poligami. Menurutnya, poligami merupakan perbuatan yang tidak dibolehkan. Ia melandaskan pandangannya dengan beberapa argumen baik yang bersifat normatif maupun psikologis, serta mengaitkannya dengan ketidakadilan gender. Maka permasalahan ini menjadi perlu dan menarik dikaji secara ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep poligami menurut Siti Musdah Mulia berdasarkan kajian fikih. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif yang cenderung menggunakan analisis. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yang melibatkan eksplorasi beberapa sumber pustaka sebagai sumber data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan kajian fikih, konsep poligami menurut Siti Musdah Mulia bertolak belakang dengan hasil kajian fikih. Pandangan Musdah menemui banyak ketimpangan dan tidak dapat dibenarkan.
Early Marriage in Islam: A Comparative Study of Shāfi‘ī Fiqh and Indonesian Positive Law Iqbal Sabirin, Muhammad; Anggarini, Ida Fitri
Al-Mizan Vol 12 No 2 (2025): Al-Mizan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54621/jiam.v12i2.1089

Abstract

Early marriage has sparked controversy from both the perspective of Islamic law and Indonesia’s positive law. In Shāfi‘ī jurisprudence, there is no stipulation regarding a minimum age for marriage; thus, marriage conducted below the age of puberty is still considered valid. In contrast, Indonesia's positive law, through Law Number 16 of 2019, sets the minimum legal age for marriage at 19 years for both men and women, with certain exceptions permitted through a court-issued dispensation. This study employs a qualitative-descriptive approach through library research and a comparative method to analyze the similarities and differences between the two legal frameworks. The findings reveal that although there are fundamental differences concerning the legal age of marriage, both systems ultimately aim to achieve public welfare (maslahah) and prevent harm (mafsadah). The state assumes a protective role by establishing a minimum marriage age to safeguard children from the negative consequences of early marriage, in accordance with the Islamic legal maxim dar’u al-mafāsid muqaddamun ‘alā jalbi al-mashālih (preventing harm takes precedence over acquiring benefits). Therefore, state regulations may be viewed as an implementation of Islamic legal values in a contemporary social context.