Andrian Hoerul Anwar
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi Dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS EFEKTIFITAS TERAPI KOMBINASI ANTIPLATELET ASPIRIN-CLOPIDOGREL DENGAN ASPIRIN-TICAGRELOR PADA PASIEN SINDROM KORONER AKUT: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Anwar, Andrian Hoerul
Journal Pharma Saintika Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Pharma Saintika
Publisher : Program Studi DIII Farmasi Akademi Farmasi Dwi Farma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51225/jps.v8i2.84

Abstract

Acute Coronary Syndrome (ACS) is one of the leading causes of cardiovascular morbidity and mortality, making dual antiplatelet therapy (DAPT) a crucial component of treatment. The combination of aspirin-clopidogrel has long been used, but its effectiveness is limited by genetic resistance, whereas aspirin-ticagrelor offers a faster and more consistent antiplatelet effect. This study aims to analyze the effectiveness and safety of both regimens through a Systematic Literature Review (SLR) by searching PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Cochrane Library for articles published between 2015 and 2025. The results show that aspirin-ticagrelor is more effective in reducing Major Adverse Cardiovascular Events (MACE), including myocardial infarction, stroke, and cardiovascular mortality, but is associated with a higher risk of major bleeding and dyspnea. Conversely, aspirin-clopidogrel is considered safer and more affordable, although its effectiveness is relatively moderate. Therefore, the choice of DAPT should be individualized according to thrombotic and bleeding risks as well as patients’ economic conditions, to ensure appropriate therapy particularly in developing countries such as Indonesia.
SKRINING RISIKO MASALAH TERAPI OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD KABUPATEN BANDUNG Andrian Hoerul Anwar
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/x3gheq19

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi serius. Pengobatan hipertensi memerlukan terapi jangka panjang, yang sering kali melibatkan penggunaan obat-obatan secara kompleks dan meningkatkan risiko masalah terapi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menyaring risiko masalah terapi obat pada pasien hipertensi. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional, dan pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada pasien hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,00% pasien tidak mengalami masalah terapi obat, 44,67% berisiko mengalami masalah terapi obat, dan 1,33% pasien sudah mengalami satu atau lebih masalah terapi obat. Jenis masalah terapi obat yang teridentifikasi mencakup kepatuhan yang tidak sesuai (1,65%), terapi obat yang tidak diperlukan (2,97%), pemilihan obat yang tidak tepat (16,34%), reaksi obat yang merugikan (10,40%), dosis yang terlalu tinggi atau rendah (26,73%), serta kebutuhan terapi tambahan (5,94%). Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat potensi signifikan masalah terapi obat pada pasien hipertensi yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan kualitas manajemen terapi.
SISTEMATIC REVIEW FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DI INDONESIA Andrian Hoerul Anwar
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/fqanc998

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) menjadi masalah kesehatan global dengan beban morbiditas dan mortalitas tinggi, menduduki posisi pertama sebagai penyebab kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia. Transisi epidemiologi dari penyakit menular ke tidak menular terjadi lebih cepat dibandingkan kesiapan sistem kesehatan nasional, diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai deteksi dini dan modifikasi faktor risiko. Meskipun telah ada beberapa studi yang menginvestigasi faktor risiko PJK di Indonesia, belum ada tinjauan sistematis yang mengompilasi dan mensintesis temuan-temuan ini. Systematic review ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai faktor-faktor risiko PJK di Indonesia, serta menganalisis kontribusi relatif dan interaksi antar faktor risiko dalam konteks spesifik Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan systematic literature review berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada lima database elektronik (PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science, ISJD, dan DOAJ) dengan batasan publikasi Januari 2020 hingga Oktober 2024. Kriteria inklusi mencakup studi pada populasi Indonesia yang menginvestigasi minimal satu faktor risiko PJK dan menyediakan data kuantitatif asosiasi. Penilaian kualitas menggunakan instrumen yang sesuai dengan desain penelitian. Sintesis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan penilaian kualitas bukti menggunakan sistem GRADE. Sepuluh penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa faktor risiko PJK di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi yang tidak dapat dimodifikasi (usia >40 tahun, jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga) dan yang dapat dimodifikasi (hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, merokok, obesitas, aktivitas fisik rendah, pola diet buruk). Hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia konsisten muncul sebagai faktor risiko dominan dengan hubungan signifikan terhadap kejadian PJK (p<0,05). Tingkat pengetahuan tentang faktor risiko PJK juga berkorelasi signifikan dengan perilaku kesehatan, khususnya kebiasaan merokok (p=0,025). Terdapat indikasi interaksi sinergis antar faktor risiko, terutama pada pasien dengan komorbiditas diabetes mellitus. Pendekatan komprehensif dalam pencegahan dan pengendalian PJK di Indonesia harus mencakup strategi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, mengendalikan faktor risiko metabolik, mempromosikan gaya hidup sehat, dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan. Diperlukan penelitian kohort prospektif dengan ukuran sampel lebih besar untuk menilai hubungan kausal antara faktor risiko dan kejadian PJK, serta penelitian yang mengkaji interaksi antar faktor risiko dan efektivitas berbagai intervensi dalam konteks lokal Indonesia.
Analisis Pola Peresepan Obat Asma pada Anak Di RS. Rotinsulu Bandung Alief Ergin Az-Zikra Husaeni; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i1.23518

Abstract

Abstract. Asthma is a chronic inflammatory disease of the airways characterized by bronchial hyperresponsiveness and recurrent symptoms such as shortness of breath, coughing, and wheezing. According to the Global Initiative for Asthma (GINA) report in 2023, more than 262 million people worldwide are living with asthma, making it a significant global health problem, particularly among children. This study aimed to analyze the prescribing patterns of asthma medications in pediatric patients at Dr. H.A. Rotinsulu Lung Hospital, Bandung, during the period from January 2020 to December 2024. The research employed a descriptive study design with a cross-sectional approach and retrospective data collection. Data were obtained from medical records and prescription records of pediatric asthma patients aged 0–18 years who were diagnosed with ICD-10 codes J45.x–J46.x. A total sampling technique was applied, resulting in 100 prescription records that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that asthma prevalence was slightly higher in male children (52%) compared to female children (48%). Based on age distribution, asthma cases were most frequently observed in adolescents aged 12–18 years (49%). Regarding prescribing patterns, the most commonly used class of medication was Short-Acting Beta Agonists (SABA), accounting for 46% of prescriptions, with salbutamol being the most frequently prescribed drug. Other medications prescribed included Short-Acting Muscarinic Antagonists (SAMA), Inhaled Corticosteroids (ICS), Long-Acting Beta Agonists (LABA), and Leukotriene Receptor Antagonists (LTRA). Abstrak. Asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran napas yang ditandai dengan hiperreaktivitas bronkus dan gejala berulang seperti sesak napas, batuk, serta mengi. Berdasarkan laporan Global Initiative for Asthma (GINA) tahun 2023, lebih dari 262 juta orang di dunia hidup dengan asma. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola peresepan obat asma pada pasien anak di Rumah Sakit Paru Dr. H.A. Rotinsulu Bandung selama periode Januari 2020 hingga Desember 2024. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan pengambilan data retrospektif dari rekam medis serta catatan resep pasien asma anak usia 0–18 tahun yang terdiagnosis dengan kode ICD-10 J45.x–J46.x. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dan diperoleh 100 data resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi asma pada anak laki-laki sedikit lebih tinggi (52%) dibandingkan anak perempuan (48%). Berdasarkan kelompok usia, kasus asma paling banyak ditemukan pada usia remaja 12–18 tahun (49%). Profil peresepan menunjukkan bahwa golongan obat yang paling sering digunakan adalah Short-Acting Beta Agonist (SABA) sebesar 46%, dengan salbutamol sebagai obat yang paling banyak diresepkan. Selain itu, obat lain yang juga digunakan meliputi Short-Acting Muscarinic Antagonist (SAMA), Inhaled Corticosteroid (ICS), Long-Acting Beta Agonist (LABA), dan Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA).
Profil Pengobatan Berbasis Karboplatin-Paklitaksel pada Pasien NSCLC stadium IV di suatu RS khusus Paru Periode 2023-2024 Eliza Noufal Utami; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Jurnal Riset Farmasi Volume 6, No. 1, Juli 2026, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v6i1.10086

Abstract

Abstract. Advanced-stage non-small cell lung cancer (NSCLC) remains a major clinical challenge, as most patients are diagnosed at an advanced stage and require systemic therapy. Platinum-based chemotherapy, particularly the carboplatin–paclitaxel combination, is still widely used in clinical practice, especially in patients without actionable target mutations. This study aimed to describe patient demographic characteristics and the chemotherapy treatment profile of carboplatin–paclitaxel–based therapy in stage IV NSCLC patients at a specialized lung hospital during the 2023–2024 period. This study employed an observational retrospective design using secondary data obtained from medical records. A total of 135 patients met the inclusion criteria and were included in the analysis. The results showed that most patients were male (72.59%), with the largest age group being 56–65 years (49.63%). The majority of patients were from informal employment backgrounds and presented with advanced clinical conditions, commonly accompanied by chronic obstructive pulmonary disease (52.6%). All patients received carboplatin–paclitaxel chemotherapy administered intravenously at 21-day intervals, while the use of targeted therapy was limited. These findings indicate that platinum-based chemotherapy remains the mainstay of treatment for stage IV NSCLC in routine clinical practice at specialized lung hospitals. Abstrak. Kanker paru non-small cell lung cancer (NSCLC) stadium IV masih menjadi permasalahan klinis utama karena sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut dan memerlukan terapi sistemik. Kemoterapi berbasis platinum, khususnya kombinasi karboplatin–paklitaksel, masih banyak digunakan dalam praktik klinis, terutama pada pasien tanpa mutasi target yang dapat diterapi secara spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik demografi pasien serta profil pengobatan kemoterapi berbasis karboplatin–paklitaksel pada pasien NSCLC stadium IV di suatu rumah sakit khusus paru periode 2023–2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif memanfaatkan data sekunder dari rekam medis. Sebanyak 135 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilibatkan dalam analisis., menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien. Subjek penelitian berjumlah 135 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (72,59%) dengan kelompok usia terbanyak pada rentang 56–65 tahun (49,63%). Sebagian besar pasien berasal dari kelompok pekerjaan informal dan datang dengan kondisi klinis yang sudah lanjut, disertai penyakit penyerta terbanyak berupa penyakit paru obstruktif kronik (52,6%). Seluruh pasien menerima kemoterapi kombinasi karboplatin dan paklitaksel dengan rute intravena dan interval setiap 21 hari, sementara penggunaan terapi target relatif rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kemoterapi berbasis platinum masih menjadi tulang punggung pengobatan NSCLC stadium IV dalam praktik klinis di rumah sakit khusus paru.
Evaluasi Efektivitas Eritropoietin terhadap Respons Hematologi Pasien Gagal Ginjal Kronis Agnia Aulia Syifa; Suwendar Suwendar; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 275 - 284
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24771

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease (CKD) is commonly associated with anemia due to decreased erythropoietin production by the kidneys, resulting in impaired erythropoiesis and reduced hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels. This study aimed to evaluate the effectiveness of erythropoietin-containing combination therapy based on changes in hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels in CKD patients undergoing hemodialysis at Bandung Kiwari Regional Hospital. A descriptive observational study with a retrospective approach was conducted using medical records of 53 patients who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively, while statistical analyses were performed using the Shapiro–Wilk normality test followed by the Wilcoxon test. The results showed that 62% of patients achieved the target hemoglobin response of 0.5–1.5 g/dL. The combination of epoetin alfa and folic acid, as well as epoetin alfa, folic acid, and vitamin B12, significantly increased hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels (p<0.05). In conclusion, erythropoietin-containing combination therapy was effective in improving hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels in CKD patients undergoing hemodialysis. Abstrak. Gagal ginjal kronis (GGK) sering disertai anemia akibat penurunan produksi eritropoietin oleh ginjal yang mengganggu proses eritropoiesis sehingga menyebabkan penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas terapi kombinasi yang mengandung eritropoietin berdasarkan perubahan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Bandung Kiwari periode Januari–Desember 2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis 53 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis statistik dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% pasien mencapai target respons peningkatan hemoglobin sebesar 0,5–1,5 g/dL. Terapi kombinasi epoetin alfa dan asam folat serta kombinasi epoetin alfa, asam folat, dan vitamin B12 meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit secara signifikan (p<0,05). Disimpulkan bahwa terapi kombinasi yang mengandung eritropoietin efektif meningkatkan kadar hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis.
Pola Peresepan Obat Pasien Gagal Jantung Kongestif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Muhammad Ilham Al Ghifari; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 311 - 320
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24807

Abstract

Abstract. Heart failure is a leading cause of global morbidity and mortality, presenting a significant burden on healthcare systems. The complexity of pharmacological therapy for chronic heart failure requires systematic evaluation to ensure clinical effectiveness and medication adherence. This study aims to evaluate the prescribing patterns of primary and adjunctive drugs based on demographic characteristics in congestive heart failure patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the 2025 period. This research is a descriptive observational study with a retrospective cross-sectional design. Samples were obtained through a total sampling technique from the medical records of outpatient cases (ICD-10: 150.0) for the January-December 2025 period. Out of 258 samples, patients were predominantly male (60.85%) and aged 45-64 years (55.04%). The primary heart failure drug prescribing pattern was dominated by diuretics (36.83%) and beta-blockers (25.93%), with the main active ingredients being spironolactone, furosemide, and bisoprolol. Meanwhile, the adjunctive drug prescribing pattern was mostly dominated by antiplatelets (30.84%), statin antidyslipidemics (27.44%), and PPI gastroprotectors (14.12%). Abstrak. Gagal jantung merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global yang memberikan beban signifikan pada sistem pelayanan kesehatan. Kompleksitas terapi farmakologis untuk gagal jantung kronis memerlukan evaluasi sistematis untuk memastikan efektivitas klinis dan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola peresepan obat utama dan obat penunjang berdasarkan karakteristik demografi pada pasien gagal jantung kongestif di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2025. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain cross-sectional retrospektif. Sampel diambil melalui teknik total sampling dari rekam medis pasien rawat jalan (ICD-10: 150.0) periode Januari hingga Desember 2025. Dari 258 sampel, pasien paling banyak adalah laki-laki (60,85%) dan kelompok usia 45–64 tahun (55,04%). Pola peresepan obat gagal jantung utama didominasi golongan diuretik (36,83%) dan beta bloker (25,93%), dengan zat aktif utama spironolakton, furosemide, dan bisoprolol. Sementara itu, pola peresepan obat penunjang terbanyak didominasi oleh golongan antiplatelet (30,84%), antidislipidemia statin (27,44%), dan gastroprotektor PPI (14,12%).
Efektivitas Bisoprolol pada Denyut Jantung Pasien Gagal Jantung di RS X Kintari Nabila; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 391 - 398
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24965

Abstract

Abstract. Heart failure is a cardiovascular disease with high morbidity and mortality rates. Bisoprolol as a beta-blocker is recommended in the treatment of heart failure because it can reduce heart rate and improve patient clinical outcomes. This study aims to evaluate the effectiveness of bisoprolol in the therapy regimen for congestive heart failure on reducing heart rate in Hospital X. This study used an observational analytical method with a retrospective cohort design in 131 patients selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the One-Way ANOVA test with a significance level of p < 0.05. The results showed a significant difference in the average reduction in heart rate between bisoprolol dose groups (p = 0.007). The Tukey HSD test showed that a significant difference was only found between doses of 1.25 mg and 2.5 mg (p = 0.010), with a greater average reduction in heart rate at the 2.5 mg dose. Abstrak. Gagal jantung  merupakan penyakit kardiovaskular dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Bisoprolol sebagai beta-blocker direkomendasikan dalam pengobatan gagal jantung karena dapat menurunkan denyut jantung dan memperbaiki hasil klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas bisoprolol dalam regimen terapi gagal jantung terhadap penurunan denyut jantung di RS X. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain kohort retrospektif pada 131 pasien yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata penurunan denyut jantung antar kelompok dosis bisoprolol (p = 0,007). Uji Tukey HSD menunjukkan bahwa perbedaan signifikan hanya terdapat antara dosis 1,25 mg dan 2,5 mg (p = 0,010), dengan rata-rata penurunan denyut jantung yang lebih besar pada dosis 2,5 mg.
Pengaruh Regimen Terapi Penyakit Jantung terhadap Kadar Kalium di RSUD Welas Asih Provinsi Jawa Barat Periode 2025 Nabila Nuzulhaq Aghnia Fahma; Fetri Lestari; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 967 - 974
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26291

Abstract

Abstract. Potassium balance is important to monitor in cardiovascular disease patients, as changes in potassium levels can affect cardiovascular status. Cardiac drug regimens, particularly diuretics and agents acting on the renin-angiotensin-aldosterone system, may alter potassium levels through different mechanisms, yet outpatient monitoring is often insufficient. This study aimed to describe potassium levels according to cardiac drug regimens among outpatients with cardiovascular disease at Welas Asih Regional Hospital, West Java Province, in 2025. This retrospective observational study used medical records of outpatients with cardiovascular disease as secondary data. Drug regimens were grouped by drug class based on potential effect on potassium balance, and data were processed descriptively to determine the distribution and mean potassium level per group. Of 159 patients, 149 were categorized into the predefined groups. Mean potassium level was 3.91 mEq/L, with hypokalemia in 32 patients (21.48%), normal levels in 116 patients (77.85%), and hyperkalemia in 1 patient (0.67%). The loop diuretic monotherapy group showed the highest hypokalemia proportion (43.75%), while the MRA-ACEI/ARB combination group showed the highest mean potassium and hyperkalemia occurrence (5.88%). Potassium levels varied across regimen groups. Regular monitoring is recommended for patients receiving therapy that may affect electrolyte balance to support treatment safety. Abstrak. Keseimbangan kadar kalium penting dipantau pada pasien penyakit jantung karena perubahan kadar kalium dapat mempengaruhi kondisi kardiovaskular. Regimen obat jantung, terutama diuretik dan obat yang bekerja pada sistem renin-angiotensin-aldosteron, dapat mempengaruhi kadar kalium melalui mekanisme farmakologis berbeda, namun pemantauan pada pasien rawat jalan masih sering kurang diperhatikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kadar kalium berdasarkan regimen obat jantung pada pasien rawat jalan penyakit jantung di RSUD Welas Asih, Provinsi Jawa Barat, tahun 2025. Penelitian observasional retrospektif ini menggunakan data rekam medis pasien rawat jalan penyakit jantung sebagai data sekunder. Regimen obat dikelompokkan berdasarkan golongan obat sesuai potensi pengaruhnya terhadap kadar kalium, lalu data diolah deskriptif untuk melihat distribusi dan rata-rata kadar kalium tiap kelompok. Dari 159 pasien, 149 pasien dapat dikelompokkan sesuai kelompok regimen yang ditentukan. Rata-rata kadar kalium sebesar 3,91 mEq/L, dengan hipokalemia pada 32 pasien (21,48%), kadar normal pada 116 pasien (77,85%), dan hiperkalemia pada 1 pasien (0,67%). Kelompok diuretik loop tunggal menunjukkan proporsi hipokalemia tertinggi (43,75%), sedangkan kelompok kombinasi MRA dengan ACEI/ARB menunjukkan rata-rata kadar kalium tertinggi dan kejadian hiperkalemia sebesar 5,88%. Kadar kalium bervariasi antar kelompok regimen obat jantung. Pemantauan kadar kalium berkala disarankan bagi pasien penerima terapi berpotensi mempengaruhi keseimbangan elektrolit guna mendukung keamanan pengobatan.