Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Kulit Pisang Mas Kirana Varietas Lumajang terhadap Mikroorganisme Patogen Primayanti, Tiara; Nur Rikhma Sari, Dwi
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 4 No. 1 (2025): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v4i1.2310

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak dari kulit buah pisang Mas Kirana yang berasal dari Lumajang terhadap pertumbuhan tiga jenis mikroorganisme, yaitu bakteri Staphylococcus aureus, bakteri Pseudomonas aeruginosa, dan fungi Candida albicans. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui konsentrasi  yang paling optimal dalam menekan pertumbuhan ketiga mikroorganisme tersebut. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan sebagai metode eksperimen, dengan lima tingkat konsentrasi perlakuan (0, 25, 50, 75, dan 100) dalam (%). Data hasil percobaan dianalisis menggunakan uji ANOVA, lalu dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada tingkat signifikansi 95%. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali (triplo). Hasil analisis menunjukkan aplikasi dari ekstrak kulit buah pisang Mas Kirana memiliki pengaruh yang signifikan (p = 0,00) terhadap pertumbuhan ketiga mikroorganisme tersebut. Dari berbagai konsentrasi yang diuji, konsentrasi 100% menunjukkan daya hambat tertinggi terhadap Pseudomonas aeruginosa (13,78 ± 1,53c), Staphylococcus aureus (13,83 ± 0,64c), dan Candida albicans (29,00 ± 2,59c), dibandingkan dengan konsentrasi lainnya.
Analisis In Silico Aktivitas Flavonoid Daun Pegagan (Centella asiatica) Terhadap Enzim β-Secretase (BACE1) Sebagai Target Terapi Alzheimer Risah; Jannah, Miftahul; Primayanti, Tiara; Souhay, Jantje W.
Konservasi Hayati Vol 21 No 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v21i2.43537

Abstract

Penyakit Alzheimer adalah jenis gangguan otak progresif yang menyebabkan penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat akibat penumpukan protein yang disebut beta-amiloid (Aβ) di otak. Enzim yang disebut BACE1 berperan penting dalam pembentukan Aβ, menjadikannya target utama pengembangan pengobatan Alzheimer. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi dua senyawa dari daun Centella asiatica, yang dikenal sebagai alfa-terpineol dan beta-caryophyllene, sebagai inhibitor potensial BACE1 menggunakan metode berbasis komputer. Struktur molekul kedua senyawa ini diperoleh dari basis data PubChem, sementara prediksi aktivitas biologis dan toksisitasnya dilakukan menggunakan perangkat PASS Online dan ProTox-II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alfa-terpineol memiliki aktivitas biologis yang kuat sebagai inhibitor glutamil endopeptidase II (Pa = 0,744) dan ubikuinol-sitokrom-c reduktase (Pa = 0,775), sementara beta-kariofilen dapat berperan sebagai agen antiinflamasi dan stimulator Nrf2 (Pa = 0,722). Uji toksisitas menunjukkan bahwa alfa-terpineol memiliki LD50 sebesar 2830 mg/kg (kategori V) dan beta-kariofilen memiliki LD50 sebesar 5300 mg/kg (kategori VI), yang menunjukkan toksisitas rendah. Kedua senyawa ini juga memiliki kemampuan untuk melewati sawar darah-otak, yang merupakan fitur penting untuk obat yang menargetkan sistem saraf pusat. Oleh karena itu, alfa-terpineol dan beta-kariofilen berpotensi sebagai agen neuroprotektif alami yang dapat menghambat aktivitas BACE1 dan mengurangi pembentukan plak amiloid pada penyakit Alzheimer.
Potensi Pleurotus ostreatus Varietas Grey Oyster dalam Menghambat Pertumbuhan Fungi Patogen pada Bulir Padi Sari, Dwi Nur Rikhma; Maesaroh, Siti; Primayanti, Tiara
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 4 No. 2 (2025): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v4i2.2622

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi Pleurotus ostreatus varietas Grey oyster sebagai agen biokontrol terhadap fungi patogen pada bulir padi. Metode yang digunakan adalah kultur ganda secara in vitro dengan desain true experimental. Identifikasi fungi patogen menunjukkan karakteristik morfologi yang sesuai dengan genus Rhizoctonia. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Pleurotus ostreatus mampu bertahan hidup dalam interaksi kompetitif, namun tidak menunjukkan zona bening sebagai indikator antibiosis. Rata-rata diameter pertumbuhan fungi patogen mencapai 5,1 mm pada hari ke-7, sedangkan Pleurotus ostreatus hanya 2,6 mm. Persentase hambatan menunjukkan nilai negatif hingga -111,95%, menandakan dominasi patogen dalam kompetisi ruang dan nutrisi. Meskipun daya antagonis tergolong rendah, Pleurotus ostreatus tetap memiliki potensi sebagai agen biokontrol yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui optimasi kondisi lingkungan.
Analisis in silico potensi senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L.) sebagai antiiflamasi Sari, Assyifa Kurnia; Jannah, Miftahul; Handayani, Handayani; Primayanti, Tiara
Jurnal Esabi (Jurnal Edukasi dan Sains Biologi) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37301/esabi.v7i2.96

Abstract

Phyllanthus niruri L. atau yang dikenal sebagai tumbuhan meniran merupakan salah satu tumbuhan herbal yang kaya akan senyawa metabolit sekunder dan telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, khususnya sebagai aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi farmakologis dan toksikologis dari senyawa metabolit sekunder meniran, yaitu phyllanthin, hypophyllanthin, dan galic acid melalui pendekatan in silico. Metode yang digunakan dengan melakukan pencarian data senyawa dari database Knapsack, analisis struktur melalui PubChem, prediksi aktivitas biologis menggunakan PASS Online, dan prediksi toksisitas pada senyawa melalui Protox II. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga senyawa memiliki nilai Pa > 0,7 sebagai antiinflamasi. Berdasarkan prediksi toksisitas, ketiga senyawa termasuk dalam kelas toksisitas 4 atau sedikit beracun dengan nilai LD50 antara 500 sampai 2000 mg/kg, galic acid menunjukkan tingkat toksisitas paling rendah. Toksisitas organ spesifik menunjukkan bahwa phyllanthin memiliki profil paling aman karena tidak menghasilkan hepatotoksik, karsinogenik, imunotoksik, mutagenik, dan sitotoksik. Sebaliknya hypophyllanthin dan galid acid menghasilkan potensi imunotoksik dan karsinogenik secara prediktif, namun tetap dalam batas aman.
Studi in silico potensi toksisitas senyawa andrografolid dalam penggunaan terapi diabetes Rinah, Rinah; Jannah, Miftahul; Handayani, Handayani; Primayanti, Tiara
Jurnal Esabi (Jurnal Edukasi dan Sains Biologi) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Bung Hatta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37301/esabi.v7i2.111

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat secara global, sehingga mendorong perlunya pengembangan terapi alternatif yang lebih aman dan efektif. Salah satu pendekatan yang potensial adalah pemanfaatan senyawa alami, seperti andrografolid yang terdapat dalam tanaman Andrographis paniculata. penelitian bertujuan untuk menganalisis potensi toksisitas senyawa andrografolid dalam penggunaan terapi diabetes menggunakan pendekatan in silico melalui protox II. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan prosedur meliputi prediksi toksisitas menggunakan ProTox-II, prediksi aktivitas biologis dilakukan melalui PASS Online berdasarkan struktur kimia senyawa. Hasil menunjukkan bahwa andrografolid berada dalam klasifikasi Toxicity Class IV dengan nilai LD50 sebesar 1190 mg/kg dan diprediksi tidak bersifat mutagenik, sitotoksik, maupun karsinogenik. Namun, terdapat kemungkinan efek hepatotoksik dan imunotoksik yang perlu dikaji lebih lanjut. Sementara itu, PASS Online menunjukkan bahwa andrografolid memiliki potensi aktivitas hepatoprotektif dan antiinflamasi yang kuat, relevan dalam terapi penyakit metabolik seperti diabetes. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan in silico berbasis struktur kimia dapat menjadi strategi awal yang efektif dalam mengevaluasi keamanan dan efektivitas senyawa herbal. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada kombinasi analisis toksikologi dan farmakologi dalam satu pendekatan terpadu.