Tuheteru, Jalipati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN GURITA PADA SUKU BAJO DI KABUPATEN POHUWATO Antu, Yulinda R; Erlansyah, Erlansyah; Tuheteru, Jalipati; Antu, Suprianto
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page99-105

Abstract

Octopus fishermen are communities whose livelihoods rely on octopus catches. In the Bajo Tribe of Pohuwato Regency, many fishermen depend on this activity as their primary source of income. This study aims to analyze the economic benefits obtained from octopus fishing among the Bajo Tribe in Pohuwato Regency. The research was conducted in Torosiaje Village, Popayato District, Pohuwato Regency, over a period of three months, from June to Agustus 2025. This study employed field research with a quantitative approach. Data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative methods, presented in tables and figures, and then discussed in accordance with the research objectives before drawing conclusions. The results show that the total monthly operational cost of octopus fishing is IDR 17,700,000, with an average of IDR 804,545. The total monthly income of octopus fishermen in the Bajo Tribe is IDR 98,560,000, with an average income of IDR 4,480,000. The total monthly profit amounts to IDR 80,860,000, with an average profit of IDR 3,675,454. ABSTRAK Nelayan gurita merupakan kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan gurita. Pada Suku Bajo di Kabupaten Pohuwato terdapat nelayan yang menggantungkan hidupnya terhadap hasil tangkapan gurita. Studi ini dirancang untuk menganalisis tingkat profitabilitas yang diperoleh dari aktivitas penangkapan gurita oleh nelayan Suku Bajo di Kabupaten Pohuwato. Pengambilan data primer untuk penelitian ini dipusatkan di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Pelaksanaan riset ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mencakup periode Juni hingga Agustus 2025. Metodologi yang diaplikasikan adalah field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang terkumpul dianalisis melalui teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk tabel serta gambar, yang selanjutnya dibahas dengan merujuk pada data dan fakta empiris di lapangan guna mencapai tujuan penelitian dan merumuskan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan biaya total operasional penangkapan gurita perbulan yaitu Rp. 17.700.000 dengan rata-rata perbulan sebesar Rp. 804.545, pendapatan nelayan gurita pada Suku Bajo Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. 98.560.000, dan untuk pendapatan rata-rata nelayan gurita sebesar Rp. 4.480.000 dan total keuntungan perbulan bagi nelayan gurita pada Suku Bajo Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. 80.860.000, dan nilai rata-rata sebesar Rp. 3.675.454. Kata Kunci: Nelayan, gurita, Suku Bajo, pendapatan, keuntungan
ANALISIS KANDUNGAN KARBON PADA TUMBUHAN LAMUN DI DESA TOROSIAJE LAUT, KABUPATEN POHUWATO Mamangkay, Bambang; Tuheteru, Jalipati; Podungge, Yulin
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page149-156

Abstract

Seagrass is one of the coastal ecosystems that contributes to blue carbon. This study aims to estimate the carbon content in the seagrass ecosystem in the waters of Torosiaje Village, Popayato District, Pohuwato Regency. Carbon storage estimates were made based on seagrass biomass components, namely rhizomes, roots, and leaves. Sampling was conducted from July to September 2025 using purposive sampling. The samples obtained were analyzed in the laboratory for three days at a temperature of 80-900C. Furthermore, using the Loss on Ignition method, combustion was carried out to see the remaining biomass from the seagrass plants. The results showed that the organic carbon content in each type of seagrass at the study site varied depending on the species and local environmental conditions. Enhalus acoroides, with the highest carbon value of 37.67%, has high and relatively consistent carbon storage potential, while Thalassia hemprichii has 32.87% and Cymodocea rotundata only 29.00%. This shows more varied carbon storage values. These variations reflect the influence of environmental factors, such as hydrodynamics, substrate type, and seagrass stand characteristics. The results of this study confirm the important role of seagrass ecosystems as significant blue carbon sinks, as well as the importance of community-based ecosystem protection and management efforts in coastal areas with blue carbon potential, in order to support ecosystem sustainability and climate change mitigation in the future. ABSTRAK Lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir penyumbang blue carbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetimasi simpanan kandungan karbon pada ekosistem lamun di perairan Desa Torosiaje laut, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Estimasi simpanan karbon dilakukan berdasarkan komponen biomassa lamun yaitu rhizoma, akar dan daun. Pengambilan sampel dilakukan pada Juli-September 2025 dengan menggunakan metode purposive sampling. Sampel yang diperoleh dianalisa di laboratorium selama tiga hari dengan suhu 80-900C. Selanjutnya dengan metode Loss on Ignition, dilakukan pembakaran untuk melihat sisa biomassa dari tanaman lamun. Hasil penelitian menunjukan kandungan karbon organik pada setiap jenis lamun di lokasi penelitian menunjukkan variasi yang dipengaruhi oleh perbedaan spesies dan kondisi lingkungan lokal. Enhalus acoroides dengan nilai karbon teritinggi 37,67% memiliki potensi penyimpanan karbon yang tinggi dan relatif konsisten, sedangkan Thalassia hemprichii 32,87% dan Cymodocea rotundata hanya 29.00%. Hal ini menunjukkan nilai simpanan karbon yang lebih bervariasi. Variasi tersebut mencerminkan pengaruh faktor lingkungan, seperti hidrodinamika perairan, jenis substrat, dan karakteristik tegakan lamun. Hasil penelitian ini menegaskan peran penting ekosistem lamun sebagai penyerap karbon biru yang signifikan, serta menegaskan pentingnya upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem berbasis masyarakat di wilayah pesisir yang memiliki potensi karbon biru, guna mendukung keberlanjutan ekosistem dan mitigasi perubahan iklim di masa mendatang. Kata Kunci: Lamun, karbon organik, karbon biru, ekosistem, aktivitas masyarakat