Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kecerdasan Emosional Nabi Musa AS: Potret Pemimpin Ideal Perspektif Al-Quran: Potret Pemimpin Ideal Perspektif Al-Quran Mushodiq, Muhammad Agus
Tapis: Jurnal Penelitian Ilmiah Vol 2 No 1 (2018): Tapis : Jurnal Penelitin Ilmiah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat of Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/tapis.v2i1.1120

Abstract

This study aims to examine the emotional intelligence of Prophet Musa as the leader of the Children of Israel in Surat al-Qasas. The stories displayed by the Quran are displayed in scriptable language, a language that is difficult to decipher. Based on this fact, the understanding of the story of Prophet Moses in the Qur'an will not be holistic without using the theory of interpretation, one of which is semiotics. To describe the emotional intelligence of Moses Prophet using the theory of semiotics Charles Sanders Peirce synergized with the theory of emotional intelligence Daniel Goleman. Inside Peirce semiotics marks are built on a triadic system. Three triadic points are representamen, object, and interpretan. In the presentation of research results, researchers used qualitative research methods. Description of research data is described with a holistic and radical narrative based on the theory used. The results of this study are (1) Prophet Moses is able to motivate his self and has high optimism, (2) able to overcome the aggressiveness of self, (3) able to overcome anxiety, (4) able to empathize, (5) wise, and (6) able assessing potential and self-awareness.
ANALISIS MA’NA CUM MAGHZA TERHADAP LAFADZ QAṬA‛A DALAM QUR’AN SURAH AL-MA’IDAH AYAT 38 Robert, Ahmad; Prasetiawati, Eka; Mushodiq, Muhammad Agus
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 10 No 02 (2025): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v10i02.9276

Abstract

Pencuri (sāriqah) yang termaktub pada Al-Maidah ayat 38 yaitu surah kelima dalam Al-Qur’an, memuat lafadz qaṭa‛a (potong) telah lama menjadi subjek perbedaan interpretasi. Kesenjangan antara perintah tekstual ini dengan implementasi hukum di negara modern seperti Indonesia, melatarbelakangi penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna historis (ma’na at-tarikhi) lafadz qaṭa‛a, mengetahui pesan utama (maghza at-tarikhi) dan menganalisis kontekstualisasi masa kini (maghza al-mutaharrik al-muasir). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pustaka (library research) dengan kerangka teori hermeneutika ma’na cum maghza. Data primer dianalisis dari tiga kitab tafsir yaitu al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyari, al-Iklil karya KH. Misbah bin Zain al-Mustofa, dan al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga mufasir sepakat pada maghza historis (pembalasan dan pencegahan), namun berbeda pada ma’na dan kontekstualisasi. Al-Zamakhshari menetapkan ma’na linguistik-fiqh (potong pergelangan tangan kanan). KH. Misbah menegaskan ma’na legal-absolut yang menolak kontekstualisasi dinamis. Sebaliknya, Quraish Shihab menawarkan ma’na sosio-historis dan maghza kontemporer yang paling signifikan, yakni memahami hukuman potong tangan sebagai batas maksimal (hadd al-a’la), yang memberi diskresi hakim untuk sanksi alternatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman maghza al-mutaharrik, khususnya melalui pendekatan Quraish Shihab, menawarkan jembatan relevan antara teks wahyu dan sistem hukum kontemporer. Tiga pandangan mufasir tentang lafadz qaṭa‛a dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 38 melalui pendekatan tafsir (linguistik-fiqh, legal-absolut, sosio-historis) menggunakan kerangka ma’na cum maghza menjadi kontribusi praktis dalam penelitian ini.