Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN DAN SOSIALISASI TENTANG BAHAYA PENGELOLAAN LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA PADA KEJADIAN KOMPLIKASI KEHAMILAN PADA IBU HAMIL KELUARGA PETANI DI DESA KALIREJO KECAMATAN NEGERIKATON KABUPATEN PESAWARAN puspita Sari, Ratna Dewi; Utama, Winda Trijayanthi; Sutarto; Putra, Ruchpy Cahya; Mersiana, Putri Febi; Maharani, Calista Putri; Putri, Asyifa Dinda
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 9 No. 2 (2024): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v9i2.3345

Abstract

Sosialisasi mengenai pengelolaan limbah cair rumah tangga sangat penting untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan bayinya. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kalirejo, Kecamatan Negri Katon, Kabupaten Pesawaran, dengan tujuan menyampaikan bahaya pengelolaan limbah yang tidak benar dan cara pencegahan yang tepat terhadap komplikasi kehamilan. Dalam program ini, 50 peserta, termasuk ibu hamil dan anggota masyarakat, berinteraksi melalui ceramah dan sesi tanya jawab yang didukung oleh alat bantu presentasi. Survei awal dilakukan dengan pre-test untuk menilai tingkat kesadaran peserta sebelum intervensi, diikuti dengan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 35,8 (pre-test) menjadi 46 (post-test), dengan kenaikan yang signifikan pada hampir semua pertanyaan, terutama terkait bahaya pengelolaan limbah cair. Untuk lebih meningkatkan efektivitas program, penting untuk melibatkan generasi muda dan menyertakan praktik langsung dalam pengelolaan limbah. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mengurangi risiko kesehatan yang terkait dengan pengelolaan limbah cair rumah tangga. Upaya berkelanjutan dalam edukasi dan pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk mencapai tujuan kesehatan yang lebih baik, terutama bagi ibu hamil dan bayi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Hidrasi Pekerja PT.X Lampung Putra, Ruchpy Cahya; Winda Trijayanthi Utama; Anisa Nuraisa Jausal; Sutarto
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.972

Abstract

Latar Belakang: Iklim kerja panas merupakan risiko kesehatan okupasional signifikan yang dapat mengganggu termoregulasi dan menyebabkan dehidrasi. Kegagalan dalam mengganti cairan yang hilang akibat keringat berlebih dapat meningkatkan suhu inti tubuh dan memicu penyakit akibat panas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan paparan iklim kerja panas, tingkat asupan cairan, dan status hidrasi di kalangan pekerja industri. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional ini dilakukan pada Agustus–November 2025 di departemen cannery, PT. X, Lampung. Sebanyak 100 pekerja berpartisipasi melalui random sampling. Data iklim kerja diukur menggunakan Heat Stress Monitor (ISBB/WBGT), asupan cairan diukur dengan kuesioner, dan status hidrasi dinilai secara objektif melalui Berat Jenis Urin (BJU) menggunakan refraktometer. Hasil: Mayoritas pekerja (80%, n=80) teridentifikasi terpapar iklim kerja panas di atas Nilai Ambang Batas (NAB). Terkait perilaku hidrasi, 41% pekerja (n=41) memiliki asupan cairan yang tidak adekuat (<2.000 ml/hari). Meskipun demikian, sebagian besar pekerja (62%, n=62) ditemukan memiliki status hidrasi normal (BJU <1.026), sementara 38% (n=38) teridentifikasi mengalami dehidrasi. Kesimpulan: Terdapat prevalensi dehidrasi yang substansial (38%) di lokasi penelitian. Temuan bahwa mayoritas pekerja terpapar panas tinggi (80%) namun mayoritas tetap terhidrasi (62%) menunjukkan kemungkinan peran protektif dari asupan cairan yang adekuat (ditemukan pada 59% pekerja) dan proses aklimatisasi panas. Intervensi kesehatan kerja harus difokuskan pada edukasi untuk memperkuat kebiasaan minum (faktor individu) guna mengatasi 38% pekerja yang masih dehidrasi.Â