Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penilaian PONV Pada Pasien Post Apendiktomi Dengan Anestesi Subarachnoid Block Shaumi , Billa Dita; Marzuki, Muhammad Syakir; Khatab
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 3 No. 4 (2025): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v3i4.696

Abstract

Apendisitis adalah kondisi inflamasi yang dialami oleh apendiks vermiformis, yang dalam istilah sehari-hari sering disebut sebagai radang usus buntu. Data epidemiologi nasional menunjukkan bahwa kejadian apendisitis akut di Indonesia mencapai kurang lebih 24,9 per 10.000 penduduk. Tindakan operasi pengangkatan apendiks, atau apendiktomi, secara medis memerlukan prosedur anestesi. Anestesi sendiri merujuk pada suatu proses induksi keadaan tidak sadar dan hilangnya sensasi nyeri, dengan penggunaan obat-obatan sedatif dan analgesik. Salah satu metode anestesi regional yang banyak diaplikasikan ialah Subarachnoid Block (SAB) atau dikenal juga sebagai spinal, yaitu teknik pemberian anestesi lokal melalui injeksi ke rongga subaraknoid pada region lumbal—biasanya di antara vertebra lumbalis 2-3, 3-4, ataupun 4-5 dengan menggunakan pendekatan midline/median atau paramedian, agar tercapai blokade kulit pada dermatom target dan relaksasi otot. Fenomena mual dan muntah yang dialami pasien setelah tindakan pembedahan, dikenal dengan istilah Postoperative Nausea and Vomiting (PONV), umumnya berlangsung dalam rentang waktu 24 hingga 48 jam pascaoperasi. Gejala ini berhubungan erat dengan efek anestesi yang memicu reseptor di Chemoreceptive Trigger Zone (CTZ), yang selanjutnya menstimulasi pusat muntah dan menyebabkan respons mual muntah tersebut. Penelitian yang dilakukan mengadopsi pendekatan deskriptif analitik retrospektif, di mana metode ini dirancang untuk menggambarkan karakteristik suatu fenomena berdasarkan data sampel yang telah dikumpulkan sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien yang menjalani apendiktomi kebanyakan berada di kelompok umur 36-45 tahun (41,2%). Dari segi distribusi gender, laki-laki lebih mendominasi, dengan proporsi 54,4%. Ditemukan pula bahwa sebanyak 42,6% pasien mengalami PONV pascaoperasi apendiktomi. Angka tertinggi insiden PONV ditemukan pada kelompok umur 36-45 tahun, di mana 19,12% di antaranya mengalami muntah. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa faktor usia dan jenis kelamin memiliki keterkaitan dengan tren insiden PONV pada pasien yang menjalani apendiktomi. Kelompok usia produktif, khususnya rentang 26-45 tahun, menunjukkan tingkat prevalensi PONV yang paling tinggi. Di sisi lain, meskipun terdapat variasi risiko menurut gender, perbedaan ini tidak signifikan dalam kaitannya dengan kejadian PONV. Oleh sebab itu, penanganan pasien pascaoperasi hendaknya memperhatikan usia dan jenis kelamin guna mengurangi risiko PONV serta mempercepat proses pemulihan klinis.
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, dan Indeks Massa Tubuh Terhadap Derajat Keparahan Osteoarthritis Genu di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh Fauzi, Ahmad; Khatab; Desreza, Nanda
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 3 No. 4 (2025): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v3i4.634

Abstract

Osteoartritis genu merupakan penyakit degeneratif yang terjadi pada sendi lutut akibat adanya abrasi pada tulang rawan sendi dan pembentukan tulang baru di permukaan persendian. Seiring bertambahnya usia, kapasitas regeneratif tulang rawan menurun, aktivitas sel kondrosit melemah dan terjadi perubahan komposisi matriks ekstraseluler yang menyebabkan berkurangnya elastisitas serta ketahanan sendi terhadap tekanan mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh (IMT) terhadap derajat keparahan OA genu di RSUD Meuraxa Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 50 responden yang dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) yang mengukur aspek nyeri, kekakuan, dan fungsi fisik. Analisa data menggunakan uji univariat dan uji bivariat. Hasil uji univariat menunjukkan distribusi frekuensi OA genu berdasarkan usia paling banyak pada usia >60 tahun (66%), jenis kelamin paling banyak pada Perempuan (78%), IMT paling banyak dengan obesitas (54%) dan derajat keparahan paling banyak yaitu derajat berat (66%). Hasil uji bivariat menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p-value = 0,003), jenis kelamin (p-value = 0,042), dan indeks massa tubuh (p-value = 0,014) terhadap derajat keparahan OA genu.
Hubungan Durasi Kerja dan Beban Kerja Terhadap Tingkat Nyeri pada Pasien Shoulder Pain di Rumah Sakit Umum Cempaka Lima Zulfina, Sari; Rizkidawati; Khatab
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 3 No. 4 (2025): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v3i4.785

Abstract

Shoulder pain merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering dialami dan berkaitan erat dengan faktor pekerjaan, khususnya durasi kerja yang panjang dan beban kerja fisik yang berat. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, serta berdampak pada kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi kerja dan beban kerja terhadap tingkat nyeri pada pasien shoulder pain di Rumah Sakit Umum Cempaka Lima. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 38 pasien shoulder pain yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup karakteristik responden, durasi kerja, beban kerja, serta tingkat nyeri yang diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi, bivariat menggunakan uji Mann-Whitney, serta multivariat dengan regresi logistik ordinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 56–65 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar responden bekerja ≤8 jam per hari, namun responden dengan durasi kerja ≥8 jam cenderung mengalami tingkat nyeri yang lebih berat. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara durasi kerja dan tingkat nyeri (p=0,003), serta antara beban kerja dan tingkat nyeri (p=0,012). Analisis multivariat menunjukkan bahwa durasi kerja ≥8 jam meningkatkan risiko nyeri lebih berat secara signifikan (OR=16,78), sedangkan beban kerja sering juga meningkatkan risiko nyeri (OR=9,55). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa durasi kerja dan beban kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat nyeri pada pasien shoulder pain, dengan durasi kerja sebagai faktor yang paling berpengaruh.