Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Daur Air Perspektif Eko-Teologis: Kajian Komparatif Tafsir al-Rāzī dan Quraish Shihab atas QS. An-Nur [24]:43 Jainah; Sa’adah, Nismah; Warman Mahfuzh, Taufik; Rusdeana; Wahyudi, Ikmal
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 9 No. 2 (2025): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v9i2.443

Abstract

Fenomena air dan siklusnya adalah salah satu tema utama dalam Al-Qur’an, sebagaimana diuraikan dalam QS. An-Nur [24]:43 yang menjelaskan proses pembentukan awan, datangnya hujan, dan munculnya kilat. Ayat ini tidak hanya membawa pesan teologis, tetapi juga memiliki aspek ekologis yang relevan dengan tantangan lingkungan saat ini. Rumusan masalah penelitian ini meliputi: (1) seperti apa penafsiran Fakhruddin al-Rāzī terhadap QS. An-Nur [24]:43, (2) apa pendapat M. Quraish Shihab tentangnya, dan (3) bagaimana keterkaitan keduanya dengan teori siklus air kontemporer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan dan kesamaan antara tafsir klasik dan modern serta mengintegrasikannya dalam sudut pandang eko-teologis. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif melalui studi literatur dengan pendekatan tafsir maudhu'i untuk menulusuri tema air secara tematik dalam Al-Qur’an, dan analisis perbandingan untuk menelaah kesamaan dan perbedaan antara tafsir klasik (al-Rāzī) dan tafsir modern (Quraish Shihab) dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Rāzī fokus pada aspek teologis-filosofis, sementara Quraish Shihab mengaitkan penafsiran tersebut dengan dimensi ilmiah dan ekologis. Sintesis keduanya melahirkan perspektif eko-teologis Qur’ani yang meegaskan hujan sebagai ayat Tuhan sekaligus tanggung jawab ekologis manusia. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi klasik dan modern dalam membangun paradigma tafsir ilmiah menuju tafsir eko-teologis Qur’ani yang relevan dengan isu lingkungan global
Reinterpretation of the Meaning of Qaulan Karĭman: : An Analysis of Q.S. Al-Isra’ (17): 23 Using the Maʿna cum Maghzā Approach Awalia, Dina; Masruroh, Umi; Jainah; Valentino Saputra, Muhammad; Rusdeana; Sa’adah, Nismah; Dasuki, Akhmad
REVELATIA Jurnal Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/revelatia.v7i1.22877

Abstract

The development of digital communication technology has transformed interactions between children and parents, raising the question of how Islamic ethical principles, particularly the concept of qaulan karĭman can be reinterpreted and applied in the context of digital communication. This study examines the meaning of qaulan karĭman in QS. Al-Isra' verse 23 using the maʿna cum maghzā approach, emphasizing understanding of the verse based on its historical meaning (maʿna) and its moral and social significance (maghzā). A qualitative hermeneutic method was employed, with primary data from the Qur'an and classical and contemporary tafsir, and secondary data from literature on digital communication and family ethics. The analysis reveals that qaulan karĭman refers not only to gentle, polite, and respectful speech but also to moral and social objectives, including maintaining parents' dignity, honor, and emotional well-being. The findings indicate that these principles can be applied in digital communication through text messages, chats, or social media, with attention to word choice, timing, emotional expression, and supportive messages. Challenges in digital communication, such as tonal misinterpretation without verbal cues, risks of conflict from delayed messages, and cultural gaps between generations are also discussed. In conclusion, the reinterpretation of qaulan karĭman provides a framework for ethical, harmonious, and empathetic digital communication, affirming that qur’anic values remain relevant and applicable in modern contexts.