Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DISTRIBUSI DAN FAKTOR PENDORONG URBANISASI PENDUDUK KE KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI JALAN AMPERA RAYA, MEDAN TIMUR Sahala Fransiskus Marbun; Asysyifa Qolbi; Ferdi Nanda Sinaga; Geby Maura Simbolon
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urbanisasi menjadi fenomena yang terus meningkat di Kota Medan dan berkontribusi pada berkembangnya kawasan permukiman kumuh, termasuk di Jalan Ampera Raya, Medan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi asal daerah penduduk yang melakukan urbanisasi ke kawasan tersebut, (2) menganalisis distribusi asal daerah penduduk, dan (3) mengetahui faktor-faktor pendorong urbanisasi menuju kawasan permukiman kumuh Jalan Ampera Raya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara terhadap 40 responden pendatang yang menetap di kawasan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penduduk pendatang berasal dari Sumatera Utara (67,5%), diikuti oleh pendatang dari provinsi lain di Pulau Sumatera (25%), serta pendatang dari luar Pulau Sumatera, yaitu Pulau Jawa (7,5%). Distribusi asal daerah menunjukkan pola dominasi migrasi lokal dengan penyebaran terbesar dari kabupaten sekitar Danau Toba dan pantai timur Sumatera Utara, seperti Samosir, Tapanuli Utara, Dairi, Batu Bara, dan Nias. Faktor pendorong urbanisasi yang paling dominan adalah faktor ekonomi dan pekerjaan (52,5%), diikuti motivasi perbaikan hidup dan akses lahan (20%), kebutuhan pendidikan anak (10%), serta alasan lain seperti mengikuti keluarga dan perubahan kondisi rumah sebelumnya. Hasil penelitian menegaskan bahwa rendahnya biaya hidup, akses wilayah, peluang kerja informal, dan jaringan sosial menjadi daya tarik utama kawasan ini bagi penduduk miskin desa maupun kota kecil. Temuan ini memberikan gambaran mengenai dinamika urbanisasi mikro di Kota Medan dan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam penataan kawasan kumuh berbasis kebijakan sosial-ekonomi
Pengaruh Urbanisasi terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Permukiman Kumuh (Slum Area) di Jalan Ampera Raya, Medan Timur: Penelitian Asysyifa Qolbi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4607

Abstract

Urbanisasi yang berlangsung pesat di Kota Medan menyebabkan tumbuhnya kawasan permukiman kumuh sebagai akibat ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan ketersediaan hunian layak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses urbanisasi berkontribusi terhadap terbentuknya permukiman kumuh di Jalan Ampera Raya, Medan Timur, serta mengidentifikasi bentuk perubahan sosial yang muncul sebagai dampaknya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada 50 responden yang merupakan penduduk kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus perpindahan penduduk didominasi oleh alasan ekonomi, terutama keterbatasan lapangan kerja di daerah asal seperti Samosir, Nias, Tarutung, dan Sidikalang. Pendatang memanfaatkan lahan kosong di sekitar rel kereta api untuk membangun hunian sederhana secara swadaya sehingga mendorong terbentuknya permukiman dengan kepadatan tinggi, sanitasi buruk, dan infrastruktur terbatas. Urbanisasi juga memicu perubahan sosial yang signifikan, termasuk pergeseran mata pencaharian dari sektor agraris ke pekerjaan informal, meningkatnya heterogenitas masyarakat, munculnya bentuk solidaritas sosial baru, serta pergeseran pola interaksi dan gaya hidup. Meskipun demikian, dinamika sosial di kawasan ini memperlihatkan kemampuan adaptasi masyarakat dalam kondisi keterbatasan. Penelitian ini menegaskan bahwa urbanisasi bukan hanya menghasilkan persoalan fisik permukiman kumuh, tetapi juga membentuk struktur sosial baru yang kompleks sehingga membutuhkan penataan kawasan dan pendekatan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.