Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karya seni Menghibur Sangiang Serri karya Mukhlis Lugis dalam konteks budaya dan spiritualitas masyarakat Bugis, menggunakan pendekatan semiotika Umberto Eco dan konsep Les lieux de mémoire dari Pierre Nora. Karya seni ini, dipamerkan dalam The Eleventh Asia Pacific Triennial of Contemporary Art, merupakan representasi visual dari ritual tradisional Mappadendang, sebuah ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang melibatkan unsur-unsur budaya agraris Bugis. Melalui analisis semiotika, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana tanda-tanda visual dalam karya seni ini, seperti figur perempuan, padi, dan alat pertanian, merepresentasikan nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan solidaritas sosial dalam masyarakat Bugis. Selain itu, dengan menggunakan konsep les lieux de mémoire, penelitian ini menyoroti bagaimana karya seni ini berfungsi sebagai ruang memori kolektif yang menghidupkan kembali tradisi dan memperkuat identitas budaya Bugis di tengah arus globalisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa karya seni tidak hanya berfungsi sebagai media estetika, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya dan komunikasi lintas budaya yang penting untuk mempertahankan memori kolektif dan identitas lokal. Dengan demikian, karya seni ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, serta antara identitas lokal dan wacana global.