Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Makna “Kami Turunkan Besi”: Analisis Tafsir An-Najjar dan Perspektif Sains Modern Tentang Unsur Besi Di alam Semesta Rahmatunnaimah; Mahfuzh, Taufik Warman
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1462

Abstract

Penelitian ini membahas makna frasa “Kami turunkan besi” dalam QS. Al-Hadid [57]:25 dengan menelaah tafsir Zaghlul An-Najjar serta mengaitkannya dengan penjelasan sains modern. Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual, tetapi juga mengandung isyarat ilmiah yang mendorong manusia untuk memahami fenomena alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis studi kepustakaan, dengan menganalisis literatur tafsir, karya An-Najjar, serta penelitian di bidang astrofisika dan kosmologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa An-Najjar menafsirkan ayat tersebut secara literal, bahwa unsur besi benar-benar “diturunkan” dari luar angkasa melalui proses kosmik. Tafsir ini sejalan dengan teori ilmiah yang menyatakan bahwa besi terbentuk melalui reaksi fusi nuklir dalam bintang-bintang raksasa dan tersebar ke seluruh alam semesta akibat ledakan supernova. Fakta tersebut memperkuat kebenaran wahyu yang telah diisyaratkan Al-Qur’an jauh sebelum ditemukan oleh ilmu modern. Kesimpulannya, terdapat keselarasan antara wahyu dan sains, tafsir ilmiah tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab sains, tetapi sebagai sumber inspirasi ilmiah yang memadukan iman, akal, dan ilmu. Pendekatan ini menegaskan paradigma epistemologi Islam integratif, di mana wahyu dan sains saling melengkapi dalam menjelaskan kebesaran Allah dan fenomena alam semesta.
Konsep Nasakh Dalam Tafsir Al-Azhar Dan Tafsir Al-Misbah: Studi Komparatif Pemikiran Mufasir Indonesia Modern Rahmatunnaimah; Faridatunnisa, Nor; Fujiantie, Jerina
Syams Vol 6 No 1 (2025): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Faculty Ushuluddin, Adab, and Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/49yzka39

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep nasakh (penghapusan atau perubahan hukum) dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab sebagai representasi dua paradigma besar dalam tafsir Indonesia modern. Perbedaan penafsiran terhadap ayat-ayat yang dianggap mengalami nasikh-mansukh menjadi problem klasik dalam studi Al-Qur’an, terutama terkait relevansi hukum Islam terhadap konteks sosial kontemporer. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pergeseran paradigma tafsir dari pendekatan normatif-tekstual menuju pendekatan kontekstual yang menekankan maqāṣid al-syarī‘ah dan nilai-nilai sosial. Permasalahan utama penelitian ini ialah bagaimana kedua mufasir memahami konsep nasakh serta sejauh mana pendekatan mereka mencerminkan evolusi metodologi tafsir modern di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis komparatif berbasis hermeneutika kontekstual. Data diperoleh melalui studi pustaka terhadap teks kedua tafsir dan literatur pendukung. Analisis dilakukan dengan menelusuri ayat-ayat hukum, khususnya QS. Al-Baqarah [2]:106, serta meninjau konteks sosial dan epistemologis para mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka memahami nasakh sebagai proses gradualisme hukum dan pendidikan moral umat, sedangkan Quraish Shihab menafsirkan nasakh sebagai perubahan konteks, bukan pembatalan hukum secara mutlak. Keduanya merefleksikan pergeseran paradigma tafsir Indonesia dari model normatif-tekstual menuju pendekatan kontekstual-rekonstruktif yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan studi tafsir Nusantara dengan menegaskan pentingnya integrasi antara otoritas teks, konteks sosial, dan tujuan syariat dalam memahami dinamika hukum Islam modern.
Integral Terhadap Pemikiran Hermeneutis Nasr Hamid Abu Zayd: Atas Tafsir Kontekstual QS. An-Nisā’ [4]:3” Rahmatunnaimah; Ade Afriansyah
EL-MAQRA' Vol 6 No 1 (2026): Mei
Publisher : IAIN KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/elmaqra.v6i1.13327

Abstract

This study aims to critically analyze Nasr Hamid Abu Zayd’s hermeneutical approach in interpreting Q.S. An-Nisa [4]:3 and to compare it with classical exegesis. This research employs a qualitative approach using library research and hermeneutic-philosophical analysis. The findings reveal that classical tafsir generally interprets the verse within a normative-legal framework as a basis for the permissibility of polygamy, limited by numerical restriction and the condition of justice. In contrast, Abu Zayd offers an ethical-contextual interpretation, viewing the verse as a form of restriction on pre-Islamic polygamous practices that leads toward justice and a tendency toward monogamy. The comparative analysis shows that the difference lies not only in the interpretive outcomes but also in their epistemological foundations, where classical tafsir is oriented toward legal stability, while Abu Zayd’s approach is dynamic and context-sensitive. The critical evaluation indicates that Abu Zayd’s hermeneutics is relevant to contemporary issues but faces challenges, particularly the risk of interpretive relativism and the reduction of the transcendental dimension of revelation. Therefore, his approach should be positioned as a critical complement to classical exegesis in developing contemporary Qur’anic studies.