This study examines the mappasikarawa tradition in Bugis marriage practices in North Morowali, with an emphasis on its cultural meanings, embedded values, and its contribution to strengthening cross-cultural education. Mappasikarawa is understood as a customary practice that symbolizes the union of individuals and families, while also embodying ethical values such as siri’ na pacce (dignity and social empathy), lempu’ (honesty), and getteng (steadfastness of principles), which serve as the foundation of Bugis social life. This research employs a qualitative approach using ethnographic methods, including in-depth interviews, participant observation, and cultural documentation. The findings indicate that the mappasikarawa tradition continues to be preserved through adaptive customary practices without diminishing its fundamental values. The main contribution of this study lies in interpreting mappasikarawa as a source of cultural pedagogy that functions as a form of informal education in transmitting values of tolerance, respect for diversity, and multicultural awareness. Thus, the mappasikarawa tradition plays a strategic role in supporting the development of cross-cultural education based on local wisdom and in strengthening local cultural identity within a pluralistic society.ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tradisi mappasikarawa dalam pernikahan masyarakat bugis di Morowali Utara dengan menekankan pada pemaknaan budaya, nilai-nilai yang terkandung, serta kontribusinya terhadap penguatan Pendidikan lintas budaya. Mappasikarawa dipahami sebagai praktik adat yang mempresentasikan penyatuan individu dan keluarga, sekaligus memuat nilai etis seperti siri’na pace (martabat dan empati sosial), lempu’(kejujuran), dan getting (keteguhan prinsip) yang menjadi landasan kehidupan sosial masyarakat bugis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi budaya. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi Mappasikarawa masih di lestarikan melalui praktik adat yang adaptif tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pemaknaan mappasikarawa sebagai sumber pedagogi budaya, yang berfungsi sebagai media Pendidikan informal dalam mentransmisikan nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan kesadaran multikultural. Dengan demikian, tradisi Mappasikarawa memiliki peran strategi dalam mendukung pengembangan Pendidikan lintas budaya berbasis kearifan lokal, serta memperkuat identitas budaya lokal dalam konteks masyarakat plural.