Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Madu sebagai Terapi Komplementer pada Balita dengan Diare: Literature Riview Eki Nurhakiki; Miftahul Falah S.kep.,Ns.,MSN.Ph.d
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 2 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v2i6.7408

Abstract

Diarrhea in toddlers, characterized by more than three watery stools per day, often leads to dehydration, electrolyte imbalance, and increased morbidity, making effective management essential. Standard treatments such as oral rehydration salts (ORS) and zinc are beneficial, yet symptom improvement may occur slowly, prompting the need for safe and accessible complementary therapies. Honey, a natural substance rich in enzymes, simple carbohydrates, and antibacterial compounds, has the potential to accelerate recovery by supporting mucosal healing and enhancing rehydration. This literature review aimed to analyze evidence regarding the effectiveness of honey as a complementary therapy for diarrhea in toddlers by reviewing articles published from 2020 to 2025 through Google Scholar and the Garuda Portal using the keywords “intervention,” “honey therapy,” “diarrhea,” and “children.” The results of the literature riview produced five articles met the inclusion criteria, consisting of original studies with pre-experimental, quasi-experimental, or case study designs involving toddlers aged 1–5 years who received oral honey as an intervention. Thematic analysis showed that all included studies reported a decrease in stool frequency and improved stool consistency within 2–3 days of honey administration, along with increased appetite and improvement in mild clinical symptoms. These findings indicate that honey can serve as an effective complementary therapy to support diarrhea management in toddlers. However, further research using randomized controlled trials with larger sample sizes is needed to strengthen the existing clinical evidence.
LITERATURE REVIEW: EFEKTIVITAS LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA PASIEN STROKE BERDASARKAN MANUAL MUSCLE TESTING (MMT) Eki Nurhakiki; Taofiq Hidayat; Ida Rosidawati
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Januari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/yw8v5h54

Abstract

Stroke merupakan salah satu penyebab kecacatan utama di dunia dan sering menimbulkan kelemahan otot yang berdampak pada penurunan kemampuan fungsional pasien. Di Indonesia, tingginya angka kejadian stroke menunjukkan perlunya intervensi rehabilitatif yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot. Latihan Range of Motion (ROM) merupakan tindakan keperawatan yang banyak digunakan untuk mempertahankan mobilitas sendi dan memperbaiki fungsi neuromuskular, sedangkan Manual Muscle Testing (MMT) merupakan alat ukur standar untuk menilai kekuatan otot. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas latihan ROM terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke berdasarkan penilaian MMT. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelusuri artikel lima tahun terakhir melalui database Google Scholar dan Portal Garuda menggunakan kata kunci “stroke”, “Range of Motion (ROM) ”, “muscle strength”, dan “Manual Muscle Testing”. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi melalui analisis isi dan ekstraksi data. Hasil kajian menunjukkan bahwa latihan ROM, baik aktif maupun pasif, secara konsisten meningkatkan skor MMT 1–2 tingkat dan memperbaiki kemampuan motorik pasien. Peningkatan ini terjadi melalui mekanisme stimulasi neuromuskular, peningkatan aliran darah, dan pemeliharaan elastisitas jaringan. Simpulan dari kajian ini adalah bahwa latihan ROM efektif meningkatkan kekuatan otot berdasarkan pengukuran MMT dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan dasar dalam rehabilitasi pasien stroke. Penelitian lanjutan dengan desain eksperimen yang lebih kuat diperlukan untuk memperkuat bukti yang ada.
LITERATURE REVIEW: EFEKTIVITAS LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA PASIEN STROKE BERDASARKAN MANUAL MUSCLE TESTING (MMT) Eki Nurhakiki; Taofiq Hidayat; Ida Rosidawati
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Januari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/p4dk5a85

Abstract

Stroke merupakan salah satu penyebab kecacatan utama di dunia dan sering menimbulkan kelemahan otot yang berdampak pada penurunan kemampuan fungsional pasien. Di Indonesia, tingginya angka kejadian stroke menunjukkan perlunya intervensi rehabilitatif yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot. Latihan Range of Motion (ROM) merupakan tindakan keperawatan yang banyak digunakan untuk mempertahankan mobilitas sendi dan memperbaiki fungsi neuromuskular, sedangkan Manual Muscle Testing (MMT) merupakan alat ukur standar untuk menilai kekuatan otot. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas latihan ROM terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke berdasarkan penilaian MMT. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelusuri artikel lima tahun terakhir melalui database Google Scholar dan Portal Garuda menggunakan kata kunci “stroke”, “Range of Motion (ROM) ”, “muscle strength”, dan “Manual Muscle Testing”. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi melalui analisis isi dan ekstraksi data. Hasil kajian menunjukkan bahwa latihan ROM, baik aktif maupun pasif, secara konsisten meningkatkan skor MMT 1–2 tingkat dan memperbaiki kemampuan motorik pasien. Peningkatan ini terjadi melalui mekanisme stimulasi neuromuskular, peningkatan aliran darah, dan pemeliharaan elastisitas jaringan. Simpulan dari kajian ini adalah bahwa latihan ROM efektif meningkatkan kekuatan otot berdasarkan pengukuran MMT dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan dasar dalam rehabilitasi pasien stroke. Penelitian lanjutan dengan desain eksperimen yang lebih kuat diperlukan untuk memperkuat bukti yang ada.