Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

JALAN SEHAT SEBAGAI RUANG INTERAKSI DAN LITERASI KESEHATAN MASYARAKAT DESA BANDING Pitra Gosha Patriasya; Ahmad Dimyati Ridwan; Marwal Blantara Susetyo; Aulia Tegar Wicaksono
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 11 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi November
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/q1kyhx97

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana kegiatan jalan sehat berfungsi sebagai ruang interaksi sosial sekaligus media peningkatan literasi kesehatan masyarakat Desa Banding. Fenomena ini menjadi penting karena masyarakat desa umumnya lebih mudah menerima informasi kesehatan dalam suasana informal dibandingkan melalui pendekatan formal. Penelitian menggunakan metode kualitatif jenis studi kasus dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama kegiatan berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial terbangun secara kuat melalui percakapan spontan, kebersamaan lintas usia, dan solidaritas yang muncul saat warga berjalan bersama. Jalan sehat juga menjadi ruang belajar kesehatan yang natural, terlihat dari antusiasme warga membaca banner kesehatan, materi edukasi dari sponsor IM3, hingga percakapan informal antarwarga mengenai pola hidup sehat. Kolaborasi antara panitia desa, komunitas pemuda, dan sponsor memperkuat keberhasilan acara dan menciptakan suasana yang inklusif. Dampak kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran kesehatan, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan mendorong motivasi warga untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin. Penelitian ini menegaskan bahwa kegiatan komunal seperti jalan sehat dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan melalui pendekatan berbasis partisipasi dan kebersamaan. Temuan ini memberikan implikasi bagi desa dan lembaga kesehatan untuk menjadikan kegiatan sosial sebagai media edukasi yang lebih relevan dan dekat dengan pola hidup masyarakat.
SOSIALISASI QRIS BERSAMA BANK MANDIRI SEBAGAI UPAYA TRANSFORMASI PEMBAYARAN DIGITAL DI DESA BANDING Pitra Gosha Patriasya; Ahmad Dimyati Ridwan; Marwal Blantara Susetyo; Aulia Tegar Wicaksono
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 11 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi November
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/6f1he379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses, respons peserta, dan dampak sosialisasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang dilaksanakan bersama Bank Mandiri di Desa Banding, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini didorong oleh semakin pentingnya inklusi keuangan digital, terutama di wilayah pedesaan yang kerap menghadapi tantangan literasi teknologi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan secara mendalam melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Informan kunci dipilih secara purposive yang terdiri dari perwakilan warga, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perangkat desa, dan edukator dari Bank Mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman awal masyarakat mengenai konsep pembayaran digital masih terbatas dan secara signifikan dipengaruhi oleh rasa takut terhadap risiko kesalahan transaksi dan kekhawatiran mengenai keamanan data pribadi. Namun, proses sosialisasi yang dirancang secara sistematis dengan penekanan kuat pada demonstrasi dan praktik langsung yang dibimbing mampu mengatasi hambatan psikologis dan teknis tersebut. Bank Mandiri berperan sangat penting sebagai sumber informasi yang terpercaya dan otoritatif, yang membantu menguatkan pemahaman peserta mengenai kemudahan dan keamanan QRIS. Respons peserta menunjukkan peningkatan antusiasme dan kepercayaan diri dalam mencoba teknologi baru. Dampak kegiatan terlihat dari meningkatnya minat yang nyata dari masyarakat dan pelaku UMKM untuk segera mengadopsi dan mengimplementasikan penggunaan QRIS dalam transaksi harian mereka, yang merupakan indikator keberhasilan yang kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sosialisasi QRIS yang terstruktur dan kolaboratif efektif dalam mendorong adopsi teknologi keuangan di tingkat desa serta memiliki potensi besar untuk mendukung percepatan transformasi digital pada sektor ekonomi lokal, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Rekonstruksi Model Murid Mubadir (Inisiator): Analisis Pedagogis Kisah Sulaiman dan Hud-hud (QS. An-Naml: 20-28) Ahmad Dimyati Ridwan; Cucu Surahman; Elan Sumarna; Zakia Fitri Nabila; Intan Wardatul Karimah
Mu'allim Vol 8 No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/spmedt54

Abstract

Studies on the concept of the disciple in the Qur'an are often dominated by the "obedient learner model" extracted from the story of Moses and Khidr. Although ethically important, this paradigm is insufficient to address the demands of modern education that emphasize initiative, independence, and critical thinking. This study identifies this pedagogical gap and aims to reconstruct an alternative model to address it. Using qualitative literature study methods and a thematic tafsir approach, this study analyzes in depth the interaction between Prophet Solomon and the Hud-hud (QS. An-Naml [27]: 20-28), enriched with rhetorical analysis (balaghah) and expert views. The results present a prototype of the "Murid Mubadir" (Initiator Disciple), characterized by proactive initiative in seeking knowledge, intellectual courage in reporting findings, systematic analysis, and a sense of responsibility. On the other hand, Prophet Solomon represents the "Wise Teacher" who is open to new information while upholding the principle of verification (tabayyun). This study concludes that the Qur'an offers a polyphonic, not monolithic, concept of the disciple. The story of Hud-hud provides an empowering pedagogical paradigm for Islamic Religious Education (PAI) to shape learners who are not only civilized, but also critical, proactive, and in tune with 21st-century skills.