Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keadilan Sosial dan Life Satisfaction: Studi tentang Perceived Social Justice Generasi Muda di Era Digital Rumangkang, Filadelfia; Pangkey, Wilfred Audric Clief; Hermawan, Chatlia Putri; Angow, Madeline Natali; Purba, Sherena Yemima; Dariyo, Agoes
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4075

Abstract

Era digital telah menghadirkan dinamika psikologis yang semakin kompleks, khususnya bagi generasi muda yang hidup dalam arus informasi tanpa batas. Media sosial memberikan akses yang luas terhadap isu-isu keadilan sosial, memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi, menyuarakan pendapat, dan membangun solidaritas. Namun, paparan informasi yang intens juga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara persepsi keadilan sosial dan kepuasan hidup generasi muda dalam konteks era digital modern. Menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian melibatkan lima partisipan berusia 18–21 tahun yang aktif menggunakan media digital dan memiliki ketertarikan pada isu-isu keadilan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadilan sosial dipandang sebagai landasan penting bagi terciptanya kepuasan hidup. Partisipan merasa lebih sejahtera ketika melihat nilai-nilai kesetaraan, penghargaan, dan perlindungan hak diterapkan secara adil dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, paparan berlebihan terhadap konten sosial, terutama mengenai ketidakadilan atau konflik, dapat memicu kelelahan emosional, frustrasi, serta penurunan kesehatan mental. Media digital sekaligus menjadi ruang pemberdayaan psikologis dan sumber stres, tergantung bagaimana individu berinteraksi dengan informasi tersebut. Selain itu, dukungan sosial dari komunitas, baik secara daring maupun luring, terbukti memperkuat kesejahteraan psikologis dan membantu individu menghadapi tekanan emosional. Penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital, kemampuan mengelola emosi, dan regulasi diri agar generasi muda mampu tetap seimbang dalam menghadapi arus informasi. Selain itu, nilai-nilai keadilan sosial perlu diterapkan melalui pendekatan yang inklusif dan adaptif sehingga relevan dengan tantangan era digital. Temuan ini menyoroti perlunya intervensi edukatif dan dukungan komunitas untuk menjaga kesejahteraan psikologis generasi muda.
Gambaran Makna Kerja pada Pekerja Kreatif Digital Rumangkang, Filadelfia; Suyasa, P. Tommy Y. Sumatera
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5685

Abstract

Sektor kreatif digital menempatkan pekerja pada kondisi kerja dengan tenggat waktu ketat, tuntutan multitasking, serta budaya kerja yang selalu aktif. Namun demikian, banyak pekerja kreatif digital tetap melaporkan tingkat pemaknaan kerja yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna kerja pada pekerja kreatif digital dengan menelaah dimensi-dimensinya serta proses pembentukan makna kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 103 pekerja kreatif digital, dengan instrumen Work and Meaning Inventory (WAMI; Steger et al., 2012) dan Tarumanagara Meaning in Life Scale versi adaptasi (TaruMiLS; Suyasa, 2008). Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memetakan kecenderungan pemaknaan kerja pada tingkat dimensi, sekaligus memahami sumber makna kerja yang dominan dalam pengalaman kerja sehari-hari. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa, meskipun dihadapkan pada tuntutan kerja yang signifikan, pekerja kreatif digital memersepsikan pekerjaannya sebagai sesuatu yang bermakna secara personal. Makna kerja terutama terbentuk melalui keterlibatan yang konsisten dalam proses kerja kreatif, bukan semata-mata melalui ketiadaan tuntutan atau kondisi kerja yang ideal. Persepsi berbasis proses ini selanjutnya diperkuat oleh penilaian positif terhadap pekerjaan, rasa berkembang, serta pengalaman bahwa aktivitas kreatif yang dijalani memiliki arah dan nilai bagi diri. Selain itu, makna kerja juga berkaitan dengan perasaan berkontribusi melampaui kepentingan pribadi, misalnya ketika karya dianggap bermanfaat bagi orang lain, mendukung tujuan organisasi, atau memberi dampak sosial yang lebih luas. Secara keseluruhan, temuan penelitian menegaskan pentingnya peran proses kreatif dalam mempertahankan makna kerja di tengah tuntutan kerja digital yang tinggi.