Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penguatan Nilai-Nilai Pancasila sebagai Ideologi Bangsa untuk Mencegah Radikalisme dan Intoleransi di Kalangan Mahasiswa Darmawan, I Gusti Ngurah Sandy Esa; Prasetya, Dini Amelia Rahmawati; Suroso, Hafiz Ellyan; Rani, Fiska; Febriyani, Mutia
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4313

Abstract

Radikalisme dan intoleransi di lingkungan perguruan tinggi Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat dalam satu dekade terakhir sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ideologi bangsa dan identitas kebangsaan generasi muda. Mahasiswa menjadi kelompok yang rentan karena berada dalam fase pencarian jati diri, mudah terpapar arus informasi digital yang tidak terverifikasi, serta aktif dalam jejaring organisasi intra maupun ekstra kampus yang berpotensi menjadi ruang masuknya ideologi ekstrem. Penelitian ini bertujuan menganalisis penguatan nilai-nilai Pancasila sebagai strategi ideologis dalam mencegah radikalisme dan intoleransi pada mahasiswa melalui metode meta-analisis kualitatif. Sebanyak 24 artikel dan laporan penelitian bertema radikalisme mahasiswa, pendidikan Pancasila, dan strategi kontra-ekstremisme yang diterbitkan antara 2010–2020 dianalisis untuk mengidentifikasi pola, cara kerja radikalisasi, dan efektivitas program pencegahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan nilai Pancasila terbukti efektif melalui tiga pendekatan utama, yaitu: (1) internalisasi nilai secara reflektif dan dialogis melalui pembelajaran kritis-progresif, sehingga mahasiswa mampu memaknai nilai kebangsaan secara kontekstual; (2) integrasi nilai toleransi dan kebhinekaan ke dalam kegiatan kemahasiswaan untuk menciptakan kultur kampus yang inklusif; dan (3) kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan lembaga pemerintah dalam menjalankan program pencegahan ekstremisme berbasis kampus. Studi ini berkontribusi pada pengembangan model pencegahan radikalisme di perguruan tinggi berorientasi Pancasila serta memberikan implikasi penting untuk perumusan kebijakan pendidikan tinggi, pembaruan kurikulum Pancasila, dan penguatan ekosistem kampus yang moderat dan berkeadaban.
THE ROLE OF HBA1C IN CHRONIC KIDNEY DISEASE PROGRESSION IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS: A LITERATURE REVIEW Prasetya, Dini Amelia Rahmawati; Prasetya, Fajar Ahmad
HEARTY Vol 14 No 1 (2026): FEBARURI
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v14i1.22507

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a leading cause of chronic kidney disease (CKD), contributing significantly to global morbidity, mortality, and healthcare burden. Glycemic control, primarily assessed by hemoglobin A1c (HbA1c), has traditionally been considered essential for preventing microvascular complications, including diabetic kidney disease (DKD). However, the relationship between HbA1c and CKD progression in patients with established CKD remains complex and controversial, particularly in advanced stages. This literature review, conducted according to PRISMA 2020 guidelines, systematically examined evidence from 10 selected studies (published 2013–2025) exploring the role of HbA1c in CKD progression among patients with T2DM. Studies included observational cohorts, longitudinal analyses, and one review, encompassing diverse populations and CKD stages. Key findings indicate that in early-to-moderate CKD (stages 1–3/4), higher mean HbA1c levels consistently predict faster eGFR decline and increased risk of progression, supporting the benefit of stricter glycemic control in these stages. In advanced CKD (stages 4–5), intensive glycemic control shows limited renal protective effects, with stronger associations observed for reducing cardiovascular events and mortality rather than slowing renal progression. HbA1c variability emerged as an independent predictor of adverse renal outcomes, including microalbuminuria development, non-linear eGFR trajectories, and rapid progression to end-stage kidney disease, potentially mediated by oxidative stress. Additionally, HbA1c reliability decreases in severe CKD due to altered red blood cell turnover and anemia, suggesting the need for alternative markers such as fructosamine. Patient factors, including African-Caribbean ethnicity, further modify these relationships. HbA1c plays a stage-dependent role in CKD progression in T2DM. Clinical management should prioritize individualized, stage-specific targets, emphasize glycemic stability, incorporate alternative monitoring tools in advanced disease, and account for patient-specific risk factors to optimize outcomes while minimizing hypoglycemia risk.
THE ASSOCIATION BETWEEN FERRITIN LEVELS AND INFECTION IN PATIENTS WITH β-THALASSEMIA : A LITERATURE REVIEW Prasetya, Dini Amelia Rahmawati; Raharjo, Budiono
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.53871

Abstract

Transfusi darah kronis pada pasien β-thalassemia sering kali menyebabkan penumpukan zat besi (iron overload) yang secara klinis umumnya tercermin dari meningkatnya ferritin serum sebagai penanda cadangan besi tubuh. Selain merefleksikan beban besi, peningkatan ferritin juga dapat mencerminkan proses patologis yang berkontribusi terhadap peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Tinjauan literatur naratif ini bertujuan untuk menganalisis bukti ilmiah terkini (2020–2025) mengenai hubungan kadar ferritin tinggi/iron overload dengan kerentanan risiko infeksi pada pasien β-thalassemia serta mekanisme yang mendasarinya. Pencarian dilakukan melalui PubMed (via NCBI) dan Google Scholar, lalu disintesis secara naratif berdasarkan relevansi dan kualitas temuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ferritin tinggi berasosiasi dengan peningkatan kejadian dan kerentanan infeksi, terutama pada iron overload berat, berasosiasi dengan peningkatan kejadian infeksi seperti pneumonia, infeksi bakteri Gram-negatif, dan sepsis. Temuan mekanistik mengindikasikan disfungsi imun bawaan dan adaptif (gangguan neutrofil, perubahan subset monosit, serta perubahan profil sel NK pada kondisi tertentu seperti pasca splenektomi), disbiosis mikrobiota usus dan perubahan metabolit, serta disfungsi organ seperti gangguan hati, gangguan jantung dan disfungsi tubulus ginjal. Secara keseluruhan, kadar ferritin tinggi berpotensi meningkatkan risiko infeksi pada pasien β-thalassemia melalui kombinasi multifaktorial seperti ketersediaan besi bagi bakteri siderofilik, disbiosis mikrobiota, gangguan respons imun, dan disfungsi organ, namun interpretasinya perlu mempertimbangkan status inflamasi dan komorbid.